Karunia Besar Dibalik Keputusan Allah Menahan Keinginan Kita

Ilustrasi seorang Muslim duduk merenung memandang jalan yang terbuka sebagai simbol hikmah di balik keputusan Allah yang menahan keinginan hamba-Nya.
Ilustrasi refleksi seorang Muslim yang merenungi hikmah di balik setiap ketentuan Allah. Apa yang tampak sebagai penolakan atau kehilangan bisa menjadi jalan menuju karunia yang lebih besar.(By chatgpt)

Oleh: Ahmad Rifqi Azmi, M. Ag

Dalam kehidupan, hampir setiap orang pernah mengalami kenyataan yang tidak sesuai harapan. Doa yang belum dikabulkan, rezeki yang terasa sempit, rencana yang gagal, atau kesempatan yang hilang sering kali melahirkan pertanyaan, “Mengapa Allah tidak mengabulkan keinginanku?”

Banyak orang mengira bahwa sumber kesedihan adalah karena keinginannya tidak terpenuhi. Sebenarnya, kesedihan itu bersumber bukan karena kegagalan. Jika direnungkan lebih mendalam, kesedihan itu bersumber dari ketidakmampuan kita memahami hikmah di balik penolakan tersebut. Sebagaimana yang apa yang dinyatakan Ibnu ‘Athaillah as-Sakandari dalam Al-Hikam

إنَّما يُؤلِمُكَ المَنْعُ لِعَدَمِ فَهْمِكَ عَنِ اللهِ فيهِ

Artinya: Rasa sakitmu dikala tercegah dari keinginanmu adalah karena ketidak fahamanmu atas rencana Allah di dalamnya

Kesedihan Berasal dari Pandangan yang Terbatas

Manusia hanya mampu melihat apa yang ada di hadapan matanya. Kita menilai sesuatu berdasarkan manfaat yang terasa saat ini. Jika sebuah pintu tertutup, kita menganggap seluruh jalan telah buntu. Jika kehilangan sesuatu, kita merasa sedang dirugikan. Padahal Allah melihat seluruh perjalanan hidup hamba-Nya; masa lalu, masa kini, hingga masa depan sekaligus. Allah mengetahui apa yang akan menjaga agama kita, menyelamatkan hati kita, dan membawa kita kepada kebahagiaan yang hakiki.

Karena itulah, sering kali Allah menahan sesuatu bukan karena Dia tidak sayang kepada hamba-Nya, tetapi justru karena kasih sayang-Nya jauh lebih besar daripada keinginan hamba tersebut. Kita hanya melihat satu halaman kehidupan, sedangkan Allah mengetahui keseluruhan kisahnya.

Seperti Orang Tua yang Terkadang Tidak Menuruti Keinginan Anaknya

Dalam pandangan tasawuf, al-man’u (pencegahan atau penolakan) bukanlah lawan dari pemberian. Justru sering kali pencegahan adalah bentuk pemberian yang belum mampu kita pahami.

Apa yang tampak sebagai kehilangan di mata manusia, bisa jadi merupakan perlindungan di sisi Allah. Apa yang terlihat sebagai kegagalan, boleh jadi merupakan jalan tercepat menuju kebaikan yang lebih besar. Karena itu, seorang mukmin tidak hanya belajar bersyukur ketika diberi, tetapi juga belajar bersyukur ketika Allah menahan pemberian. Sebab ia yakin bahwa setiap keputusan Allah pasti mengandung hikmah, meskipun hikmah itu baru tampak bertahun-tahun kemudian.

Kita sering menahan anak kita dari perbuatan tertentu. Misalnya kita batasi uang jajan mereka agar mereka belajar skala prioritas. Kita cegah mereka memakan makanan yang menyebabkan batuk dan sakit. Kita juga sering mencegah mereka bermain permainan yang membahayakan, petasan misalnya. Kita mencegah itu karena begitu besarnya sayang kita kepada anak kita dan menginginkan yang terbaik bagi anak kita; dalam contoh tadi agar mereka mengetahui skala prioritas, sehat, dan tidak celaka. Sayangnya, kita tidak memakai cara pandang ini kepada Allah Ta’ala. Ketika Allah tidak memberikan apa yang kita inginkan.

Mengangkat Derajat Seorang Hamba

Tidak semua derajat yang tinggi di sisi Allah dapat dicapai hanya dengan ibadah rutin. Ada tingkatan yang hanya bisa diraih melalui kesabaran menghadapi ujian ketidak sesuainya apa yang diharapkan. Lihatlah para nabi dan rasul. Betapa berat ujian yang mereka terima. Apakah Allah membenci mereka? tidak, justru Allah ingin memberikan mereka perkara besar dibalik ujian itu.

Sering kali seseorang menjadi lebih dekat kepada Allah justru setelah mengalami kegagalan, kehilangan, atau penolakan. Karena gagal menjadi pejabat Allah menyelamatkannya dari korupsi, karena kehilangan orang tua ia menjadi lebih mandiri, karena ditolak perusahaan tertentu ia bisa berwiraswasta yang tidak terikat dari orang lain sehingga dapat berjamaah 5 waktu. Musibah yang membuatnya menangis di dunia ternyata menjadi sebab kemuliaannya di akhirat.

Ingatlah innalillahi wa inna ilaihi roji’un!

Ketika tertimpa musibah, kita diajarkan membaca:

إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ

Artinya: Sesugguhnya kita adalah milik Allah dan sesungguhnya hanya kepadanya kita akan kembali

Kalimat ini sering dipahami hanya sebagai ungkapan belasungkawa ketika ada kematian. Padahal maknanya jauh lebih luas. Kalimat ini merupakan pengakuan bahwa diri kita, keluarga kita, harta kita, jabatan kita, bahkan seluruh kenikmatan yang kita miliki sejatinya adalah milik Allah. Jika semuanya adalah milik-Nya, maka Allah berhak memberi kapan saja, mengambil kapan saja, atau menahan kapan saja sesuai dengan hikmah-Nya. Kesadaran inilah yang melahirkan sikap rida. Seorang hamba tidak lagi memprotes keputusan Pemilik alam semesta, karena ia sadar dirinya hanyalah seorang yang diberi amanah.

Kata ilaihi raji’un apabila diresapi akan menjadikan seseorang tentram, sebab dari penolakan, kehilangan, dan musibah lainnya Allah telah menyiapkan balasan yang sangat besar di akhirat dan ilaihi rahi’un, kita akan kembali kepada Allah menerima pemberian itu.

Sebuah Kisah yang Mengubah Cara Pandang

Saya mempunyai pengalaman yang sangat menarik yang saya dengar dari salah seorang teman saya. Suatu ketika ia mengikuti rombongan menuju kediaman seorang ulama untuk istifadah menimba ilmu darinya. Saat perjalanan pulang, ia tertinggal dari rombongan karena harus mengurus anaknya yang mondok di pondok ulama tersebut. Saat itu ia merasa sangat kecewa. Dalam hatinya muncul prasangka bahwa teman-teman satu rombongannya tidak setia kawan tidak peduli dengannya.

Namun keadaan justru berubah di luar dugaan. Karena tertinggal, ia akhirnya menumpang kendaraan lain. Ternyata orang yang menumpanginya adalah sahabat lamanya yang sudah lebih dari sepuluh tahun tidak pernah bertemu. Pertemuan yang tidak direncanakan itu menjadi awal datangnya rezeki yang luar biasa. Sahabat tersebut, yang kini telah sukses, membantu kebutuhan finansialnya bahkan ikut membiayai renovasi musala di samping rumahnya yang telah lama belum jadi.

Peristiwa yang semula dianggap sebagai musibah ternyata menjadi pintu hadirnya karunia yang jauh lebih besar. Seandainya sejak awal ia mengetahui akhir cerita itu, tentu ia tidak akan bersedih karena ditinggalkan rombongan. Bahkan mungkin ia akan tersenyum ketika melihat mobil teman-temannya menjauh. Begitulah cara Allah bekerja. Kita hanya mengetahui awal kisah, sedangkan Allah mengetahui akhir ceritanya.

Dari Kecewa Menuju Rida

Pemahaman inilah yang ingin ditanamkan oleh Imam Ibnu ‘Athaillah. Semakin seseorang mengenal Allah, semakin ia percaya bahwa tidak ada keputusan Allah yang sia-sia. Apa yang tampak sebagai penolakan sesungguhnya bisa menjadi perlindungan. Apa yang tampak sebagai kehilangan bisa menjadi awal datangnya nikmat yang lebih besar. Apa yang tampak sebagai kegagalan boleh jadi merupakan jalan tercepat menuju keselamatan dunia dan akhirat.

Karena itu, ukuran kedewasaan spiritual seseorang bukanlah seberapa sering doanya dikabulkan sesuai keinginannya, melainkan seberapa besar ketenangan hatinya ketika Allah memilihkan jalan yang berbeda dari harapannya.

Inilah hakikat al-fahmu ‘anillah -memahami Allah melalui setiap ketentuan-Nya.- Ketika pemahaman ini tumbuh, kesedihan perlahan berubah menjadi ketenangan, keluhan berubah menjadi syukur, dan penolakan berubah menjadi karunia. Sebab pada akhirnya, bukan semua yang kita inginkan yang akan membahagiakan kita, tetapi semua yang Allah pilihkan untuk kita. Dan pilihan Allah tidak pernah salah. Semoga kita semua senantiasa dibimbing oleh Allah agar senantiasa ridha terhadap keputusan-Nya. Aamiin.

 

*) Penulis adalah Ahmad Rifqi Azmi Dosen Unugiri, Ketua Satgas Aswaja PCNU Bojonegoro dan juga Mukharir LBM PCNU Bojonegoro

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *