Expo dan Pasar Murah Al-Rosyid 2026 Putar Ekonomi UMKM hingga Rp423 Juta, Pesantren Dinilai Jadi Motor Pemberdayaan

Pengunjung memadati stan kuliner UMKM pada Expo dan Pasar Murah Al-Rosyid 2026 di Bojonegoro.
Suasana stan kuliner dipadati pengunjung selama Expo dan Pasar Murah Al-Rosyid 2026. Kegiatan ini berhasil meningkatkan omzet puluhan pelaku UMKM yang terlibat.

JagatSembilan.com | Bojonegoro – Gelaran Expo dan Pasar Murah Al-Rosyid 2026 tidak hanya menjadi ajang syiar, pendidikan, dan hiburan, tetapi juga terbukti mampu menggerakkan roda perekonomian masyarakat. Selama enam hari pelaksanaan, kegiatan yang digelar di lingkungan Pondok Pesantren Al-Rosyid, Desa Ngumpakdalem, Kecamatan Dander, Kabupaten Bojonegoro itu mencatat transaksi ekonomi langsung mencapai Rp423 juta.

Data tersebut merupakan hasil pemantauan lapangan dan penghitungan ekonomi sederhana yang dilakukan oleh tim akademik Sekolah Tinggi Ekonomi dan Bisnis Islam (STEBI) Al-Rosyid Bojonegoro terhadap aktivitas 94 stan UMKM yang berpartisipasi dalam expo yang berlangsung pada 20–25 Juni 2026.

Omzet UMKM Tembus Rp423 Juta

Sebanyak 94 stan UMKM yang mengikuti Expo dan Pasar Murah Al-Rosyid berhasil membukukan omzet gabungan sekitar Rp423 juta selama enam hari kegiatan berlangsung.

Nilai tersebut menjadi indikator bahwa penyelenggaraan expo berbasis pesantren mampu membuka peluang usaha yang lebih luas sekaligus meningkatkan pendapatan para pelaku UMKM.

Pelaku UMKM Rasakan Langsung Manfaatnya

Keberhasilan Expo dan Pasar Murah Al-Rosyid 2026 juga dirasakan langsung oleh para pelaku UMKM yang membuka stan selama kegiatan berlangsung.

Salah satunya Saeful Huda, penjual minuman es asal Desa Kalianyar, Kecamatan Kapas, Kabupaten Bojonegoro. Ia mengaku mampu meraih omzet sekitar Rp750 ribu hanya dalam satu malam berjualan di lokasi expo.

Ramai, stan permainan anak di Expo dan Pasar Murah Al-Rosyid
Ramai, stan permainan anak di Expo dan Pasar Murah Al-Rosyid

“Alhamdulillah, dalam semalam saya bisa mendapatkan omzet sekitar Rp750 ribu. Pengunjungnya ramai sehingga dagangan saya laris,” ujar Saeful Huda kepada JagatSembilan.com usai penutupan Expo dan Pasar Murah Al-Rosyid, Kamis (25/06/2026) malam.

Hal senada disampaikan Siti Nurul, pelaku UMKM yang menjual aneka jajanan Korea. Menurutnya, antusiasme masyarakat selama expo memberikan dampak positif terhadap penjualannya.

“Alhamdulillah omzet saya juga sekitar Rp750 ribu dalam semalam. Semoga kegiatan seperti ini terus diadakan karena sangat membantu kami para pelaku UMKM,” ungkapnya.

Testimoni kedua pelaku UMKM tersebut semakin menguatkan hasil kajian tim akademik STEBI Al-Rosyid Bojonegoro yang mencatat transaksi langsung seluruh stan UMKM selama enam hari mencapai sekitar Rp423 juta.

Wakil Bupati Bojonegoro Nurul Azizah sebelumnya juga mengapresiasi penyelenggaraan Expo dan Pasar Murah Al-Rosyid. Menurutnya, kegiatan tersebut memberikan manfaat nyata bagi perkembangan pelaku usaha lokal.

“Kami mengapresiasi penyelenggaraan Expo dan Pasar Murah Al-Rosyid. Kegiatan seperti ini sangat membantu perkembangan UMKM di Kabupaten Bojonegoro,” ujarnya.

Sebagai bentuk dukungan nyata, Nurul Azizah juga mengarahkan sejumlah organisasi perangkat daerah (OPD) untuk bersinergi selama pelaksanaan expo. Di antaranya melalui layanan cek kesehatan gratis bagi ribuan santri dari Dinas Kesehatan, Operasi Pasar Murah oleh Dinas Perdagangan, Koperasi dan Usaha Mikro (Disdagkop UM), serta Gerakan Pangan Murah dari Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP).

Hadirkan Efek Berganda bagi Perekonomian Lokal

Tim akademik STEBI Al-Rosyid menjelaskan, transaksi yang terjadi selama expo tidak berhenti pada aktivitas jual beli di stan UMKM. Perputaran ekonomi juga dirasakan oleh sektor lain, mulai dari pemasok bahan baku, jasa transportasi, konsumsi masyarakat, tenaga kerja harian, hingga berbagai layanan pendukung.

Dengan menggunakan pendekatan konservatif terhadap multiplier effect ekonomi lokal, total manfaat ekonomi yang tercipta selama penyelenggaraan Expo dan Pasar Murah Al-Rosyid diperkirakan berada pada kisaran Rp366 juta hingga Rp479 juta.

Hasil tersebut menunjukkan bahwa kegiatan berbasis pesantren memiliki potensi besar menjadi salah satu instrumen penggerak ekonomi masyarakat, baik secara langsung maupun tidak langsung.

Wujud Kepedulian Pesantren kepada Masyarakat

Pimpinan Pondok Pesantren Al-Rosyid, KH. Alamul Huda Masyhur, menegaskan bahwa Expo dan Pasar Murah digelar sebagai bentuk kepedulian pesantren terhadap masyarakat sekaligus upaya memberdayakan pelaku UMKM di tengah kondisi ekonomi yang masih menantang.

“Kalau kita sudah satu paket penuh dengan harga murah, itu untuk memberikan rasa simpati dan empati kepada masyarakat dalam situasi seperti ini. Kita harapkan UMKM, usaha kecil dan menengah, semuanya mendapatkan keberkahan sehingga kesejahteraan masyarakat Bojonegoro bisa semakin baik,” ungkapnya.

Ia menambahkan, kegiatan tersebut juga menjadi bagian dari pengabdian santri kepada masyarakat.

“Enam hari kita melaksanakan expo dan pasar murah sebagai bentuk simpati kita, empati kita kepada masyarakat, dan juga bentuk pengabdian santri pondok kepada masyarakat,” katanya.

Model Pemberdayaan Ekonomi Berbasis Pesantren

Dari perspektif ekonomi syariah, Expo dan Pasar Murah Al-Rosyid dinilai menjadi implementasi nyata prinsip ta’awun (saling membantu), tamkin al-iqtishad (pemberdayaan ekonomi umat), dan maslahah (kemanfaatan bersama).

Melalui penyelenggaraan pasar murah, masyarakat memperoleh kebutuhan pokok dengan harga lebih terjangkau, sementara pelaku UMKM mendapatkan kesempatan memperluas pasar dan meningkatkan penjualan.

STEBI Al-Rosyid Bojonegoro menilai keberhasilan penyelenggaraan Expo dan Pasar Murah Al-Rosyid 2026 semakin mempertegas peran strategis pesantren sebagai pusat pendidikan, dakwah, sekaligus pemberdayaan ekonomi masyarakat.

Sinergi antara pesantren, pelaku UMKM, pemerintah, lembaga pendidikan, dan masyarakat dinilai menjadi modal penting dalam membangun kemandirian ekonomi berbasis komunitas.

Ke depan, kegiatan serupa diharapkan dapat terus dikembangkan dengan melibatkan lebih banyak pelaku UMKM sehingga mampu memperkuat ekosistem ekonomi lokal sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat Bojonegoro.

Secara akademik, penyelenggaraan Expo dan Pasar Murah Al-Rosyid 2026 menghasilkan transaksi ekonomi langsung sekitar Rp423 juta, dengan potensi dampak ekonomi (multiplier effect) mencapai Rp366 juta hingga Rp479 juta. Capaian tersebut memperkuat posisi pesantren sebagai salah satu penggerak ekonomi kerakyatan yang mampu menghadirkan manfaat nyata bagi masyarakat luas.(Red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *