Oleh: Ahmad Rifqi Azmi, M. Ad
Banyak orang bertanya, “Bagaimana kita mengetahui apakah amal yang kita lakukan diterima oleh Allah?” Sebagian orang mengira bahwa jawabannya baru akan diketahui kelak di akhirat, ketika pahala dibalas dengan surga. Padahal, para ulama menjelaskan bahwa Allah Yang Maha Pemurah sering kali memperlihatkan sebagian tanda diterimanya amal sejak seorang hamba masih hidup di dunia. Dengan demikian, seorang mukmin memperoleh kabar gembira sekaligus motivasi agar terus istiqamah dalam beribadah.
Imam Ibnu Athaillah menjawab pertanyaan tersebut melalui salah satu hikmah beliau dalam Al-Hikam:
من وجد ثمرة عمله عاجلًا فهو دليل على وجود القبول آجلًا
Artinya: “Barang siapa telah mendapati buah amalnya di dunia saat ini, maka itu merupakan tanda bahwa amal tersebut akan diterima kelak di akhirat.”
Hikmah ini mengajarkan bahwa amal saleh tidak hanya berbuah di akhirat. Allah sering kali menyegerakan sebagian buahnya di dunia sebagai bentuk kasih sayang dan kelembutan-Nya kepada hamba. Buah inilah yang menjadi isyarat bahwa Allah sedang membuka pintu penerimaan amalnya.
Di antara buah amal tersebut adalah:
Merasakan Manisnya Ketaatan (Halāwah ath-Ṭā‘ah)
Tanda pertama diterimanya amal adalah ketika seseorang mulai menikmati ibadah. Ia tidak lagi salat sekadar menggugurkan kewajiban, tidak lagi membaca Al-Qur’an sekadar mengejar target, dan tidak lagi berzikir karena rutinitas. Semua bentuk ibadah perlahan berubah menjadi kebutuhan hati.
Mengapa hal ini menjadi tanda diterimanya amal? Karena balasan pertama dari sebuah ketaatan adalah taufik untuk melakukan dan menikmati ketaatan berikutnya. Sebaliknya, salah satu hukuman atas dosa adalah mengerasnya hati sehingga ibadah terasa berat dan melelahkan. Oleh sebab itu, Allah berikan rasa manis ini agar hamba semakin dan semakin mendekat kepada-Nya.
Sebagian ulama menyebut manisnya ketaatan ini sebagai surga dunia, yaitu surga yang Allah hadiahkan sebelum memasukkan hamba-Nya ke surga akhirat. Allah berfirman:
وَلِمَنۡ خَافَ مَقَامَ رَبِّهِۦ جَنَّتَانِ (الرحمن 46)
Artinya: “Dan bagi orang yang takut kepada Tuhannya terdapat dua surga.” (QS. Ar-Rahman: 46)
Sebagian ulama menafsirkan bahwa dua surga tersebut adalah surga dunia dan surga akhirat. Surga dunia bukanlah kehidupan yang bebas dari ujian, bukan pula limpahan harta, jabatan, ataupun kemewahan. Betapa banyak orang yang bergelimang kekayaan, tetapi hidup dalam kegelisahan. Sebaliknya, tidak sedikit orang saleh yang hidup sederhana, namun wajah mereka memancarkan ketenteraman yang tidak dapat dibeli dengan apa pun.
Surga dunia adalah keadaan ketika hati dipenuhi rasa cinta kepada Allah, tenteram saat mengingat-Nya, serta menikmati ibadah melebihi kenikmatan dunia. Karena itu, orang yang belum pernah merasakan lezatnya ibadah berarti belum pernah mencicipi surga dunia.
Nabi Ibrahim dan Musa yang Merasakan Manisnya Ibadah dan Munajat
Gambaran tentang manisnya ketaatan bukan hanya teori para ulama. Al-Qur’an memperlihatkan bagaimana para nabi benar-benar merasakan kenikmatan tersebut. Salah satu contoh paling indah adalah Nabi Ibrahim ‘alaihissalam. Beliau menerima ujian yang nyaris mustahil dijalani manusia biasa: diperintah berkhitan di usia senja, meninggalkan istri dan bayi yang dicintainya di lembah Makkah yang tandus, diperintah menyembelih putra yang telah lama dinantikan, dan diperintahkan untuk meninggikan pondasi Ka’bah.
