JagatSembilan.com | Bojonegoro – Solidaritas Perempuan (SP) menggelar Training Feminis dan Training Keorganisasian di Bojonegoro pada 24–27 Juli 2026. Kegiatan yang berlangsung di Aula Rusunawa komplek PCNU Bojonegoro ini diikuti anggota SP, perempuan akar rumput, kelompok muda, jurnalis, dan jaringan organisasi.
Pelatihan tersebut menjadi bagian dari upaya penguatan kapasitas anggota serta calon anggota Solidaritas Perempuan dalam memahami berbagai persoalan yang dihadapi perempuan, sekaligus memperkuat kerja-kerja organisasi di tingkat lokal.
Musta’ana selaku Panitia Lokal dalam kegiatan itu mengatakan, pelatihan ini dilatarbelakangi berbagai dinamika sosial, ekonomi, dan lingkungan yang terjadi di Kabupaten Bojonegoro. Sebagai daerah yang menjadi salah satu pusat industri migas nasional, Bojonegoro dinilai mengalami perubahan besar dalam pengelolaan sumber daya alam yang berdampak pada kehidupan masyarakat, termasuk perempuan.
Ia juga menyebutkan bahwa perempuan, khususnya perempuan petani, menghadapi berbagai tantangan akibat perubahan pengelolaan sumber daya alam, perubahan pola pertanian, serta dampak krisis iklim.
“Diskusi-diskusi yang dilakukan bersama kelompok perempuan di Bojonegoro menjadi salah satu dasar pentingnya penyelenggaraan pelatihan untuk memperkuat kemampuan analisis terhadap berbagai situasi ketidakadilan yang mereka hadapi,” terang Musta’ana.
Menurutnya, perserikatan Solidaritas Perempuan sebagai organisasi gerakan feminis memandang penguatan kapasitas kader sebagai bagian penting dalam membangun keberlanjutan organisasi serta memperkuat perjuangan perempuan di tingkat lokal.
“Training Feminis dan Training Keorganisasian ini bertujuan memperkuat kapasitas anggota, perempuan akar rumput, dan kelompok muda dalam menganalisis berbagai bentuk ketidakadilan yang terjadi di masyarakat. Selain itu, kegiatan ini juga menjadi ruang refleksi terhadap visi, misi, nilai, dan garis politik organisasi serta mendorong lahirnya kader-kader perempuan yang siap terlibat dalam kerja pengorganisasian, kampanye, dan advokasi,” terangnya.
Ia juga mengatakan, sebanyak 32 peserta mengikuti kegiatan tersebut yang terdiri dari delapan anggota Solidaritas Perempuan di Bojonegoro, delapan perempuan akar rumput dari Desa Gayam, 13 orang muda, seorang jurnalis, dan dua peserta dari unsur jaringan.
“Kegiatan difasilitasi oleh Kawan Risma Umar, anggota Solidaritas Perempuan Jabotabek sekaligus mantan pengurus Dewan Pimpinan Nasional (DPN) Solidaritas Perempuan, bersama Dewi Maya Sari dari Sekretariat Nasional Solidaritas Perempuan,” imbuhnya.
Menurutnya, selama empat hari, peserta akan mengikuti berbagai materi mulai dari konstruksi biologis, gender dan seksualitas, relasi kuasa, ketidakadilan gender, akar penindasan terhadap perempuan, kesadaran feminis, aliran-aliran feminis, sejarah Solidaritas Perempuan, hingga pembelajaran manajemen organisasi feminis dan penguatan gerakan perjuangan organisasi.
“Kegiatan ini menjadi ruang belajar bersama bagi perempuan akar rumput, anggota organisasi, dan kelompok muda untuk memahami berbagai persoalan yang mereka hadapi dalam kehidupan sehari-hari. Kami berharap peserta tidak hanya memperoleh pengetahuan baru, tetapi juga memiliki kemampuan untuk menganalisis situasi di lingkungannya serta membangun kerja-kerja kolektif yang lebih kuat di Bojonegoro,” ujar Musta’ana.
Ia menambahkan, pelatihan tersebut juga menjadi bagian dari proses kaderisasi organisasi agar semakin banyak perempuan yang terlibat dalam ruang-ruang pengambilan keputusan dan penguatan gerakan masyarakat di tingkat lokal.
“Kami ingin menghadirkan ruang yang aman untuk belajar, berdiskusi, dan bertukar pengalaman lintas generasi. Dari proses ini diharapkan lahir kader-kader perempuan yang mampu berkontribusi dalam pengorganisasian, advokasi, maupun berbagai inisiatif sosial di masyarakat,” pungkasnya.
Kegiatan ini juga diikuti sejumlah mahasiswa yang ingin memperdalam pemahaman mengenai feminisme dan pengorganisasian. Di antaranya Vina Zora Apriliani dan Dewi Ambang Kamulyan, mahasiswa Universitas Bojonegoro (Unigoro).
Vina mengaku tertarik mengikuti pelatihan untuk mendapatkan wawasan baru tentang feminisme sekaligus meningkatkan keterampilan organisasi.
“Saya ingin mendapatkan wawasan tentang feminisme dan keterampilan organisasi,” Ujar Zora.
Sementara itu, Dewi Ambang Kamulyan berharap dapat memahami lebih dalam materi yang disampaikan selama pelatihan berlangsung.
“Saya ingin mengetahui lebih dalam tentang training feminis dan keorganisasian,” kata Dewi.(Red)














