JagatSembilan.com | Bojonegoro – Sebanyak 13 aspirasi dan aduan masyarakat mendapat jawaban langsung dari Bupati Bojonegoro Setyo Wahono dalam acara Sapa Bupati edisi VI di Pendopo Malowopati Bojonegoro, Kamis (3/9/2026). Dari persoalan infrastruktur hingga pemberdayaan ekonomi, aspirasi warga menjadi dasar penegasan pemerintah bahwa pembangunan harus berangkat dari kebutuhan masyarakat.
Bupati Bojonegoro Setyo Wahono bersama Wakil Bupati Nurul Azizah dalam kegiatan tersebut menegaskan bahwa perencanaan pembangunan dari berbagai sektor harus bersumber dari kebutuhan masyarakat. Dialog interaktif itu mengusung tema “Menata Kota, Memudahkan Warga”.
Keduanya hadir untuk mendengarkan, berdialog, sekaligus memberikan jawaban atas berbagai usulan dan keluhan atau uneg-uneg masyarakat.
“Pembangunan yang dilakukan Pemkab Bojonegoro bertumpu pada satu komitmen yaitu berangkat dari keresahan dan keinginan masyarakat, bukan dari keinginan pejabat. Karena perencanaan berbasis keinginan masyarakat akan besar manfaatnya,” ujar Bupati Wahono.
Sebanyak 13 aspirasi yang disampaikan masyarakat mencakup berbagai persoalan. Di antaranya infrastruktur, tata kota, lalu lintas, pemberdayaan ekonomi, UMKM dan PKL, pelayanan publik, serta kesejahteraan masyarakat, khususnya program Gayatri (Gerakan Beternak Ayam Petelur Mandiri) dan beasiswa.
Menurut pemerintah daerah, respons langsung terhadap aspirasi tersebut menjadi bagian dari transparansi tata kelola pemerintahan dengan menerapkan metode bottom-up, yakni pembangunan yang disusun berdasarkan kebutuhan masyarakat.
Wakil Bupati Bojonegoro Nurul Azizah menambahkan, transparansi dan respons terhadap aspirasi masyarakat dilakukan melalui tiga sarana, yakni WhatsApp, hadir di tengah masyarakat melalui Medhayoh, serta SAPA Bupati.
Terkait strategi pengurangan angka kemiskinan, Nurul Azizah mengatakan pemerintah saat ini menjalankan upaya dengan mengurangi belanja sekaligus meningkatkan pendapatan masyarakat. Salah satunya melalui pembangunan infrastruktur dan sarana prasarana.
Ia menyebut sejumlah program yang telah dijalankan, termasuk BKKD dan 5.710 plesterisasi RTLH pada 2026.
“Maka dengan ini harapannya pendapatan naik karena juga adanya revitalisasi pasar, air bersih melalui SPAM terealisasi, masyarakat dan petani pendapatannya naik,” jelasnya.
Usulan Penataan Bundaran Jetak
Salah satu aspirasi disampaikan Risman Edi Satria dari Desa Pungpungan, Kecamatan Kalitidu. Ia mengusulkan penataan kawasan Bundaran Jetak dan Adipura, terutama terkait keberadaan taman yang dinilai mengganggu kenyamanan kendaraan, khususnya truk berukuran besar.
“Cukup disisakan tugu ikoniknya saja. Karena saya melihat sendiri setelah diperbaiki rusak lagi,” ujarnya.
Menanggapi usulan tersebut, Bupati Wahono mengatakan telah berkoordinasi dengan pemerintah pusat karena kawasan tersebut berada di jalur nasional. Koordinasi dilakukan untuk mengecilkan ukuran bundaran tersebut.
JLS dan Masa Depan Ekonomi Warga
Aspirasi lain berkaitan dengan rencana pembangunan Jalur Lingkar Selatan (JLS) disampaikan Jefri Mubarok, Pengamat Ruang Tata Kota dari Kelurahan Karangpacar.
Ia menyampaikan perhatian terhadap nasib usaha rakyat dan ratusan UMKM yang berada di sepanjang jalur lama. Selain itu, ia memberikan saran mengenai perlunya “mesin ekonomi” baru bagi Bojonegoro.
Menjawab hal tersebut, Bupati Wahono menjelaskan bahwa ke depan akan ada pengembangan kawasan ekonomi baru di jalur Balen-Leran-Ngujo.
“Karena pembangunan JLS ini sudah direncanakan dari periode-periode sebelumnya dan berdasar pada keresahan masyarakat,” jawabnya.
Sementara itu, Najib, salah satu masyarakat yang tergabung dalam Lembaga Asosiasi PKL dan Usaha Mikro, Pemberdayaan Ekonomi Kerakyatan, menyampaikan aspirasi terkait keberadaan pedagang kaki lima.
Ia mewakili PKL berharap penataan kota tidak menghilangkan kepedulian terhadap pemberdayaan ekonomi kerakyatan.
Menjawab aspirasi tersebut, Bupati Wahono menegaskan komitmennya untuk tetap melindungi dan mendukung PKL dalam proses penataan kota.
“Pasti kami lindungi dan support, khususnya PKL. Kadin juga sudah menyatakan dukungannya. Ke depan, penataan kota akan dibuat ikonik, masyarakat yang melintas merasa nyaman, dan pedagang tetap untung. Kami akan melakukan audiensi dengan para PKL untuk memperbaiki tata kelola dan mengakomodir usulan yang ada,” ujarnya.
Pemerintah Ajak Masyarakat Bersinergi
Di akhir sesi, Bupati Bojonegoro menegaskan bahwa pembangunan daerah membutuhkan kolaborasi antara pemerintah dan seluruh elemen masyarakat.
“Kita berdua (Bupati dan Wabup) tidak bisa membangun Bojonegoro tanpa adanya sinergi dari seluruh lapisan masyarakat,” tutup Bupati Wahono mengakhiri dialog interaktif SAPA Bupati edisi VI.
Melalui kegiatan tersebut, aspirasi, aduan, serta kritik yang membangun dari masyarakat dinilai penting bagi Pemerintah Kabupaten Bojonegoro sebagai bahan dalam menyusun kebijakan yang tepat sasaran.
Pemerintah Kabupaten Bojonegoro melalui Dinas Komunikasi dan Informatika juga menyediakan sarana pengaduan SP4N LAPOR yang dapat diakses masyarakat melalui situs resmi layanan tersebut.(Red)













