JagatSembilan.com | Bojonegoro – Tradisi berbagi paket nasi takjil yang telah berjalan sejak 2011 kembali digelar oleh Majelis Taklim Babus Sa’adah (Mata Basah), yang diasuh oleh KH. Syaifurrohmah Dimyati. Majelis yang berada dalam naungan Pondok Pesantren Abu Dzarin ini istiqamah membagikan ribuan paket nasi takjil setiap malam ganjil Ramadhan.
Pada Minggu (22/02/2026) bertepatan dengan 4 Ramadhan 1447 H, Dapur Mata Basah kembali menyiapkan total 1.500 paket nasi takjil. Sebanyak 1000 paket didistribusikan untuk para santri pondok, sementara 500 paket lainnya diperuntukkan bagi yatim, janda, dan dhuafa di Desa Sumbertlaseh, Ngumpakdalem, dan sekitarnya di wilayah Bojonegoro. Pembagian dilakukan menjelang waktu berbuka dengan melibatkan relawan dan tim dapur secara gotong royong.
Menu yang disajikan sederhana namun penuh makna kebersamaan, terdiri dari sayur lodeh, iwak asin, tempe goreng, krupuk, rempah singkong, serta dadar mambu ndok sebagai pelengkap hidangan berbuka. Untuk memasak dalam satu hari, Dapur Mata Basah menghabiskan sekitar satu setengah kuintal beras, menunjukkan skala produksi yang cukup besar setiap kali pembagian takjil digelar.
Kegiatan memasak ini melibatkan sekitar 70 santri putri yang turut membantu proses persiapan hingga pengemasan. Suasana dapur terasa hidup dengan semangat kebersamaan dan khidmah di bulan suci.
Sebagai informasi, Mata Basah merupakan majelis taklim yang telah tersebar di 186 wilayah se-Kabupaten Bojonegoro. Ribuan paket nasi takjil yang dibagikan setiap malam ganjil tersebut berasal dari sumbangan jamaah Mata Basah di berbagai wilayah itu. Partisipasi kolektif para jamaah inilah yang membuat kegiatan sosial ini terus berjalan konsisten sejak lebih dari satu dekade lalu.

Kepala Dapur Mata Basah, M. Rofiq, menyampaikan bahwa kegiatan ini merupakan bentuk istiqamah berbagi yang terus dijaga sejak awal berdirinya.
“Alhamdulillah, sejak 2011 kami istiqamah berbagi setiap malam ganjil Ramadhan. Tahun ini pun kami berusaha maksimal menyiapkan 1.500 paket untuk santri dan masyarakat sekitar. Ini semua berkat kekompakan dan kepedulian jamaah Mata Basah di berbagai wilayah,” ujarnya.
Ia menambahkan, Dapur Mata Basah bukan sekadar tempat memasak, melainkan ruang kebersamaan dan ladang amal bagi para relawan serta santri yang terlibat.
Majelis Taklim Babus Sa’adah (Mata Basah) terus meneguhkan Ramadhan sebagai momentum memperkuat ibadah sekaligus kepedulian sosial. Mugi-mugi manfaati lan barokahi.













