Serius Menangkan Wahono-Nurul, DPC PKB Bojonegoro Gelar Konsolidasi, Hadirkan 2500 Pengurus di Dua Tempat Berbeda

JagatSembilan.com | Bojonegoro – Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Bojonegoro benar-benar serius memenangkan Setyo Wahono dan Nurul Azizah sebagai Bupati Bojonegoro periode 2024-2029.

Setyo Wahono dianggap sebagai representasi dari kader NU terbaik saat ini, selain itu juga melihat Nurul Azizah juga kaya akan pengalaman birokrasi sehingga sangat tepat mengusung putra-putri asli Bojonegoro itu.

Berjubel, peserta Konsolidasi Pemenangan WanNur oleh PKB Bojonegoro

Keseriusan PKB dibuktikan hari ini dengan menggelar konsolidasi kolosal akbar yang dilaksanakan di dua tempat berbeda.

Tempat pertama adalah Gedung Serbaguna Jl. KH. Mansyur Bojonegoro. Di gedung Serbaguna itu dimulai pukul 09.00 WIB diikuti oleh 15 Dewan Pengurus Anak Cabang (DPAC) PKB dan Dewan Pengurus Ranting (DPRT) dibawah 15 DPAC PKB itu, dengan jumlah peserta 1500 orang.

Tempat Kedua adalah Gedung Islamic Center Jl. Panglima Polim Bojonegoro. Di gedung Islamic Center itu dimulai pukul 13.00 WIB diikuti oleh 13 DPAC PKB dan DPRT dibawah DPAC PKb tersebut. Dengan jumlah peserta sebanyak 1000 orang.

Hadir dalam konsolidasi kolosal akbar , Ketua dan Sekretaris DPC PKB Bojonegoro Fauzan Fuadi dan Abdulloh Umar, Ketua Dewan Syuro PKB Bojonegoro, KH. Sohib Soim, beserta 13 anggota DPRD Bojonegoro Fraksi PKB.

Abdulloh Umar (Berdiri di Mimbar) saat menyampaikan laporan kegiatan pada acara Konsolidasi pemenangan WanNur oleh PKB Bojonegoro

Sekretaris DPC PKB Abdulloh Umar menyampaikan kepada para hadirin bahwa keputusan mengusung Cabup – Cawabup Wahono – Nurul telah melalui proses yang ketat dan sangat panjang. Tidak tiba – tiba dan tidak pula menghalalkan segala cara.

“Jadi ketika DPP memutuskan mengusung Mas Wahono dan Bu Nurul ini prosesnya alamiah, tidak ada istilah yang menjatuhkan satu sama lain, sehingga DPP menginstruksikan kepada seluruh pengurus mulai dari DPC, DPAC, Ranting, kader, dan simpatisan untuk memenangkan Wahono – Nurul,” kata Abdulloh Umar.

Sementara Ketua Dewan Syuro PKB Bojonegoro, KH. Sohib Soim memberikan arahan kepada seluruh peserta bahwa Setyo Wahono adalah tokoh yang akan menjadi pemimpin menggantikan Anna Mu’awanah.

“Saya berpesan, jika yang dijalankan Pak Wahono nanti sesuai program yang telah ditentukan, insyallah barokah sampai akhir jabatan,” ujar pengasuh Pondok Pesantren Nurul Falah Desa Sumbertlaseh, Kecamatan Dander ini.

Sedangkan Ketua DPC Bojonegoro, Fauzan Fuadi meminta kepada seluruh jajaran yang hadir agar sepulang dari konsolidasi segera langsung mensosialisasikan keputusan DPP bahwa cabup dan cawabup PKB adalah Wahono – Nurul Azizah ke masyarakat.

“Surat Keputusan dari DPP ini sudah final dan mengikat, bantu meningkatkan tingkat keterpilihan Mas Wahono dan Bu Nurul Azizah,” tuturnya.

Fauzan juga mengungkapkan bahwa PKB Bojonegoro setidaknya sudah memiliki modal kurang lebih sekira 200 ribu suara. Selain itu kepada seluruh kader ditegaskan bahwa PKB tidak ada strategi belok kanan belok kiri. Sebab tertuang dalam surat keputusan sangat jelas untuk memenangkan Wahono – Nurul.

“Kalau ada siapapun yang misalnya belum mengikuti keputusan partai ini, silakan yang bersangkutan disampaikan ke DPC untuk dilakukan tindakan – tindakan pendisiplinan,” tegas Fauzan.

Relax, Setyo Wahono saat menyampaikan sambutan acara konsolidasi pemenangan WanNur oleh PKB Bojonegoro

Bacabup Setyo Wahono, memaparkan tentang tagline “Bojonegoro Makmur dan Membanggakan”. Diawali dengan menukil data besaran APBD Bojonegoro yang mencapai Rp8,2 triliun. Postur anggaran pendapatan dalam APBD ini paling besar masih ditopang oleh pendapatan transfer dari Dana Bagi Hasil (DBH) Migas.

Sedangkan pada sisi Pendapatan Asli Daerah (PAD) baru berkisar Rp900 miliar. Oleh karena itu bisa dibayangkan, jika sewaktu-waktu minyak tak lagi diproduksi dan tidak lagi mendapat DBH Migas, maka kemungkinan besar Bojonegoro tak bakal bisa membangun.

“Sebab pendapatan yang dimiliki Bojonegoro akan habis hanya untuk anggaran belanja rutin, oleh sebab itu jangan sampai hal itu terjadi,” ucap Wahono.

Putra asli Desa Dolokgede, Kecamatan Tambakrejo ini melanjutkan, arah pembangunan selama lima tahun terakhir pembangunan di Bojonegoro hanya berkutat hanya untuk popularitas pemimpinnya. Belum menyentuh pada peningkatan kualitas SDM dan kesejahteraan.

“Nanti insyaallah semua akan kami top up (tingkatkan) peningkatan kualitas sumber daya manusianya, dimulai dari kualitas pendidikan, honor pendidik, pendidikan pesantren, sampai kepada peningkatan kesejahteraan menyesuaikan anggaran yang ada,” terang Wahono.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *