JagatSembilan.com | Bojonegoro – Ada sosok pelatih yang ikut berperan di balik keberhasilan SMAN 3 Bojonegoro menjadi juara 1 Zona V dalam Turnamen Bahlil Mini Soccer. Dia adalah Wicaksono Suhendi, guru sekaligus pelatih sepak bola yang dikenal cukup dekat dengan para pemain mudanya.
Turnamen yang digelar di Stadion Utama Sudirman Bojonegoro, 14–15 September 2026, itu diikuti tim dari wilayah Bojonegoro, Tuban, dan Lamongan. SMAN 3 Bojonegoro tampil sebagai juara dan berhak melanjutkan pertandingan ke tingkat Jawa Timur.

Wicak, sapaan Wicaksono, lahir di Bojonegoro, 22 Februari 1986. Ia tinggal di Dusun Cemplo, Kecamatan Kedungadem. Setiap hari, ia rela menempuh perjalanan dari Kedungadem ke Bojonegoro untuk mendampingi anak-anak berlatih. Bahkan, tidak jarang ia baru pulang ketika hari sudah malam.
Kegiatan itu sudah menjadi bagian dari kesehariannya. Selain mengajar, Wicak juga aktif melatih sepak bola sejak 2010. Ia pernah bergabung dengan BMK (Bakat Muda Kedungadem) pada 2022.
Lulusan S1 Pendidikan Jasmani, Kesehatan dan Rekreasi IKIP Budi Utomo Malang ini juga aktif sebagai komisi wasit Askab Bojonegoro.
Kecintaannya terhadap sepak bola tidak hanya dilakukan di sekolah. Saat ada waktu luang, Wicak juga membantu mengadakan turnamen kecil di tempat tinggalnya. Tujuannya sederhana, agar anak-anak dan pemuda punya tempat untuk bermain sekaligus mengembangkan bakat.
Sebagai ayah dua anak, ia harus membagi waktu antara keluarga, pekerjaan, dan sepak bola. Namun, hal itu tidak membuatnya berhenti mendampingi pemain-pemain muda.
Kerja keras tersebut akhirnya berbuah hasil. SMAN 3 Bojonegoro berhasil menjadi juara 1 Zona V dan kini bersiap membawa nama Bojonegoro ke tingkat Jawa Timur.
Aan Ainur Rofiq, Wakil Ketua Bidang kaderisasi DPD Partai Golkar Jawa Timur, juga menyaksikan langsung penampilan SMAN 3 Bojonegoro dalam turnamen tersebut.
“Saya punya keinginan datang saat mereka berlatih guna mempersiapkan final di surabaya memperebutkan piala Ketua Umum Bahlil Lahadalia tanggal 18 19 oktober 2026 yg diikuti 11 juara di 11 zona se-Jatim,” ujar Aan
Bagi Wicak, menjadi pelatih bukan hanya soal menang atau kalah. Yang lebih penting adalah mendampingi anak-anak agar terus berlatih, disiplin, percaya diri, dan tidak mudah menyerah.
Dari perjalanan Kedungadem ke Bojonegoro yang ia tempuh hampir setiap hari, Wicak terus menjalani perannya sebagai guru sekaligus pelatih. Kini, bersama anak-anak SMAN 3u Bojonegoro, ia siap melanjutkan perjalanan menuju tingkat Jawa Timur.(Rudi)














