Rekam Jejak Setyo Wahono: Produksi Padi Bojonegoro Salip Ngawi hingga Raih Satyalancana Wira Karya Presiden

Setyo Wahono Bupati Bojonegoro saat menerima penghargaan dari Presiden RI

JagatSembilan.com | Bojonegoro -Penghargaan Satyalancana Wira Karya yang diterima Bupati Bojonegoro Setyo Wahono dari Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto hari ini, Rabu (07/01/2026) di Karawang, menjadi pengakuan atas capaian konkret Pemerintah Kabupaten Bojonegoro dalam memperkuat sektor pertanian dan ketahanan pangan nasional.

Penghargaan tersebut diberikan dalam momentum panen raya nasional, sekaligus menegaskan kontribusi daerah dalam menyukseskan agenda swasembada pangan yang berkelanjutan.

Lonjakan Produksi Padi Bojonegoro Salip Ngawi

Salah satu indikator paling menonjol dari keberhasilan tersebut adalah lonjakan produksi padi Bojonegoro. Berdasarkan data tahun 2025, produksi padi Bojonegoro mencapai sekitar 886.443 ton gabah kering giling (GKG).

Bupati dan Wakil Bupati Bojonegoro beserta Kepala DKPP saat menghadiri acara Panen padi organik

Capaian itu berhasil melampaui Kabupaten Ngawi yang mencatat produksi sekitar 775.466 ton GKG, sekaligus menempatkan Bojonegoro sebagai salah satu penghasil padi terbesar di Jawa Timur.

Strategi Peningkatan Produksi Pertanian

Peningkatan produksi padi tersebut tidak terjadi secara instan. Pemerintah Kabupaten Bojonegoro menjalankan strategi pertanian yang terintegrasi, mulai dari peningkatan luas panen hingga sekitar 159.820 hektare, penggunaan benih unggul, hingga optimalisasi jaringan irigasi.

Pendampingan kepada petani dilakukan secara berkelanjutan agar produktivitas pertanian tetap terjaga dan mampu beradaptasi dengan tantangan iklim maupun dinamika harga input produksi.

Penguatan Akses Pupuk Subsidi untuk Petani

Upaya peningkatan produksi pertanian juga diperkuat melalui penjaminan ketersediaan pupuk subsidi. Berdasarkan data Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Bojonegoro, alokasi pupuk subsidi pada tahun 2024 mencapai 120.687 ton.

Alokasi tersebut meliputi pupuk urea sebesar 60.300 ton, NPK sekitar 45.946 ton, dan pupuk organik sekitar 14.441 ton. Ketersediaan pupuk ini menjadi fondasi penting dalam menjaga produktivitas pertanian di tingkat petani.

Sementara itu, pada tahun 2025, realisasi penyaluran pupuk subsidi menunjukkan capaian yang cukup tinggi.

Realisasi Penyaluran Pupuk Subsidi Tahun 2025

Untuk pupuk Urea, dari alokasi sebesar 62.662 ton, realisasi penyaluran telah mencapai 54.948,04 ton atau 87,69 persen, dengan sisa alokasi 7.713,96 ton.

Adapun pupuk NPK Phonska mencatat tingkat realisasi tertinggi. Dari alokasi 47.289 ton, sebanyak 42.895,36 ton telah tersalurkan, atau setara 90,71 persen, dengan sisa alokasi 4.393,65 ton.

Sementara itu, pupuk organik memiliki tingkat realisasi yang relatif lebih rendah. Dari total alokasi 22.083 ton, realisasi penyaluran mencapai 16.172,34 ton atau 73,23 persen, dengan sisa alokasi 5.910,66 ton.

Tingginya realisasi penyaluran pupuk subsidi tersebut menunjukkan adanya penguatan tata kelola distribusi pupuk, yang menjadi salah satu faktor pendukung peningkatan hasil pertanian di Bojonegoro.

Kolaborasi dengan Pesantren dan Petani Milenial

Selain penguatan sarana produksi, Setyo Wahono juga mendorong pendekatan sosial dan regenerasi petani. Pemerintah daerah menjalin kolaborasi dengan dunia pesantren dan santri, sekaligus membuka ruang diskusi bersama petani milenial.

Dialog tersebut membahas tantangan pertanian modern, peluang inovasi, serta strategi agar sektor pertanian tetap menarik bagi generasi muda.

Dorong Pemanfaatan Teknologi Pertanian

Sejalan dengan itu, Pemkab Bojonegoro juga mendorong pemanfaatan teknologi pertanian, salah satunya melalui penggunaan drone untuk pemupukan dan pengelolaan lahan.

Pemanfaatan teknologi ini dinilai mampu meningkatkan efisiensi kerja, menekan biaya produksi, serta mempercepat proses pemupukan, khususnya pada lahan pertanian yang luas.

Tata Kelola Pemerintahan dan Pengakuan Nasional

Di luar sektor pertanian, kepemimpinan Setyo Wahono juga ditandai dengan penguatan tata kelola pemerintahan yang akuntabel, dibuktikan dengan keberhasilan Kabupaten Bojonegoro mempertahankan opini Wajar Tanpa Pengecualian (WTP) atas laporan keuangan daerah secara beruntun.

Kombinasi antara peningkatan produksi padi, penguatan distribusi pupuk subsidi, kolaborasi sosial, serta pemanfaatan teknologi pertanian inilah yang menjadi dasar kuat atas penghargaan Satyalancana Wira Karya dari Presiden Prabowo Subianto.

Keberhasilan tersebut mempertegas posisi Bojonegoro sebagai salah satu penyangga utama ketahanan pangan nasional, sekaligus menunjukkan bahwa kebijakan pertanian yang terencana dan konsisten mampu menghasilkan dampak nyata bagi kesejahteraan petani dan masyarakat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *