PMII: Rumah Gagasan yang Tak Pernah Padam

Oleh: Choirul Anam 

Setiap kali tanggal 17 April datang, hati saya selalu terasa hangat. Ada getar yang tak bisa dijelaskan hanya dengan kata-kata. Mungkin karena pada tanggal itulah, 17 April 1960, sebuah organisasi lahir dari rahim Nahdlatul Ulama—organisasi yang kelak menjadi ruang tumbuh bagi banyak mahasiswa, termasuk saya: Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII).

 

Saya memang bukan kader PMII yang sempurna. Bahkan, kalau ukuran “sempurna” itu adalah pernah jadi pengurus, saya jelas tidak masuk kategori. Di tingkat rayon pun saya tidak sempat mencicipi jabatan. Tapi, saya tetap merasa menjadi bagian dari PMII. Bukan karena saya pernah memegang jabatan struktural, tapi karena saya pernah mengenyam proses pengkaderan di dalamnya—dan itu, bagi saya, lebih dari cukup untuk membentuk cara pandang dan cara hidup.

 

Saya masih ingat pertama kali ikut MAPABA. Semangat saya waktu itu campur aduk antara rasa ingin tahu dan ketakutan: ini organisasi apa? Kenapa teman-teman begitu antusias? Tapi begitu materi demi materi disampaikan, saya mulai sadar, bahwa saya sedang duduk dalam kelas ideologi yang tidak main-main. PMII mengajarkan bagaimana menjadi mahasiswa yang tidak sekadar kuliah, tapi juga berpikir, bersikap, dan mengambil peran dalam perubahan.

 

Dari MAPABA, saya melangkah ke PKD. Di situ, suasana semakin serius. Diskusi-diskusi tidak lagi hanya soal organisasi, tapi sudah masuk ke wilayah pemikiran, ideologi, pergerakan sosial, dan tantangan kebangsaan. PMII bukan hanya mengajari saya berpikir, tapi juga mengasah kepekaan sosial. Bahwa kemiskinan bukan sekadar angka statistik. Bahwa ketimpangan bukan sekadar wacana kampus. Semuanya nyata, dan mahasiswa harus punya keberpihakan.

Itulah nilai-nilai yang masih saya rasakan hingga hari ini. Bahkan ketika saya sudah tidak lagi aktif dalam kegiatan PMII, nilai-nilainya tetap hidup dalam cara saya memandang dunia. PMII mengajarkan saya untuk tidak apatis, tidak sekadar menerima realitas, tapi juga berani bertanya, merumuskan, dan bertindak.

Bagi saya, PMII adalah rumah gagasan. Tempat di mana kita belajar berpikir, berdialektika, dan bertumbuh. Kita diajak untuk tidak mudah puas dengan jawaban sederhana. Kita diajak untuk membaca ulang sejarah, menimbang ulang realitas, dan memaknai ulang peran kita sebagai mahasiswa Islam Indonesia.

Yang menarik, PMII tidak pernah memaksa kita menjadi siapa-siapa. Tidak ada kewajiban untuk menjadi pengurus agar dianggap kader sejati. Selama kita mau belajar, berdiskusi, dan bergerak dalam semangat yang sama, kita adalah bagian dari rumah besar itu. Dan itu yang membuat saya merasa dekat, meskipun tidak pernah punya jabatan.

Kini, puluhan tahun sejak kelahirannya, PMII tetap bergerak. Dari kampus ke kampus, dari kota ke kota, dari ruang diskusi ke ruang aksi. Ia terus melahirkan kader-kader yang berpikir kritis dan bertindak progresif. Ia tetap menjadi harapan di tengah gelombang pragmatisme yang melanda banyak organisasi mahasiswa.

PMII bukan tanpa masalah. Dinamika internal, tantangan eksternal, dan perubahan zaman tentu selalu menguji daya tahan organisasi ini. Tapi di tengah semua itu, saya percaya satu hal: selama semangat independensi, keislaman, dan keindonesiaan tetap dijaga, PMII akan terus menjadi organisasi yang relevan dan dibutuhkan.

Maka di hari lahir PMII ini, izinkan saya menyampaikan satu hal sederhana: terima kasih. Terima kasih telah menjadi ruang belajar yang luar biasa. Terima kasih telah mengajari saya cara berpikir, bersikap, dan bertindak. Meskipun saya bukan pengurus, saya merasa cukup beruntung pernah menjadi bagian dari gerakannya.

Dan kepada para kader yang hari ini sedang bertugas di rayon, komisariat, cabang, atau bahkan hanya sibuk di balik layar diskusi kecil, percayalah: setiap langkah kalian berarti. Jabatan bukan ukuran, tapi kesetiaan pada nilai adalah segalanya.

Selamat harlah PMII. Teruslah menjadi rumah gagasan, tempat dialektika tak pernah padam, dan pergerakan tak pernah berhenti. Karena selama masih ada mahasiswa yang peduli pada perubahan, PMII akan selalu hidup—dalam pikiran, dalam sikap, dan dalam tindakan.

 

Penulis adalah Choirul Anam, Aktifis Muda NU yang juga Ketua PAC GP Ansor Balen. Selain itu dia merupakan Aktifis Ekonomi NU dengan menjadi Direktur BMT NU Balen

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *