MENGHADAPI FITNAH KEBOHONGAN AKHIR ZAMAN

Oplus_131072

Oleh: Ahmad Rifqi Azmi

Dalam sebuah hadis dijelaskan bahwa suatu hari saat Nabi saw. mengajar di hadapan para sahabat, beliau didatangi malaikat Jibril yang menjelma sebagai seorang lelaki berbaju putih bersih dan berambut hitam pekat. Jibril yang menyamar itu bertanya empat hal, : Apa itu iman? Apa itu islam? Apa itu ihsan? dan kapan terjadinya kiamat. Semua pertanyaan itu dijawab tuntas oleh Nabi saw. kecuali nomor empat, Nabi saw. tidak menjawabnya akan tetapi hanya menjelaskan tanda-tanda menjelang terjadinya. Di akhir hadis, ketika lelaki jelmaan Jibril itu pergi, Rasulullah bertanya kepada Umar bin Khattab, Apakah kamu tahu siapa lelaki itu? Lalu, Rasulullah berkata:

هَذَا جِبْرِيلُ، جَاءَ يُعَلِّمُ النَّاسَ دِينَهُم (رواه البخاري)

Lelaki itu adalah Jibril, datang (kesini) untuk mengajarkan manusia agama mereka (HR. Bukhari)

Dalam hadis tersebut Nabi saw. menjelaskan bahwa pertanyaan-pertanyaan yang ditanyakan Jibril tersebut merupaka din (al-din). Dari sini, banyak ulama menyimpulkan bahwa inti dari agama itu ada 3. Pertama: īmān (akidah), kedua islām (fikih atau panduan laku dzāhir), ketiga: ihsān (panduan laku batin). Namun, sayang sekali, tidak sedikit yang mengabaikan aspek ke empat dalam hadis tersebut, yaitu tentang kekacauan-kekacauan menjelang hari kiamat dan petunjuk Nabi saw. terkait apa yang harus kita lakukan ketika kekacauan-kekacauan itu muncul.

Aspek-Aspek Kekacauan yang Dijelaskan dalam Ahādīts al-Fitan

Ahādīts al-Fitan adalah hadis-hadis yang yang menginformasikan tentang kekacauan-kekacauan yang muncul menjelang hari kiamat tiba. Biasanya, dalam kitab hadis induk seperti Bukhari Muslim, ada bab tersendiri terkait hadis-hadis ini. Bahkan sebuah kitab hadis belum bisa disebut sebagai Jāmi’ (hadis-hadisnya lengkap), jika tidak memuat hadis ahadisul fitan. Ini menunjukkan betapa ahadisul fitan ini penting dipelajari, sebab selain Nabi saw. menjelaskan kekacauan yang akan terjadi, beliau juga menjelaskan bagaimana cara kita bersikap ketika menjumpai masa kekacauan itu.

Di antara fitnah-fitnah yang dijelaskan Nabi saw.:

1. Kekacauan dalam bidang akidah.

Misalnya Nabi saw. menjelaskan, “Akan ada menjelang kiamat manusia yang di kala pagi masih mukmin, sorenya sudah kafir. Sorenya masih mukmin, manya menjadi kafir. (HR. Ahmad)

2. Kekacauan dalam bidang pendidikan.

Misalnya Nabi saw. bersabda “Allah mencabut ilmu dengan mewafatkan para ulama. Hingga apabila tidak menyisakan seorang alim pun, manusia pun menjadikan orang-orang bodoh sebagai pemimpin. Mereka ditanya, lalu memberi fatwa tanpa ilmu, maka mereka sesat dan menyesatkan.” (HR. Bukhari)

3. Kekacauan dalam aspek ekonomi

Misalnya Nabi saw. bersabda “Akan datang suatu masa di mana manusia tidak peduli dari mana ia mengambil harta, apakah dari halal atau haram.” (HR. Bukhārī)

4. Kekacauan dalam aspek politik

Misalnya Nabi saw. bersabda “Barangsiapa yang melihat sesuatu yang tidak menyenangkan dari pimpinannya, hendaknya ia bersabar -jangan memberontak- (HR. Bukhari)

5. Kekacauan dalam Tata Surya

Misalnya Nabi saw. bersabda, “Kiamat tidak akan terjadi sebelum matahari terbit dari arah barat (HR. Ahmad)

6. Dan banyak fitnah atau kekacauan dalam bidang-bidang lainnya.

Hadist banyaknya kebohongan di akhir zaman

Di antara fitnah atau kekacauan itu adalah kekacauan dalam berita dan informasi. Kita sulit membedakan benar tidaknya berita yang kita terima, seperti yang terjadi saat ini, tatkala begitu banyak berita yang tersiar di Media Sosial, Televisi, Facebook, YouTube, WhatsApp, dan lainnya, tatkala kita tidak bisa membedakan mana kabar hoaks dan mana kabar yang nyata.

Jauh-jauh hari, 1400 tahun yang lalu, Rasulullah saw. sudah mengabarkan hal ini

سَيَأْتِي عَلَى النَّاسِ سَنَوَاتٌ خَدَّاعَاتُ، يُصَدَّقُ فِيهَا الْكَاذِبُ، وَيُكَذَّبُ فِيهَا الصَّادِقُ، وَيُؤْتَمَنُ فِيهَا الْخَائِنُ، وَيُخَوَّنُ فِيهَا الْأَمِينُ، وَيَنْطِقُ فِيهَا ‌الرُّوَيْبِضَةُ» ، قِيلَ: وَمَا ‌الرُّوَيْبِضَةُ؟ قَالَ: «الرَّجُلُ التَّافِهُ فِي أَمْرِ الْعَامَّةِ (رواه ابن ماجه)

Artinya: “Akan datang kepada manusia tahun-tahun penuh tipu daya; pendusta dipercaya, orang jujur dianggap dusta, pengkhianat dipercaya, orang amanah dianggap pengkhianat, dan Ruwaybiḍhah berbicara.” Sahabat bertanya: “Apa itu Ruwaybiḍhah?” Nabi menjawab: “Orang bodoh yang berbicara tentang urusan publik.” (HR. Ibn Mājah)

Bagaimana Petunjuk Nabi SAW. ketika Ketika Kita Menjumpai Zaman itu?

Tidaklah Nabi saw. meninggal dunia -intaqala ilā al-rafīq al-a’lā- melainkan beliau telah menjelaskan semua perkara yang dapat mendekatkan diri kepada Allah, dan menjelaskan bagaimana cara menghindar dari fitnah yang dapat menjerumuskan umatnya ke dalam neraka. Termasuk, Nabi saw. juga telah menjelaskan kepada umatnya tentang bagaimana bersikap ketika fitnah kekacauan informasi dan berita ini. Di antaranya adalah:

1. Selektif menerima berita

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓاْ إِن جَآءَكُمۡ فَاسِقُۢ بِنَبَإٖ فَتَبَيَّنُوٓاْ أَن تُصِيبُواْ قَوۡمَۢا بِجَهَٰلَةٖ فَتُصۡبِحُواْ عَلَىٰ مَا فَعَلۡتُمۡ نَٰدِمِينَ [الحجرات: 6]

“Wahai orang-orang yang beriman! Jika datang kepada kalian seorang fasik membawa suatu berita, maka telitilah kebenarannya, agar kalian tidak menimpakan musibah kepada suatu kaum karena kejahilan, lalu kalian menjadi menyesal atas apa yang telah kalian lakukan.” (QS. Al-Hujurat 6)

Ayat ini mengajarkan kita untuk selektif dalam menerima berita, mengkroscek dan bertabayyun pada sumberberita. Agar apa? Agar kita tidak menyesal ketika mengambil tindakan dari berita bohong yang kita terima.

Dulu, tidak sedikit sahabat yang termakan kabar bohong terkait perbuatan serong Sayyiah Aisyah dengan sahabat mulia Rasulullah saw. yang bernama Shafwan bin Muatthal ra. Hampir-hampir suku Muhajirin dan Anshar berperang kembali karena kabar bohong ini. Hingga, terlacaklah bahwa ini adalah kabar bohong yang dihembuskan oleh tokoh munafiq bernama Abdullah bin Ubay bin Salul. Dan, Allah pun menurunkan ayat ini agar umat Rasulullah saw. selamat dari fitnah berita bohong.

2. Menjadikan Qur’an dan Sunnah sebagai tolok ukur kebenaran.

Yang kedua adalah jika kabar yang kita terima terbukti benar terjadi, langkah selanjutnya adalah bagaimana cara kita menilai kabar tersebut, apakah penilaian kabar itu berdasarkan adat yang berlaku di masyarakat, ketika masyarakat menilai baik baka kita nilai baik, ketika masyarakat menilai buruk kita nilai buruk? Jawabannya adalah dengan al-rujū’ ilā al-nash (menjadikan al-Qur’an dan Assunnah untuk memberikan penilaian). Allah Ta’ala berfirman:

فَإِن تَنَٰزَعۡتُمۡ فِي شَيۡءٖ فَرُدُّوهُ إِلَى ٱللَّهِ وَٱلرَّسُولِ إِن كُنتُمۡ تُؤۡمِنُونَ بِٱللَّهِ وَٱلۡيَوۡمِ ٱلۡأٓخِرِۚ (سورة النساء 59)

“Maka apabila kalian berselisih tentang sesuatu, kembalikanlah ia kepada Allah dan Rasul, jika kalian benar-benar beriman kepada Allah dan hari akhir.”

