JagatSembilan.com | Bojonegoro – Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Kabupaten Bojonegoro menggelar Rapat Koordinasi Tematik untuk membahas upaya optimalisasi jaringan irigasi sebagai solusi meningkatkan Indeks Pertanaman (IP) padi, terutama di wilayah yang masih menghadapi keterbatasan air.
Rapat koordinasi yang untuk pertama kalinya digelar secara tematik tersebut berlangsung di Aula DKPP Bojonegoro, Kamis (27/8/2026). Pembahasan difokuskan pada penyediaan dan optimalisasi sumber air untuk mendukung peningkatan luas tanam padi, khususnya pada musim tanam ketiga (MT III).
Rapat dihadiri Asisten II Sekretariat Daerah Kabupaten Bojonegoro Andik Sujarwo, Kepala DKPP Bojonegoro Zaenal Fanani, perwakilan Bidang Sumber Daya Air (SDA) Dinas Pekerjaan Umum dan Sumber Daya Air (PU SDA), Camat Balen, Camat Purwosari, serta ketua tim kerja dan koordinator penyuluh pertanian se-Kabupaten Bojonegoro.
Dalam arahannya, Asda II Andik Sujarwo menegaskan bahwa salah satu persoalan utama sektor pertanian adalah kecukupan air. Karena itu, diperlukan perencanaan pembangunan jaringan irigasi yang terintegrasi dari saluran primer hingga tersier.
Menurutnya, keberadaan master plan pembangunan jaringan irigasi penting agar pengelolaan dan pembangunan infrastruktur air dapat dilakukan secara terarah serta mampu menjawab kebutuhan pertanian di berbagai wilayah.
Sementara itu, Kepala DKPP Bojonegoro Zaenal Fanani menyampaikan bahwa Indeks Pertanaman padi di sejumlah wilayah Bojonegoro masih tergolong rendah, terutama kawasan yang mengandalkan sistem pertanian tadah hujan.
Kondisi tersebut, menurutnya, membutuhkan solusi nyata yang dapat segera dilaksanakan di lapangan.
“Masih rendahnya Indeks Pertanaman Tanaman Padi di Bojonegoro, khususnya daerah tadah hujan, perlu segera dicarikan solusi yang nyata dan bisa dieksekusi,” ujar Zaenal dalam rapat tersebut.
Zaenal juga meminta kecamatan yang berada di sekitar Bengawan Solo untuk menginventarisasi desa-desa yang belum mampu melakukan penanaman padi pada MT III. Data tersebut nantinya menjadi dasar untuk mencari alternatif solusi penyediaan air.
Salah satu wilayah yang menjadi fokus pembahasan adalah Kecamatan Purwosari. Dalam rapat tersebut dibahas sejumlah skenario yang dinilai dapat meningkatkan IP padi di wilayah tersebut.
Sedikitnya terdapat tiga alternatif yang dibahas. Pertama, pembangunan dam di hulu Sungai Gandong oleh PU SDA. Kedua, pembangunan long storage di kawasan Tanah Solo Valley. Ketiga, pembangunan pintu dan pompa air di hilir Sungai Gandong dengan memanfaatkan sumber air dari Bengawan Solo.
Camat Purwosari dalam pertemuan tersebut memaparkan skenario ketiga, yakni pemanfaatan air Bengawan Solo melalui pembangunan pintu dan pompa air di hilir Sungai Gandong.
Skenario tersebut selanjutnya akan didetailkan oleh Pemerintah Kecamatan Purwosari untuk kemudian diajukan kepada Kementerian Pertanian sebagai salah satu alternatif solusi peningkatan indeks pertanaman padi di wilayah tersebut.
Melalui koordinasi lintas sektor tersebut, DKPP berharap persoalan keterbatasan air yang selama ini menjadi salah satu kendala peningkatan IP padi di Kecamatan Purwosari dapat segera mendapatkan solusi yang dapat direalisasikan.
Optimalisasi jaringan irigasi diharapkan tidak hanya mampu meningkatkan indeks pertanaman, tetapi juga memperkuat produktivitas pertanian dan mendukung ketahanan pangan di Kabupaten Bojonegoro.(Red)













