JagatSembilan.com | Bojonegoro – Almarhum H. Chozin Mabruri dan Almarhumah Hj. Asriah adalah orang tua dari Hj. Nurul Azizah dan Dulur Pitu. Dari acara haul yang digelar pada Minggu (07/04/2024) ternyata banyak kenangan dan pesan almarhum untuk anak-anaknya dan tetangga.
Ini seperti diutarakan oleh Didik Farkhan, Kajati Banten yang juga merupakan salah satu dari dulur Pitu saat memberikan sambutan mewakili keluarga.
Menurutnya, dulu alm H. Chozin Mabruri orang punya keinginan kuat untuk belajar atau sekolah. Namun karena kondisi ekonomi hanya bisa sekolah sampai Tsanawiyah (SMP) sambil belajar di Pondok Pesantren.
Setelah itu, lanjut Didik, almarhum kerja di pabrik kayu, kemudian menikah dengan ibu pada 30 September 1965. Saat itu usia Alm 25 tahun, sementara Ibu usia 16 tahun.
“Bapak itu dalam memberikan nama anak-anaknya penuh makna yang dalam. Maka anak pertama namanya Hamida Hayati itu artinya belajar hidup. Maklum anak pertama masih belajar berumah tangga,” kata Didik sapaan akrabnya.
Saat itu Almarhum dagang kecil-kecilan di rumah. Namun usahanya tidak berkembang. Di kondisi ini maka lahirlah anak kedua yang diberi nama, Nurul Azizah. Yang artinya Cahaya kekuatan.
“Sejak dulu Almarhum memang ingin anak kedua ini seorang perempuan yang kuat. Dari kata Azizah itu merupakan doa orang tua,” terang Didik.
Di situasi ekonomi yang sulit itu, almarhum sempat mencari kerja ke Kalimantan. Namun juga tidak mendapat pekerjaan yang pas, akhirnya kembali ke Bojonegoro. Saat itu tahun 1971 ada lowongan CPNS Departemen Agama, Almarhum mendaftar, dan diterima.
“Bapak melamar dengan ijazah Tsanawiyah diterima dengan golongan 1B. Saat diterima sebagai Depag itu lahirlah saya. Bapak memberi saya nama Farkhan Alisyahdi. Artinya, Farkhan itu gembira, Alisyahdi, Ali itu berhati mulia dan Syah itu anak laki-laki. Gembira karena diterima PNS,” terangnya.
Kemudian Didik juga menceritakan, lahirnya anak ke empat yakni, Elfia Nuraini yang berarti adalah cahaya kehidupan. Artinya setelah jadi PNS, sudah kedua ortu merasa sudah ada tanda-tanda kehidupan.
Setelah itu lahir anak ke lima yang bernama Ulfa Kholili. Yang sekarang menjadi dokter spesialis Penyakit dalam dan dosen Fakultas Kedokteran Unair. Ulfa Kholili berarti pembawa keharmonian. Dan anak keenam diberi Erna Zulaikhah yang artinya putri yang cantik dan mudah bergaul
“Dan terakhir lahirnya anak ke tujuh yang bernama Helmi Ali Fikri. Maksud dari pemberian nama itu, bapak ingin di keluarga kita ada yang bisa menjadi pemikir pada masa mendatang,” terangnya.

Pada kesempatan itu, Pak Didik juga menceritakan bahwa setelah pegawai negeri juga masih terus belajar formal dengan sekolah SMEA dan melanjutkan kuliah, namun tidak selesai.
Menurut Didik, hal yang paling diingat dari kedua orangtuanya adalah figur yang menyuruh berbuat baik pada sesamanya. Terutama Ibu selalu pesan harus selalu menyapa dan tersenyum kepada orang lain, terutama tetangga.
“Senyum itu kan gratis, masa tidak bisa. Kemudian harus berbuat baik dan membantu orang lain. Dan kalau tidak bisa membantu orang, minimal jangan pernah mempersulit orang ,” kata Didik mengenang pesan-pesan almarhum.
Sementara itu, Abd. Jamal BPD Desa Sumbertlaseh mempunyai kenangan juga mempunyai kenangan terhadap almarhum H. Chozin Mabruri dan istrinya. Menurutnya, dirinya mmengenal betul sosok Almarhum H. Chozin Mabruri dan Hj Asri’ah semasa hidupnya.
“Beliau berdua sangat tinggi sosial kemasyarakatannya dan sosial keagamaanya. Selain itu Beliau tidak pernah membeda-bedakan masyarakat, semua dianggap sama dan saudara,” terang Pak Jamal.
Selain itu menurut Pak Jamal, H. Chozin dan istri sangat perhatian terhadap lingkungan dan juga tempat-tempat Ibadah.
“Beliau juga dahulu menjabat Ketua Takmir Masjid Jami’ As Salafiyah Desa Sumbertlaseh. Yang jelas beliau enak bergaul, supel dan murah senyum,” tambah Pak Jamal.
Menurut Pak ke tujuh Putra-Putri H. Chozin dan istri mewarisi sifat-sifat luhurnya. Dia mengatakan, Alhamdulillah ke 7 putra putrinya semua mewarisi sifat sifat kedua Almarhum dan Almarhumah.
“Semoga keduanya Husnul Khotimah. Aamiin.” pungkas Pak Jamal.
Senada dengan Abd. Jamal, Fandi yang juga warga Sumbertlaseh mengatakan, H. Chozin Mabruri itu suka menolong orang lain walaupun didalam keadaan susah.
“Sementara Hj. Asriah istri H. Chozin Mabruri sangat menghormati orang lain apapun latar belakangnya,” terang Fandi














