5 Langkah Ayah Hadir dalam Semangat GAMAS

H. Ali Musthofa
H. Ali Musthofa

Oleh: H. Ali Musthofa, M.HI

Gerakan Ayah Mengantar Anak Sekolah atau GAMAS patut mendapat dukungan luas. Gerakan ini menjadi langkah konkret untuk menguatkan keterlibatan ayah dalam pendidikan dan pengasuhan anak. Kegiatan mengantar anak pada hari pertama sekolah memang tampak sederhana. Namun, kegiatan tersebut membawa pesan penting bahwa pendidikan anak bukan hanya urusan ibu, guru, madrasah, atau pesantren. Ayah juga memiliki tanggung jawab untuk hadir dalam proses tumbuh kembang anak.

GAMAS merupakan implementasi Gerakan Ayah Teladan Indonesia atau GATI yang digagas Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/BKKBN bersama instansi terkait. Di lingkungan madrasah, gerakan ini memperoleh dukungan Kementerian Agama. Kantor Kementerian Agama Kabupaten Bojonegoro, misalnya, telah mengajak para ayah mengantarkan anak pada hari pertama masuk madrasah. Ajakan tersebut mencakup satuan pendidikan mulai Raudlatul Athfal, Madrasah Ibtidaiyah, Madrasah Tsanawiyah, hingga Madrasah Aliyah. Madrasah juga diminta menyosialisasikan dan mendokumentasikan pelaksanaan kegiatan tersebut.

Program ini tidak seharusnya dipahami hanya sebagai agenda satu hari. GAMAS membawa pesan lebih luas tentang kehadiran ayah dalam pendidikan anak. Kehadiran itu tidak hanya berbentuk pengantaran secara fisik, tetapi juga perhatian, komunikasi, keteladanan, perlindungan, dan dukungan emosional.

GAMAS dan Makna Kehadiran Ayah

Nama GATI memiliki kedekatan makna dengan masyarakat Jawa. Kata gati dapat dipahami sebagai perhatian, kepedulian, dan kesungguhan. Makna tersebut selaras dengan tujuan gerakan. Ayah teladan bukan hanya ayah yang bekerja keras dan memenuhi kebutuhan ekonomi keluarga. Ayah teladan juga menunjukkan perhatian terhadap pendidikan, perasaan, pergaulan, akhlak, dan masa depan anak.

Mengantar anak pada hari pertama sekolah memiliki arti simbolik. Anak sedang memasuki lingkungan baru. Ia bertemu guru, teman, aturan, dan kebiasaan yang mungkin belum dikenalnya. Sebagian anak merasa gembira. Sebagian lainnya merasa takut, cemas, malu, atau kurang percaya diri. Kehadiran ayah dapat memberi rasa aman. Anak memahami bahwa perjalanan pendidikan yang akan dijalaninya mendapat perhatian dan dukungan keluarga.

GAMAS juga dapat membuka hubungan antara ayah dan madrasah. Ayah mulai mengenal tempat anak belajar, bertemu guru, melihat lingkungan pendidikan, serta memahami proses yang akan dijalani anak. Hubungan ini penting karena madrasah tidak dapat mendidik anak sendirian. Pendidikan akan lebih kuat ketika keluarga dan lembaga pendidikan membangun komunikasi yang baik, terbuka, dan saling mendukung.

Ayah Bukan Hanya Pencari Nafkah

Keluarga sering menempatkan ayah sebagai penanggung jawab utama kebutuhan ekonomi. Peran tersebut sangat penting. Namun, tanggung jawab ayah tidak berhenti pada pembayaran biaya sekolah, pemberian uang saku, pembelian perlengkapan belajar, atau pemenuhan kebutuhan sehari-hari.

Ayah juga memiliki tanggung jawab pendidikan. Ia perlu mengetahui perkembangan belajar anak, mengenal lingkungan sekolahnya, memahami pergaulannya, serta mendengarkan persoalan yang sedang dihadapi anak. Anak membutuhkan ayah yang bekerja untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Namun, anak juga membutuhkan ayah yang bersedia mendengar, memahami, dan mendampinginya.

Kehadiran fisik dan kehadiran emosional merupakan dua hal yang berbeda. Seorang ayah dapat tinggal serumah dengan anak, tetapi belum tentu mengetahui apa yang sedang dirasakan anak. Kesibukan kerja, jarak tempat kerja, tekanan ekonomi, serta kebiasaan komunikasi yang kurang terbuka dapat membatasi hubungan ayah dan anak.

