JagatSembilan.com | Bojonegoro – Dr. KH. M. Faiz Syukron Makmun Katib Syuriah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) hari ini, Selasa isi materi Penguatan tentang Ahlussunnah wal Jama’ah (Aswaja). Acara itu dilaksanakan di Auditorium Hasyim Asy’ari Universitas Nahdlatul Ulama Sunan Giri (Unugiri), Jl. Jend. Ahmad Yani No. 10 Bojonegoro Jawa Timur.
Acara itu dihadiri oleh KH. Ahmad Maimun Syafi’i Rois Syuriah Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU), KH. Hilmi Aljumadi Katib Syuriah PCNU, dr. Kholid Ubed Sp. PD Ketua PCNU, K.M. Jauharul Ma’arif, M.Pd.I. Rektor Unugiri beserta jajarannya, dan juga Pengurus Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWCNU) se Kabupaten Bojonegoro.
Acara itu mengambil tema “Internalisasi Nilai-nilai Aswaja Dalam Kehidupan Sehari-hari”.
Dr. KH. Faiz Syukron Makmun Katib Syuriah PBNU dalam paparannya mengatakan, internalisasi nilai Aswaja adalah tujuan hidup dari semua orang ketika belajar Aswaja.
“Internalisasi Aswaja ini dimulai dari penguasaan apa itu Aswaja. Kalau santri datang ke pesantren, kalau mahasiswa datang ke kampus itu adalah start awal yang namanya penguasaan nilai Aswaja,” terang Gus Faiz sapaan akrab dari Dr. KH. Faiz Syukron Makmun.
Beliau menambahkan, setelah penguasaan nilai Aswaja yang selanjutnya adalah pendalaman dari nilai Aswaja.
“Yang terakhir adalah penghayatan pengamalan dari nilai Aswaja dalam kehidupan sehari,” terang Gus Faiz
Pada kesempatan tanya jawab, Ahmad Rifqi Azmi, salah satu dosen Unugiri memberikan usulan pada PBNU untuk membuat kaidah turunan dari Khosois Nahdhiyah.
“Khosois yang ada terlalu umum, dan perlu diturunkan dalam kaidah-kaidah juz’i/parsial,” terang Gus Rifqi.
Menurut Gus Rifqi, ibarat qowaidul fiqih, tawasuth, tawazun, i’tidal itu adalah kulliyatul khoms, jadi butuh banyak turunan kaidahnya. Hal itu untuk menghindari kesalahpahaman tentang khosois NU.
“Sebab, likulli qaidah mustasnayat. Setiap kaidah pasti punya pengecualian,” terang Gus Rifqi.
K.M. Jauharul Ma’arif, M.Pd.I Rektor Unugiri dalam keterangannya mengatakan, sebagai warga NU yang sudah memahami nilai Aswaja, acara itu dimaksudkan supaya nilai Aswaja bisa merasuk.
“Setelah merasuk dalam diri kita, bisa dipraktekkan dalam kehidupan sehari-hari,” terang Gus Arif sapaan akrab dari K.M. Jauharul Ma’arif, M.Pd.I.
Menurut Gus Arif, nilai Aswaja tidak melulu pada amaliah agama saja, tetapi ada dalam setiap sendi kehidupan sehari-hari.
“Dalam bidang ekonomi, politik dan seterusnya, semuanya harus memakai ajaran dari Ahlusunnah wal jamaah,” terang Gus Arif.













