JagatSembilan.com | Bojonegoro – Pengurus Cabang Lembaga Ta’lif wan Nasyr Nahdlatul Ulama (PC LTNNU) Kabupaten Bojonegoro menggelar Madrasah Jurnalensa di Aula MWCNU Balen, Sabtu (18/7/2026). Kegiatan ini menjadi ikhtiar untuk mencetak kader-kader NU yang memiliki kemampuan jurnalistik dan pengelolaan media informasi yang profesional di era digital.
Madrasah Jurnalensa diikuti puluhan peserta dari delapan MWCNU wilayah timur Bojonegoro. Hadir dalam kegiatan tersebut jajaran PC LTNNU Bojonegoro, Rois Syuriah MWCNU Balen KH. Mulazim, Ketua MWCNU Balen Ahmad Syakir, H.M. Hasan Bisri mewakili PCNU Bojonegoro, serta dua narasumber Madrasah Jurnalensa, yakni Nanang Fahrudin dan Parto Sasmito.
Dalam sambutannya mewakili PC LTNNU Bojonegoro, Choirul Anam menegaskan bahwa di tengah derasnya arus informasi digital, NU membutuhkan kader yang tidak hanya mampu berbicara, tetapi juga mampu menulis, mendokumentasikan, dan menyebarluaskan informasi yang benar, santun, serta mencerahkan.
“Di era digital seperti sekarang, perang opini berlangsung setiap hari. Informasi bergerak sangat cepat, tetapi tidak semuanya benar. Di sinilah NU membutuhkan kader-kader yang tidak hanya mampu berbicara, tetapi juga mampu menulis, mendokumentasikan, dan menyebarluaskan informasi yang benar, santun, serta mencerahkan,” ujarnya.
Ia menjelaskan, melalui Madrasah Jurnalensa, PC LTNNU Bojonegoro berharap lahir generasi muda NU yang memiliki tiga kemampuan utama, yakni mampu menulis berita sesuai kaidah jurnalistik, mampu mengangkat praktik-praktik baik yang dilakukan NU di berbagai tingkatan, serta mampu menjadi humas NU yang aktif dan profesional dalam mengelola media sosial maupun media informasi organisasi.
Menurutnya, banyak kegiatan NU yang memiliki manfaat besar bagi masyarakat, namun belum terdokumentasi dan terpublikasikan dengan baik. Akibatnya, berbagai kiprah dan pengabdian NU tidak diketahui secara luas oleh masyarakat.
“Sering kali kegiatan NU sangat banyak dan sangat bermanfaat. Namun sayangnya, dokumentasinya kurang dan publikasinya minim, sehingga manfaatnya tidak diketahui masyarakat luas. Padahal, jika tidak kita tulis, maka sejarah itu bisa hilang,” katanya.
Choirul Anam juga mengajak seluruh peserta untuk terus mengembangkan kemampuan yang diperoleh selama pelatihan dan menjadi penggerak literasi di wilayah masing-masing. Ia berharap para peserta dapat menjadi kontributor berita sekaligus pengelola informasi yang mampu menghubungkan berbagai kegiatan NU dari tingkat ranting hingga cabang.
“Kami berharap terbentuk jejaring humas MWCNU yang saling terhubung dengan LTNNU PC Bojonegoro, sehingga informasi dari tingkat ranting hingga cabang dapat terdokumentasi dengan cepat, akurat, dan dapat dipertanggungjawabkan,” imbuhnya.
Sementara itu, Ketua MWCNU Balen Ahmad Syakir menyampaikan apresiasinya atas terselenggaranya Madrasah Jurnalensa. Menurutnya, kegiatan tersebut perlu terus dilanjutkan karena menjadi salah satu media dakwah Nahdlatul Ulama di tengah perkembangan teknologi informasi saat ini.
“Acara ini sangat kami harapkan keberlangsungan dan keberlanjutannya karena menjadi media dakwah bagi NU. Kami berharap dengan adanya Madrasah Jurnalensa ini, NU semakin dicintai oleh masyarakat, khususnya warga Nahdliyin,” ungkap Ahmad Syakir.
Ia menilai, kehadiran kader-kader jurnalistik NU sangat penting untuk menghadirkan informasi yang objektif dan berimbang. Terlebih, menurutnya, dalam beberapa waktu terakhir terdapat sejumlah pemberitaan yang dirasakan kurang proporsional dan cenderung menyudutkan warga NU maupun lingkungan pondok pesantren.
“Melalui Madrasah Jurnalensa ini diharapkan dapat mengimbangi berbagai pemberitaan yang ada, sehingga informasi yang disampaikan kepada masyarakat semakin objektif dan dapat dipertanggungjawabkan,” tuturnya.
Di sisi lain, H.M. Hasan Bisri yang hadir mewakili PCNU Bojonegoro menilai Madrasah Jurnalensa merupakan langkah strategis dalam menyiapkan masa depan NU melalui penguatan tradisi intelektual dan literasi. Menurutnya, merawat masa depan harus dimulai sejak hari ini dengan menanam nilai dan karya yang kelak akan dipetik oleh generasi mendatang.
“Orang tua kita dahulu telah menanam sehingga hari ini kita dapat memetik hasilnya. Hari ini kita pun harus menanam agar dapat dipetik oleh generasi setelah kita,” ujarnya.
Ia mengutip ungkapan dalam bahasa Arab, “Laqad gharashu hatta akalna wa innana lagharashu hatta ya’kulannasu ba’dana” yang bermakna, “Mereka telah menanam sehingga kita dapat menikmatinya, dan kita menanam agar orang-orang setelah kita dapat menikmatinya.”
Hasan Bisri juga menegaskan bahwa investasi terbaik untuk masa depan adalah mentransformasikan nilai-nilai intelektualitas menjadi investasi sosial, budaya, dan strategis bagi peradaban. Karena itu, Madrasah Jurnalensa dinilainya memiliki peran penting dalam mengonsolidasikan kader-kader NU yang memiliki semangat berkarya di bidang jurnalistik.
“Momentum Madrasah Jurnalensa LTNNU PCNU Bojonegoro ini sangat strategis dalam rangka mengonsolidasikan para intelektual dan jiwa-jiwa yang berkarya dalam dunia jurnalistik. Madrasah Jurnalensa adalah salah satu ikhtiar untuk menyiapkan masa depan itu,” tegasnya.
Madrasah Jurnalensa menjadi salah satu upaya PC LTNNU Bojonegoro dalam memperkuat dakwah Ahlussunnah wal Jamaah An-Nahdliyah melalui pena, kamera, dan media digital. Selain meningkatkan kemampuan jurnalistik peserta, kegiatan ini diharapkan mampu memperkuat budaya literasi dan dokumentasi di lingkungan Nahdlatul Ulama.
“Semoga Madrasah Jurnalistik ini menjadi ikhtiar bersama untuk memperkuat dakwah Ahlussunnah wal Jamaah An-Nahdliyah melalui pena, kamera, dan media digital,” pungkas Choirul Anam.(Red)














