JagatSembilan.com | Bojonegoro – Sektor pertanian Kabupaten Bojonegoro mencatat capaian menggembirakan di tengah berlangsungnya panen raya tahun 2026. Di saat harga gabah di tingkat petani mencapai sekitar Rp7.200 per kilogram, ancaman kekeringan yang sebelumnya diperkirakan dapat berdampak pada sekitar 9.000 hektare lahan pertanian justru berhasil ditekan hingga tersisa sekitar 70 hektare.
Keberhasilan tersebut menjadi bukti kuat bahwa sektor pertanian Bojonegoro tidak hanya ditopang oleh kebijakan pemerintah pusat, tetapi juga hasil sinergi berbagai program yang dijalankan Pemerintah Kabupaten Bojonegoro melalui Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP).
Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Kabupaten Bojonegoro, Zaenal Fanani, S.Pi., M.P., menjelaskan bahwa meningkatnya pendapatan petani tahun ini dipengaruhi sejumlah faktor yang saling mendukung. Salah satunya adalah kebijakan pemerintah pusat terkait Harga Pembelian Pemerintah (HPP) gabah yang kini ditetapkan sebesar Rp6.500 per kilogram.
Menurutnya, kebijakan tersebut memberikan kepastian harga bagi petani. Bahkan saat panen raya berlangsung, harga gabah di lapangan mampu menembus sekitar Rp7.200 per kilogram atau berada di atas HPP yang ditetapkan pemerintah.
“Petani kita saat ini mendapatkan berkah. Selain harga gabah yang tinggi, kondisi cuaca juga sangat mendukung sehingga produksi pertanian tetap terjaga,” ujarnya.
Zaenal mengungkapkan, berdasarkan perkiraan awal, musim kemarau yang diprediksi mulai terjadi pada April 2026 berpotensi mengakibatkan kekeringan pada sekitar 9.000 hektare lahan pertanian. Namun, mundurnya musim kemarau dan normalisasi sungai membuat sebagian besar tanaman padi berhasil diselamatkan.
Kondisi tersebut menjadi kabar baik bagi petani karena produksi tetap terjaga hingga memasuki masa panen raya. Dari ribuan hektare lahan yang semula diprediksi terdampak, kini potensi lahan yang mengalami kekeringan diperkirakan hanya sekitar 70 hektare.
Selain faktor cuaca, keberhasilan sektor pertanian Bojonegoro juga ditopang oleh kerja keras para Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) dan Petugas Pengendali Organisme Pengganggu Tumbuhan (POPT) yang secara intensif melakukan pendampingan kepada petani.
Meski dalam dua tahun terakhir petani Bojonegoro hampir tidak pernah berhenti menanam padi, serangan hama dan penyakit tanaman relatif dapat dikendalikan. Bahkan sejak 2025 hingga 2026, petani telah menjalani lima kali musim tanam padi secara berkelanjutan tanpa gangguan berarti.
“Alhamdulillah serangan hama dan penyakit relatif sedikit. Ini hasil kerja keras teman-teman PPL dan POPT yang terus melakukan pengamatan dan pendampingan kepada petani,” kata Zaenal.
Di sisi lain, dukungan sarana dan prasarana pertanian juga terus diperkuat. Melalui komunikasi antara Pemerintah Kabupaten Bojonegoro dengan pemerintah pusat, berbagai bantuan alat dan mesin pertanian (alsintan) terus mengalir ke Bojonegoro. Mulai dari traktor roda dua, traktor roda empat, combine harvester, transplanter hingga kultivator. Tahun 2026, Bojonegoro diproyeksikan menerima sekitar 145 unit alsintan untuk mendukung produktivitas petani.
Tak kalah penting, arahan Bupati Bojonegoro Setyo Wahono untuk memperkuat infrastruktur sumber daya air juga menjadi faktor penentu keberhasilan sektor pertanian. Melalui Dinas PU Sumber Daya Air, berbagai program pembangunan embung, normalisasi sungai, hingga pembangunan jaringan irigasi terus dilakukan guna menjamin ketersediaan air bagi lahan pertanian.
Zaenal menilai pembangunan infrastruktur pertanian pada tahun 2025 hingga 2026 menjadi salah satu yang terbesar dibandingkan tahun-tahun sebelumnya dan memberikan dampak nyata terhadap keberlangsungan produksi pangan di Bojonegoro.
“Peningkatan pendapatan petani yang dirasakan saat ini merupakan hasil kerja bersama. Mulai dari kebijakan pemerintah pusat, dukungan dan arahan Bupati Bojonegoro, pembangunan infrastruktur sumber daya air, bantuan alsintan, pendampingan penyuluh hingga kerja keras petani di lapangan,” pungkasnya.