Namun, cinta kepada Allah telah mengubah semua beban itu menjadi kenikmatan. Semakin berat perintah Allah, semakin besar pula kerinduan beliau untuk melaksanakannya. Karena itu, setelah berhasil melewati berbagai ujian besar tersebut, beliau justru berdoa:
وَأَرِنَا مَنَاسِكَنَا (البقرة 128)
Artinya: “Ya Tuhan kami, tunjukkanlah kepada kami tata cara ibadah kami.” (QS. Al-Baqarah: 128)
Doa semacam ini tidak akan muncul dari orang yang merasa ibadah adalah beban. Doa semacam ini hanya muncul dari orang yang telah merasakan manisnya ibadah. Doa tersebut menggambarkan kerinduan Ibrahim as. agar Allah terus memberinya kesempatan untuk beribadah. Orang yang telah merasakan manisnya ketaatan tidak pernah merasa cukup dengan amal yang telah dilakukan. Semakin dekat kepada Allah, semakin besar keinginannya untuk mendekat lagi.
Al-Qur’an juga mengisahkan orang yang telah merasakan manisnya bermunajat kepada-Nya, yaitu kisah Nabi Musa dan Nabi Zakariyya. Ketika Allah bertanya kepada Nabi Musa:
“Apakah yang ada di tangan kananmu, wahai Musa?”
Jawaban singkat sebenarnya sudah cukup: “Ini tongkatku.” Akan tetapi, Nabi Musa menjawab dengan panjang lebar.
قَالَ هِيَ عَصَايَ أَتَوَكَّؤُاْ عَلَيۡهَا وَأَهُشُّ بِهَا عَلَىٰ غَنَمِي وَلِيَ فِيهَا مَـَٔارِبُ أُخۡرَىٰ ( طه: 18)
Artinya: (Musa) berkata, “Ia adalah tongkatku. Aku (dapat) bersandar padanya, merontokkan (daun-daun) dengannya untuk (makanan) kambingku, dan memiliki keperluan lain padanya.” (QS. Toha 18)
Nabi Musa tidak hanya sedang menjawab pertanyaan dari Allah, sebab andai menjawab, seharusnya cukup dengan jawaban, “Ini tongkatku.” Nabi Musa sedang merasakan nikmatnya berdialog dengan Allah dan ingin berlama-lama untuk berdialok dengan kekasih yang sangat dicintainya, Allah Ta’ala.
Demikian pula Nabi Zakaria. Ketika memohon keturunan, beliau tidak langsung meminta seorang anak. Beliau lebih dahulu menggambarkan rambut yang telah memutih, tulang yang mulai rapuh, dan kelemahan dirinya. Beliau tidak mencukupkan berkata, “Saya sudah tua”. Semua itu menunjukkan bahwa beliau menikmati setiap detik munajat kepada Rabb-nya. Al Qur’an mengisahkan
قَالَ رَبِّ إِنِّي وَهَنَ ٱلۡعَظۡمُ مِنِّي وَٱشۡتَعَلَ ٱلرَّأۡسُ شَيۡبٗا وَلَمۡ أَكُنۢ بِدُعَآئِكَ رَبِّ شَقِيّٗا (مريم: 4)
Artinya: Dia (Zakaria) berkata, “Wahai Tuhanku, sesungguhnya tulangku telah lemah, kepalaku telah dipenuhi uban, dan aku tidak pernah kecewa dalam berdoa kepada-Mu, wahai Tuhanku. (QS. Maryam 4)
Kenikmatan Ibadah Tidak Datang Seketika
Melihat kisah para nabi di atas, mungkin ada yang mengira bahwa menikmati ibadah merupakan sesuatu yang mudah diperoleh. Padahal, kenyataannya tidak demikian. Manisnya ketaatan adalah buah dari perjuangan yang panjang. Hampir setiap orang harus melewati fase berat sebelum akhirnya Allah menghadiahkan kenikmatan tersebut.
Utbah al-Ghulam pernah berkata:
“Aku memaksakan diriku bangun malam selama dua puluh tahun. Setelah itu, selama dua puluh tahun berikutnya aku menikmati qiyamul lail.”
Kalimat ini mengajarkan bahwa istiqamah mendahului kenikmatan, dan mujahadah mendahului musyahadah. Siapa yang bersabar memikul beratnya ibadah hari ini, Allah akan menghadiahkannya manisnya ibadah pada waktunya. Sebaliknya, banyak orang tidak pernah merasakan nikmat beribadah bukan karena ibadah itu tidak nikmat, tetapi karena mereka berhenti sebelum sampai pada fase kenikmatannya.
Semoga Allah berkenan menerima amal-amal ibadah kita dan senantiasa mendekatkan kita kepada ridha-Nya. Aamiin.
*) Penulis adalah Ahmad Rifqi Azmi Dosen Unugiri, Ketua Satgas Aswaja PCNU Bojonegoro dan juga Mukharir LBM PCNU Bojonegoro














