JagatSembilan.com | Bojonegoro – Deru mesin kendaraan memecah kesunyian hutan Bojonegoro bagian selatan, Minggu (26/7/2026). Dipimpin Bupati Bojonegoro Setyo Wahono, rombongan Sosial Adventure harus menaklukkan jalan sempit, turunan curam, hingga menyusuri aliran Kali Gandong sebelum akhirnya tiba di Dusun Kalimas, Desa Bareng, Kecamatan Sekar. Di pelosok desa itulah perjalanan penuh tantangan itu berakhir dengan peresmian Masjid Al-Masyhur, rumah ibadah yang lahir dari semangat wakaf dan gotong royong.
Kegiatan tersebut diikuti oleh, Kapolres Bojonegoro, Dandim 0813 Bojonegoro, keluarga besar Pondok Pesantren Al-Rosyid Desa Ngumpakdalem, Kecamatan Dander, Administratur (ADM) Perhutani Bojonegoro, Kasdim Kodim 0813 Bojonegoro, serta komunitas Willyz Bojonegoro.
Rombongan memulai perjalanan dari Pondok Pesantren Al-Rosyid menuju Dusun Kalimas yang berada di wilayah pedalaman Kabupaten Bojonegoro.
Perjalanan menuju Kalimas bukan perkara mudah. Rombongan sengaja melewati jalan sempit dengan beberapa titik turunan yang cukup curam. Rumput liar yang menjulang tinggi di sisi jalan semakin menambah tantangan sepanjang perjalanan.

Petualangan berlanjut ketika rombongan turun menuju kawasan Padas Malang di aliran Kali Gandong Dusun Nglambangan Desa Setren Kecamatan Ngas. Dari lokasi tersebut, peserta menyusuri sungai hingga tiba di Kedung Krapak Kali Gandong. Di tengah suasana alam yang masih asri, seluruh rombongan menikmati sarapan bersama sebelum melanjutkan perjalanan menuju Dusun Kalimas.
Setelah sarapan selesai, rombongan melanjutkan perjalanan melewati jalan yang juga ekstrem. Jalan masih berupa tanah yang berada di atas perbukitan yang menyajikan pemandangan yang luar biasa.
Sesampainya di lokasi, rombongan disambut antusias masyarakat. Kepala Desa Bareng, Suprapto, serta jajaran Forkopimcam Kecamatan Sekar menyebut kedatangan Bupati bersama Forkopimda menjadi momen bersejarah bagi desanya.
“Ini adalah anugerah. Ini pertama kali Desa Bareng didatangi oleh orang besar level Kabupaten Bojonegoro,” kata Suprapto.
Ia berharap kunjungan tersebut membawa keberkahan sekaligus mendorong percepatan pembangunan di wilayahnya.
“Semoga mendapatkan keberkahan dari kegiatan ini. Sudah ada pembangunan jalan cor, semoga diteruskan pembangunan itu. Semoga pertemuan ini membawa berkah,” ujarnya.
Rangkaian kegiatan kemudian dilanjutkan dengan peresmian Masjid Al-Masyhur yang berdiri di atas tanah wakaf milik Sampun, warga Dusun Kalimas. Masjid tersebut dibangun oleh keluarga besar Pondok Pesantren Al-Rosyid bersama para kolega. Pembangunannya dimulai pada 2020 dan kini telah rampung.
Dalam sambutannya, Bupati Bojonegoro Setyo Wahono menyampaikan apresiasi kepada Sampun atas keikhlasannya mewakafkan tanah untuk pembangunan masjid.
“Masjid tidak hanya sebagai tempat ibadah, melainkan juga tempat belajar dan musyawarah. Kepada KH. Alamul Huda Masyhur, mohon masjid ini dimakmurkan,” kata Bupati.
Terkait pembangunan infrastruktur, Bupati mengatakan telah menerima informasi dari Kepala Desa Bareng, Camat Sekar, dan Asisten Daerah bahwa proses pembangunan di wilayah Kalimas sedang berjalan.

Sementara itu, Pimpinan Pondok Pesantren Al-Rosyid, KH. Alamul Huda Masyhur, mengaku bersyukur karena masyarakat Kalimas akhirnya dapat menyaksikan secara langsung kehadiran Bupati dan jajaran Forkopimda.
“Hari ini adalah hari paling istimewa buat Kalimas. Selama hidup, belum pernah Bupati maupun Dandim, Kapolres hadir di Kalimas. Hari ini hadir untuk keberkahan dan kemajuan,” ujarnya.
Ia juga menceritakan perjuangan rombongan yang harus melewati medan berat untuk mencapai Dusun Kalimas.
“Memang perjuangan menuju Kalimas itu perjuangan yang luar biasa. Tidak hanya lewat jalan, tetapi juga masuk sungai dan sebagainya. Akhirnya Bapak Bupati bersama rombongan makan bersama di pinggir kali,” tuturnya.
Di balik berdirinya Masjid Al-Masyhur, terdapat kisah sederhana yang penuh makna. KH. Alamul Huda Masyhur menuturkan, pembangunan masjid bermula ketika salah seorang keponakannya singgah di Dusun Kalimas. Dalam pertemuan itu, Sampun menawarkan tanahnya untuk diwakafkan apabila dimanfaatkan sebagai tempat ibadah maupun pendidikan.
“Pak Sampun menyampaikan, kalau mau membuat pendidikan, langgar atau masjid di sini, silakan, tanahnya saya wakafkan,” kenangnya.
Tawaran tersebut kemudian disambut keluarga besar Pondok Pesantren Al-Rosyid bersama sejumlah kolega. Mereka bergotong royong mengumpulkan dana hingga akhirnya pembangunan Masjid Al-Masyhur dimulai.
“Ini tantangan yang berat buat kami, tapi kesempatan yang luar biasa. Akhirnya kami bersama kawan-kawan urunan bersama-sama mendirikan Masjid Al-Masyhur untuk Kalimas dan sekitarnya,” katanya.
Menurut KH. Alamul Huda Masyhur, perjuangan membangun masjid di kawasan pedalaman tidaklah mudah. Pada awal pembangunan, akses menuju lokasi masih sangat terbatas sehingga material bangunan harus diangkut menggunakan karung dan sepeda motor.
“Material diangkut dengan menggunakan karung dan pakai motor. Karena aksesnya belum seperti sekarang,” ungkapnya.
Kini pembangunan Masjid Al-Masyhur telah mencapai 100 persen. Bahkan, masjid tersebut telah dimanfaatkan sebagai tempat mengaji bagi sedikitnya 23 anak di Dusun Kalimas.
Ia pun berpesan agar keberadaan masjid tidak hanya menjadi bangunan yang berdiri megah, tetapi benar-benar dimanfaatkan masyarakat.
“Masjid ini jangan hanya ditonton, tetapi dipakai salat,” pesannya.
Sosial Adventure yang menembus medan ekstrem itu akhirnya tidak sekadar menjadi perjalanan menuju pedalaman Bojonegoro. Kegiatan tersebut menjadi simbol kolaborasi antara pemerintah daerah, pondok pesantren, masyarakat, Perhutani, TNI, dan berbagai elemen lainnya dalam memperkuat kebersamaan sekaligus menghadirkan pembangunan hingga menjangkau wilayah pelosok.(Red)














