Oleh: Choirul Anam
Bayangkan jika Raden Ajeng Kartini lahir di tahun 2005. Mungkin ia akan duduk di bangku SMA sambil sesekali membuat konten edukatif di TikTok, mengulas feminisme, mengkritik patriarki, atau mengajak diskusi soal pendidikan perempuan. Mungkin juga ia rajin menulis di blog atau X (dulu Twitter), menyuarakan keresahan tentang dunia yang masih belum sepenuhnya adil bagi perempuan.
Hari ini, kita tidak lagi bicara tentang Kartini sebagai sosok masa lalu dengan kebaya dan sanggulnya yang anggun. Kita berbicara tentang Kartini masa kini—Kartini generasi Z—yang hidup dalam dunia serba digital, penuh kemajuan tapi juga tantangan baru yang tak kalah rumit. Mereka lahir di era internet cepat, media sosial, dan perubahan budaya yang sangat dinamis. Tapi, apakah nasib perjuangan Kartini ikut berubah? Atau justru makin kompleks?
Kartini Z dan Dunia Serba Terhubung
Generasi Z adalah generasi yang lahir antara tahun 1997 hingga 2012. Mereka tumbuh bersama internet, akrab dengan gadget, dan punya akses informasi tak terbatas. Dalam konteks emansipasi, Kartini Z punya peluang emas. Mereka bisa belajar dari mana saja, bisa menyuarakan pendapatnya tanpa harus menunggu diterbitkan di surat kabar kolonial seperti Kartini dulu. Namun di sisi lain, dunia digital juga melahirkan tantangan baru: standar kecantikan semu, cyberbullying, dan ilusi kesempurnaan yang ditebar lewat media sosial.
Kartini Z tidak hanya menghadapi patriarki klasik, tapi juga patriarki digital. Misalnya, masih banyak konten yang merendahkan perempuan, mempersempit peran perempuan hanya sebatas fisik atau peran domestik. Di balik layar kaca, perempuan masih sering diposisikan sebagai objek, bukan subjek. Tantangan ini tentu tak kasat mata, tapi dampaknya nyata.
Pendidikan dan Ekspektasi Sosial
Jika Kartini zaman dulu berjuang agar perempuan bisa sekolah, Kartini Z hari ini menghadapi PR yang berbeda: bagaimana bertahan di dunia pendidikan yang kompetitif, kadang tidak ramah pada kesehatan mental, dan sering kali bias gender. Misalnya, masih ada anggapan bahwa perempuan tidak cocok masuk jurusan teknik atau STEM (sains, teknologi, engineering, dan matematika). Padahal, kemampuan tidak punya jenis kelamin.
Selain itu, ekspektasi sosial terhadap perempuan masih berat: harus cerdas tapi tidak terlalu dominan, harus aktif tapi tetap “sopan”, harus mandiri tapi tidak “terlalu galak”. Perempuan muda sering kali terjebak dalam standar ganda yang membingungkan. Di sinilah perjuangan Kartini Z menjadi sangat penting: membebaskan diri dari belenggu ekspektasi yang membatasi potensi.
Kartini Z: Antara Dilema dan Perlawanan
Namun jangan salah. Kartini Z bukan generasi yang diam. Mereka justru kreatif dalam menyuarakan perubahan. Mereka menciptakan ruang-ruang diskusi di podcast, menggelar forum daring, bahkan mengadvokasi isu-isu perempuan dari balik layar laptop. Mereka menolak didikte oleh norma usang, tapi tetap tahu cara meresapi nilai-nilai budaya.
Lihat saja bagaimana gerakan perempuan muda di media sosial menyuarakan isu kekerasan seksual, pelecehan di kampus, hingga ketimpangan di dunia kerja. Banyak dari mereka yang tak segan membuka suara, melawan ketidakadilan dengan cara yang santun tapi mengena. Mereka tidak lagi bertanya “bolehkah?”, tapi mengatakan “kami akan”.
Harapan Kartini Z untuk Masa Depan
Kartini Z adalah harapan. Mereka membawa semangat emansipasi ke babak baru yang lebih segar dan inklusif. Mereka menyadari bahwa perjuangan perempuan bukan hanya soal bisa sekolah atau bekerja, tapi juga soal mendapatkan hak yang sama untuk menentukan jalan hidupnya—apakah itu menjadi ilmuwan, seniman, ibu rumah tangga, atau apapun yang mereka pilih sendiri.
Harapan masa depan ada pada keberanian Kartini Z untuk terus bertanya, “kenapa tidak?”, dan pada solidaritas mereka untuk saling mendukung. Dunia perempuan bukan panggung persaingan, tapi ruang kolaborasi. Ketika satu perempuan maju, ia membuka jalan bagi yang lain untuk ikut melangkah.
Kita juga perlu dukungan dari semua pihak—orang tua, guru, pemerintah, media, hingga dunia usaha—agar semangat Kartini Z tidak padam di tengah jalan. Perubahan besar tak bisa dikerjakan sendirian. Diperlukan ekosistem yang ramah perempuan, dari kebijakan pendidikan yang adil, ruang kerja yang setara, hingga representasi perempuan yang bermakna dalam politik dan pengambilan keputusan.
Penutup: Surat untuk Kartini Z
Jika Kartini bisa menulis surat kepada para Kartini Z hari ini, mungkin ia akan berkata: “Teruskan perjuanganku, tapi dengan caramu sendiri. Jangan takut berbeda, jangan diam melihat ketidakadilan. Gunakanlah pena dan pikiranmu, walau kini medianya adalah layar ponsel. Sebab kemajuan perempuan bukan hanya tentang apa yang bisa kita capai, tapi juga tentang siapa yang kita bantu untuk ikut maju.”
Dan pada akhirnya, menjadi Kartini Z bukan soal lahir di zaman digital, tapi soal keberanian melawan batasan dan memperjuangkan mimpi. Dengan gaya mereka yang santai, memes, dan reels, mereka tetap membawa nyala api Kartini—dalam versi yang lebih kekinian dan penuh warna.
Penulis adalah Choirul Anam, Aktifis Muda NU yang juga Ketua PAC GP Ansor Balen. Selain itu dia merupakan Aktifis Ekonomi NU dengan menjadi Direktur BMT NU Balen