Tolak ukur kebenaran bukanlah akal, tolak ukur kebenaran bukanlah adat istiadat, tolak ukur kebenaran adalah al-Qr’an dan Sunnah. Jika keduanya mengatakan baik, maka baik, jika keduanya mengatakan buruk maka buruk. Betapa banyak manyarakat saat ini yang menilai sesuatu baik karena sesuatu itu uang berlaku di masyarakat, tanpa mencocokkannya pada al-Quran dan Sunnah.

Seperti kabar yang tersiar akhir akhir ini ditelevisi terkait katanya Kyai-Kyai pesantren menerapkan praktek feodalisme. Kita harus merujuk kepada al-Qur’an wa Sunnah, bagaimana para sahabat menghormati Rasulullah. Imam Baihaqi meriwayatkan:

إذا ‌تكلم ‌أطرق ‌جلساؤه كأنما على رؤوسهم الطير (رواه البيهقي)

Artinya: “Apabila beliau (Nabi ﷺ) berbicara, para sahabat yang duduk bersamanya menundukkan kepala mereka (dengan penuh perhatian), seakan-akan ada burung di atas kepala mereka.” (HR. Baihaqi)

Para ulama’ adalah waratsah anbiya’. Bagaimana adab sahabat kepada Rasulullah saw. itulah adab seorang murid kepada ulama’.

Ada pula riwayat cerita Abdullah bin ‘Abbas ra. menghormati Zaid bin Tsabit al-Anshari. Zaid bin Tsabbit adalah salah seorang sahabat Nabi saw. yang terkenal kepakarannya dalam qiraat dan tafsir al-Quran. Untuk menghormati ulama’ ahlul qur’an ini, suatu waktu Abdullah bin Abbas menuntunkan kendaraan Zaid bin Tsabit al-Anshari. Ketika ditanya kenapa beliau melakukan itu? Beliau menjawab:

هَكَذَا أُمِرْنَا أَنْ نَفْعَلَ بِعُلَمَائِنَا

Artinya: “Seperti inilah kami dahulu diperintahkan untuk memuliakan para ulama kami”

Apa yang dilakukan santri-santri Lirboyo kepada Kyainya, KH. Anwar Mansur, seorang ulama’ besar yang zuhud dan wara’ itu, dan para santri umumnya kepada masyayikhnya, sudah sesuai dengan petunjuk al-Qur’an dan Sunnah. Itu merupakan hal baik, bukanlah praktek feodalisme, karena motifnya adalah ta’dzīm lil ilmi wa ahlih, bukan ta’dzīm karena harta. Apa yang dilakukan itu justru masuk kedalam ayat:

وَمَن يُعَظِّمۡ شَعَٰٓئِرَ ٱللَّهِ فَإِنَّهَا مِن تَقۡوَى ٱلۡقُلُوبِ (سورة الحج 32)

“Dan barangsiapa mengagungkan syi’ar-syi’ar Allah, maka sesungguhnya itu adalah bagian dari ketakwaan hati.” (QS. Al-Hajj 32)

Para ulama’ dan shalihih adalah syiar Allah di bumi ini. Yang ketika melihatnya akan mengingatkan yang melihat kepada Allah Ta’ala.

3. Jangan Ikut-Ikutan Menyebarkan Kabar yang Tidak Jelas

Nabi saw. bersabda :

‌كفى ‌بِالْمَرْءِ ‌كَذِبًا أَنْ يُحَدِّثَ بِكُلِّ مَا سَمِعَ (رواه البخاري)

“Cukuplah seseorang dianggap pendusta jika ia mengatakan semua yang ia dengar.” (HR. Muslim)

Tidak semua yang kita dengar itu benar. Ada yang benar, ada yang dusta, ada pula yang bercampur. Orang yang langsung menyampaikan setiap berita tanpa seleksi, sering kali menyebarkan kebohongan. Karena itu, meski ia tidak berniat berdusta, tetap saja ia termasuk dalam kebohongan karena menyebarkan informasi tanpa verifikasi.

Semoga kita diberi taufiq oleh Allah untuk mengamalkan petunjuknya ini dan disematkan oleh Allah dari fitnah kabar bohong. Wallahu a’lam bissawab..

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *