Catatan Pribadi: Tentang “Ngesot”, Amplop, dan Cara Kami Menghormati Kiai

Oplus_131072

Oleh: Miftahul Amin

Ada hal-hal yang tidak akan pernah dimengerti oleh mereka yang tidak pernah nyantri. Tentang bagaimana kami menghormati guru, tentang cara kami menundukkan kepala, atau bahkan ketika kami melangkah dengan penuh takzim di hadapan kiai. Semua itu bukan bentuk perbudakan. Itu adalah wujud cinta, adab, dan penghambaan ilmu yang kami pelajari sejak pertama kali menapakkan kaki di pondok pesantren.

Namun baru-baru ini, sebuah tayangan di Trans7 justru menampilkan narasi yang menyinggung dan merendahkan tradisi luhur itu. Kalimat “ngesot” yang digunakan secara sembrono dalam konteks penghormatan kepada kiai, menjadi bukti betapa dangkalnya pemahaman sebagian insan media terhadap dunia pesantren. Framing yang dibangun seolah menggambarkan santri sebagai sosok yang bodoh, tak berdaya, dan tak mampu berpikir rasional — padahal yang sesungguhnya terjadi jauh berbeda.

Kami para santri menunduk bukan karena disuruh. Kami tidak merendah karena takut. Kami melakukannya dengan kesadaran penuh, sebagai bentuk ikhtiar meraih ridho guru, yang melalui doa dan ilmunya menuntun kami menjadi manusia yang bermanfaat. Adab itulah yang menjadi pembeda kami: belajar bukan sekadar menumpuk pengetahuan, tapi juga memuliakan sumber ilmu.

Dan bagi kami, penghormatan kepada kiai serta pondok pesantren bukan hanya urusan spiritual. Ia juga bagian dari penghargaan terhadap sejarah panjang perjuangan bangsa. Dari rahim pesantren lahir para pejuang kemerdekaan, ulama, dan tokoh bangsa yang mengorbankan segalanya demi tegaknya NKRI.

Kita tidak boleh lupa pada peran besar KH. Hasyim Asy’ari, pendiri Nahdlatul Ulama, yang pada 22 Oktober 1945 mengeluarkan Resolusi Jihad, seruan bagi umat Islam untuk mempertahankan kemerdekaan Indonesia dari penjajah. Dari pesantren pula berkumandang tekad para santri dan kiai untuk menjaga tanah air, menegakkan keadilan, dan mempertahankan kehormatan bangsa.

Maka, ketika kami menunduk di hadapan kiai, itu bukan tanda kebodohan. Itu adalah bentuk kesadaran sejarah — bahwa kami hidup dalam kedamaian lahir batin berkat perjuangan dan doa para ulama serta kiai pesantren.

Begitu pula soal amplop, yang sering disalahartikan. Bagi kami, pemberian amplop bukanlah bentuk upah, apalagi suap. Amplop itu tidak pernah diminta oleh kiai, tidak pula menjadi kebiasaan yang diwajibkan. Itu hanyalah cara santri menitipkan sebagian kecil, sangat kecil dari rezeki yang dimiliki kepada kiai — dengan harapan mendapat keberkahan hidup. Kami sadar, nilai materi dalam amplop itu sama sekali tidak sebanding dengan peran kiai dan pesantren terhadap kami. Amplop itu sekadar simbol cinta dan terima kasih, bukan nilai ekonomi.

Sayangnya, Trans7 gagal memahami dimensi itu. Mereka menilai dengan kacamata dunia yang serba materi, tanpa menyelami makna batin di balik tradisi pesantren yang dijaga dengan penuh adab dan keikhlasan.

Tayangan semacam itu bukan hanya melukai hati para santri, tetapi juga menodai makna luhur hubungan murid dan guru. Media seharusnya hadir sebagai jembatan pemahaman, bukan perusak harmoni nilai yang telah berakar dalam kebudayaan bangsa.

Saya memandang, permintaan maaf terbuka dari Trans7 adalah langkah bijak untuk memulihkan luka moral yang telah ditimbulkan walau itu belum cukup. Dunia pesantren telah menjadi benteng moral bangsa — dari sinilah lahir para ulama, pejuang, dan pemimpin yang menjaga Indonesia tetap beradab.

Menghormati kiai bukanlah bentuk kebodohan. Itu adalah kesadaran batin. Kesadaran bahwa ilmu tanpa adab adalah kesombongan, dan adab tanpa ilmu adalah kebutaan. Maka biarlah kami tetap menunduk — bukan karena diperintah siapa pun, tetapi karena kami tahu di sanalah letak kemuliaan seorang santri.

 

Penulis Miftahul Amin, seorang Banser di Satkorcab Bojonegoro yang juga Satkorwil Jatim. 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *