JagatSembilan.com | Bojonegoro – Tim Ihya’ut Turots Bojonegoro-Tuban melakukan digitalisasi manuskrip peninggalan ulama kharismatik Bojonegoro, KH Munawir Cangaan, Kanor, pada Selasa (7/7/2026). Kegiatan ini merupakan bagian dari upaya pelestarian khazanah keilmuan Islam Nusantara agar tetap terjaga dan dapat diakses oleh generasi mendatang.
Berdasarkan penuturan keluarga, KH Munawir diperkirakan lahir pada pertengahan abad ke-19 dan wafat pada pertengahan abad ke-20. Beliau dikenal sebagai seorang ulama yang pernah menuntut ilmu dalam waktu yang cukup lama di Makkah.
Salah seorang putri beliau, Almarhumah Nyai Muslihah, yang wafat pada tahun 2008 dalam usia sekitar 100 tahun, pernah menceritakan bahwa ayahnya menghabiskan masa yang panjang untuk belajar di Tanah Suci. Namun demikian, keluarga tidak mengetahui secara pasti kepada siapa beliau bermulazamah selama berada di Makkah.
Nyai Muslihah juga menuturkan bahwa pada masa itu seorang sayyid yang dikenal dengan sebutan Ndoro Khamzah dari Sedan kerap berkunjung ke kediaman KH Munawir di Desa Cangaan. Mengenai apakah tokoh tersebut merupakan Sayyid Hamzah Syatha atau bukan, hingga kini belum ditemukan keterangan yang dapat memastikan hal tersebut.
Dalam ingatan keluarga, KH Munawir dikenal sebagai sosok ulama yang memiliki sikap tegas terhadap penjajahan. Menurut riwayat yang diwariskan turun-temurun, beliau sangat menentang segala sesuatu yang dianggap sebagai simbol penjajah.
Bahkan, menurut penuturan keluarga, KH Munawir pernah melarang penggunaan celana karena pada masa itu pakaian tersebut identik dengan budaya kolonial. Sikap tersebut didasarkan pada semangat menjaga identitas umat Islam dan menghindari penyerupaan terhadap pihak yang menjajah negeri ini.
من تشبَّهَ بقومٍ فَهوَ منْهم (رواه أبو داود)
Barangsipa yang menyerupai suatu kaum, maka ia termasuk golongannya (HR. Abu Dawud)
Selain dikenal memiliki sikap anti-kolonial, KH Munawir juga meninggalkan wasiat yang cukup unik. Beliau tidak berkenan dimakamkan di pemakaman umum Desa Cangaan karena di lokasi tersebut juga terdapat makam orang-orang Belanda pada masa penjajahan. Oleh sebab itu, setelah wafat beliau dimakamkan di samping ndalem kediamannya yang kini berdiri Madrasah Diniyah Al-Munawwiriyah.
Keluarga juga mengenang KH Munawir sebagai sosok yang sangat wara’ terhadap harta anak yatim. Salah satu kisah yang sering diceritakan adalah ketika seorang anggota keluarganya semasa kecil memetik daun di kebun milik anak yatim. Mengetahui hal itu, KH Munawir menegurnya dengan keras karena menganggap tindakan tersebut sebagai bentuk pelanggaran terhadap hak milik anak yatim.
Sikap kehati-hatian tersebut sejalan dengan ajaran Al-Qur’an yang memberikan peringatan keras terhadap orang-orang yang memakan atau merampas harta anak yatim secara zalim sebagaimana termaktub dalam Surat An-Nisa ayat 10.
Program digitalisasi manuskrip ini dilaksanakan oleh Tim Ihya’ut Turots Bojonegoro-Tuban di bawah koordinasi Agus Abdullatif, Senori. Kegiatan tersebut merupakan bagian dari ikhtiar penyelamatan warisan intelektual para ulama Nusantara yang selama ini tersimpan di lingkungan keluarga dan pesantren.
Salah seorang canggah (keturunan generasi keempat) KH Munawir, Ustadz Ahmad Rifqi Azmi, yang saat ini menyimpan enam manuskrip peninggalan sang ulama, menjelaskan bahwa jumlah manuskrip yang diwariskan sebenarnya jauh lebih banyak.
“Dulu Mbah Munawir memiliki banyak manuskrip yang diwariskan kepada Kyai Muslih. Namun sebagian besar mengalami kerusakan akibat banjir, dimakan rayap, terkena tetesan air hujan, dan lapuk dimakan usia. Enam manuskrip yang ada sekarang merupakan naskah yang berhasil diselamatkan,” jelasnya.
Menurutnya, digitalisasi menjadi langkah penting untuk menjaga keberlangsungan warisan keilmuan tersebut agar tidak hilang ditelan waktu. Dengan tersedianya salinan digital, manuskrip-manuskrip peninggalan KH Munawir diharapkan dapat menjadi sumber penelitian sekaligus memperkaya khazanah intelektual Islam Nusantara bagi para santri, akademisi, dan masyarakat luas.(Red)













