JagatSembilan.com | Bojonegoro – Sebanyak 557 santri Al-Rosyid ambil bagian dalam pertunjukan kolosal untuk memeriahkan peringatan Hari Santri Nasional (HSN) 2026 di Alun-alun Bojonegoro, Kamis (22/10/2026). Melalui beragam atraksi seni, tari, dan penampilan kreatif, para santri menunjukkan bahwa pendidikan pesantren juga memberikan ruang bagi pengembangan bakat, kreativitas, serta mental untuk terjun ke tengah masyarakat.
Penampilan kolosal tersebut menghadirkan suasana meriah di kawasan Alun-alun Bojonegoro. Ratusan santri tampil dengan beragam kreasi yang membutuhkan kekompakan, kedisiplinan, dan keberanian. Perpaduan gerakan tari, formasi kelompok, serta berbagai atraksi menjadi bagian dari partisipasi Al-Rosyid dalam menyemarakkan momentum Hari Santri Nasional.

Pembimbing penampilan santri Al-Rosyid, Sulkhan, menjelaskan bahwa berbagai penampilan tersebut sebenarnya merupakan kegiatan yang biasa dilakukan para santri. Namun, karena dilaksanakan dalam momentum Hari Santri Nasional, skala penampilannya diperbesar dengan melibatkan lebih banyak peserta.
“Hal yang dilakukan Al-Rosyid ini sebenarnya hal biasa. Semua penampilan itu sudah ada dalam kegiatan ekstrakurikuler di luar jam sekolah. Namun, karena momentumnya adalah Hari Santri, skalanya kami perbesar,” jelas Sulkhan.
Menurutnya, keterlibatan ratusan santri dalam pertunjukan kolosal tersebut bukan semata-mata untuk memeriahkan acara. Kegiatan itu juga menjadi bagian dari proses pendidikan yang membentuk mental, keberanian, dan kesiapan santri dalam menghadapi kehidupan bermasyarakat.
Sulkhan menilai pendidikan melalui seni dan berbagai kegiatan ekstrakurikuler memiliki peran penting dalam membangun karakter santri. Mereka tidak hanya dibekali ilmu pengetahuan dan pemahaman agama di lingkungan pondok pesantren, tetapi juga perlu dilatih untuk mengembangkan potensi diri serta mampu beradaptasi dengan kebutuhan masyarakat.
“Pendidikan dalam seni dan kegiatan lainnya merupakan bagian dari pendidikan mental para santri. Harapannya, mereka siap menghadapi dan menjawab kebutuhan masyarakat,” ungkapnya.
Ia menambahkan, santri harus memiliki keberanian untuk tampil di tengah masyarakat dan mengaplikasikan ilmu yang telah dipelajari selama berada di pondok pesantren. Dengan demikian, ilmu tersebut tidak berhenti sebagai pengetahuan, tetapi benar-benar diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari.
“Santri harus bisa tampil di depan untuk mengaplikasikan ilmu yang didapatkan dari pondok. Dengan begitu, mereka bisa ikut membangun masyarakat yang sesuai dengan ajaran agama sebagaimana yang dipelajari di pondok pesantren,” tambah Sulkhan.

Libatkan 557 Santri dalam 11 Penampilan
Dalam pertunjukan kolosal tersebut, sebanyak 557 santri terlibat dalam 11 kelompok penampilan dengan karakter dan kreativitas masing-masing.
Penampilan Polisi Cilik MI Al Rosyid melibatkan 31 anak. Sementara itu, Tari Saman menjadi penampilan dengan jumlah peserta terbanyak, yakni 300 anak.
Kelompok lainnya terdiri atas Tari Kipas dengan 50 anak, Tari Bendera 45 anak, Air Fighter 15 anak, Tari Zafin 40 anak, Tari Kentongan 40 anak, Tari Sayap empat anak, Ikon Angling Dharma enam anak, Manca Bali 20 anak, serta Naluri Bali enam anak.
Keberagaman penampilan tersebut menjadi gambaran kegiatan pengembangan bakat yang dapat diikuti santri di luar kegiatan pembelajaran formal. Melalui latihan dan penampilan bersama, mereka belajar membangun kedisiplinan, tanggung jawab, kerja sama, serta rasa percaya diri.
Partisipasi Al-Rosyid yang berpusat di Desa Ngumpakdalem Kecamatan Dander Kabupaten Bojonegoro dalam peringatan Hari Santri Nasional 2026 di Bojonegoro pun menjadi ruang bagi para santri untuk menunjukkan hasil proses pendidikan yang dijalani selama ini.
Lebih dari sekadar pertunjukan, penampilan kolosal tersebut membawa pesan bahwa santri perlu memiliki bekal ilmu, keterampilan, dan mental yang kuat agar mampu mengamalkan nilai-nilai agama sekaligus memberikan manfaat bagi masyarakat.(Red)