Karena itu, GAMAS tidak boleh digunakan untuk menilai atau menyalahkan ayah yang tidak dapat mengantar anak secara langsung. Setiap keluarga memiliki keadaan berbeda. Ada ayah yang bekerja jauh, sedang sakit, telah meninggal dunia, atau menghadapi kondisi lain. Inti gerakan ini bukan semata-mata perjalanan dari rumah menuju sekolah. Intinya ialah kesediaan ayah menghadirkan perhatian sesuai kemampuannya.

Ayah yang tidak dapat mengantar secara langsung tetap dapat menelepon, mendoakan, memberi semangat, atau menyediakan waktu untuk berbicara dengan anak. Perhatian yang sederhana tetapi dilakukan dengan sungguh-sungguh dapat memberi arti besar bagi anak.

Luqman sebagai Model Ayah Dialogis

Islam memberikan gambaran kuat tentang peran ayah melalui kisah Luqman. Dalam Q.S. Luqman ayat 13 sampai 19, Luqman tampil sebagai seorang ayah yang aktif berbicara dan mendidik anaknya. Al-Qur’an tidak menggambarkan Luqman sebagai ayah yang jauh, diam, dan menyerahkan seluruh pendidikan kepada pihak lain. Ia hadir dalam percakapan.

Luqman menggunakan panggilan yā bunayya, yang berarti “wahai anakku”. Sapaan tersebut menunjukkan kelembutan, kasih sayang, dan kedekatan. Nasihat tidak disampaikan melalui bentakan, penghinaan, atau ancaman. Luqman memberikan pesan penting dengan bahasa yang menyentuh hati anak.

Isi pendidikannya juga luas. Luqman mengajarkan tauhid dan melarang perbuatan syirik. Ia menanamkan kesadaran bahwa setiap perbuatan, sekecil apa pun, berada dalam pengetahuan Allah. Ia juga mengajarkan salat, kepedulian terhadap kebaikan, keberanian mencegah kemungkaran, kesabaran, kerendahan hati, dan kesantunan dalam berbicara.

Kisah tersebut menunjukkan bahwa pendidikan anak tidak cukup dilakukan melalui perintah. Pendidikan membutuhkan dialog, penjelasan, keteladanan, pengulangan, dan kesediaan mendengarkan. Anak tidak hanya memerlukan jawaban tentang apa yang harus dilakukan. Anak juga perlu memahami alasan dan nilai yang mendasarinya.

Model Luqman sangat relevan dengan semangat GAMAS. Perjalanan menuju sekolah dapat menjadi ruang dialog sederhana antara ayah dan anak. Ayah dapat bertanya tentang perasaan, harapan, kekhawatiran, atau hal yang ingin dipelajari anak. Pertanyaan seperti, “Apakah kamu senang masuk madrasah hari ini?”, “Adakah yang membuatmu khawatir?”, atau “Apa yang dapat Ayah bantu?” dapat membuka komunikasi yang lebih dekat.

Ayah teladan bukan ayah yang paling ditakuti anak. Ayah teladan ialah ayah yang kehadirannya membuat anak merasa aman untuk belajar, bertanya, mengakui kesalahan, dan meminta pertolongan. Ia tegas ketika diperlukan, tetapi tetap menjaga kelembutan dan keterbukaan.

Madrasah dan Pesantren sebagai Mitra Keluarga

Madrasah dan pesantren memiliki peran besar dalam pembentukan iman, ilmu, akhlak, dan adab anak. Namun, menyekolahkan atau memondokkan anak tidak berarti memindahkan seluruh tanggung jawab pendidikan kepada guru, ustaz, kiai, atau pengasuh.

Lembaga pendidikan menjadi mitra keluarga. Nilai yang diajarkan di madrasah perlu dikuatkan di rumah. Jika madrasah mengajarkan kedisiplinan, ayah perlu memberi contoh menghargai waktu. Jika pesantren mengajarkan kesederhanaan, keluarga juga perlu membiasakan pola hidup yang wajar. Jika guru mengajarkan kejujuran, anak perlu melihat kejujuran dalam perilaku orang tuanya.

Prinsip yang sama berlaku bagi orang tua santri. Anak yang tinggal jauh dari rumah tetap membutuhkan perhatian ayah. Ia membutuhkan komunikasi, doa, dukungan, dan kesempatan untuk bercerita tanpa langsung dihakimi. Kiriman biaya pendidikan penting, tetapi perhatian emosional tidak boleh diabaikan.

Anak boleh tinggal jauh dari rumah. Namun, ia tidak boleh merasa jauh dari perhatian ayah. Pesannya sederhana: anak mondok, ayah tetap hadir.

Dari Mengantar Menuju Pendampingan

Mengantar anak pada hari pertama masuk sekolah merupakan awal yang baik. Namun, pesan GAMAS akan semakin kuat ketika kegiatan tersebut dilanjutkan melalui pendampingan yang berkelanjutan. Para ayah dapat memulainya melalui lima langkah sederhana.

Pertama, luangkan waktu dan dengarkan anak. Ayah tidak harus menyediakan waktu yang panjang. Beberapa menit setiap hari dapat menjadi ruang penting bagi anak untuk menceritakan pengalaman, kesulitan, dan harapannya. Pada saat berbicara, ayah perlu mengurangi gangguan dari telepon seluler, pekerjaan, atau kegiatan lain. Anak perlu merasakan bahwa ayah benar-benar mendengarkan.

Kedua, kenali lingkungan pendidikan anak. Ayah perlu mengetahui nama wali kelas, tempat belajar, kegiatan sekolah, dan perkembangan anak selama berada di madrasah. Keterlibatan ini tidak berarti mencampuri seluruh urusan lembaga. Ayah cukup menunjukkan bahwa pendidikan anak merupakan perkara penting yang perlu diperhatikan.

Ketiga, hargai proses belajar, bukan hanya nilai. Nilai dan prestasi memang penting. Namun, anak juga perlu ditanya tentang pelajaran yang disukai, kesulitan yang dialami, usaha yang telah dilakukan, dan bantuan yang dibutuhkan. Penghargaan terhadap proses akan membantu anak belajar tekun, bertanggung jawab, dan berani memperbaiki kekurangan.

Keempat, berikan keteladanan dan rasa aman. Ayah tidak cukup hanya menyuruh anak salat, belajar, menghormati guru, dan berkata jujur. Anak membutuhkan contoh nyata. Ia juga membutuhkan tempat aman ketika menghadapi kegagalan, konflik dengan teman, perundungan, atau masalah lain. Ayah perlu mendengarkan lebih dahulu sebelum menilai dan memberi nasihat.

Kelima, dampingi kehidupan sosial dan digital anak. Kehidupan anak saat ini tidak hanya berlangsung di rumah dan sekolah. Anak juga belajar, bermain, dan berkomunikasi melalui internet. Ayah perlu memahami aktivitas digital anak, mengenalkan etika penggunaan teknologi, serta menjelaskan risiko perundungan daring, penipuan, konten yang tidak sesuai, dan penyalahgunaan data pribadi.

Kementerian Agama, Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/BKKBN, madrasah, pesantren, serta instansi terkait telah membuka ruang penting melalui GAMAS. Dukungan masyarakat diperlukan agar gerakan ini tidak berhenti pada dokumentasi hari pertama sekolah. Foto ayah dan anak dapat memperluas pesan gerakan. Namun, keberhasilannya tidak cukup diukur dari jumlah foto yang diunggah.

Ukuran yang lebih penting ialah tumbuhnya kebiasaan ayah untuk mendengar, mendampingi, mendidik, melindungi, dan menjadi teladan. GAMAS perlu berkembang menjadi budaya pengasuhan yang menempatkan ayah dan ibu sebagai mitra, serta madrasah dan pesantren sebagai bagian dari kerja bersama dalam pendidikan anak.

Mengantar anak ke sekolah adalah langkah awal. Setelah itu, terdapat perjalanan panjang yang membutuhkan kehadiran ayah. Luqman telah memberi teladan bahwa ayah mendidik melalui dialog, kasih sayang, nilai agama, dan keteladanan.

Ayah hadir. Ayah mendengar. Ayah menuntun. Di situlah perhatian menemukan bentuknya. Di situlah semangat GATI dan GAMAS memperoleh makna yang sesungguhnya.

*) Penulis adalah H. Ali Musthofa Kepala Urusan Agama di Kabupaten Bojonegoro 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *