Oleh : Ibnu Khakim, MHI
Kemarin, Rabu, 13 Nopember 2024, telah berhasil dihelat debat calon Bupati/wakil Bupati Bojonegoro yang sebelumnya sempat terjadi ketidakkondusifan, yang mana debat itu sendiri merupakan salah satu syarat dalam penyelenggaraan pemilihan kepala daerah atau pilkada itu menjadi panggung bagi para calon untuk memaparkan visi, misi, dan program.
Tak hanya itu, debat pilkada juga dianggap sebagai momentum bagi calon untuk meyakinkan pemilih dalam menentukan pilihannya. Nah, seberapa besar dampak dari debat pilkada ke elektabilitas calon?
Direktur Eksekutif Voxpol Center Research and Consulting Pangi Chaniago berpandangan, mencermati variabel multivariat, variabel independen, dan variabel dependen yang menyebabkan orang mengambil keputusan, maka figur atau ketokohan kandidat berpengaruh paling besar, yakni 70-80 persen. Selanjutnya adalah partai politik pengusung dalam rentang pengaruh 6-20 persen. Sementara debat pilkada tak terlepas dari variabel isu (10 persen) dan program (25-30 persen). Momen debat bisa dimanfaatkan kandidat untuk meyakinkan publik agar memilihnya lewat paparan visi, misi, dan program. Meski begitu, menurut dia, pengaruh debat antar kandidat pilkada hanya sebesar 5-10 persen terhadap pilihan publik.
Lantas seberapa besar debat mempengaruhi penentuan pilihan di kalangan Pesantren, yakni para Kyai dan Santri ? Pesantren adalah instansi pendidikan klasik yang sampai saat ini masih eksis di Indonesia, dimana Kyai menjadi tokoh sentral dalam instansi tersebut, ia akan menyampaikan kajian-kajian dan pandangan bahkan pilihannya melalui berbagai media misalnya, masjid atau mushola, majelis ta’lim, pengajian umum, organisasi sosial keagamaan dan lain sebagainya. Secara umum figur Kyai sudah menentukan pilihan calon pemimpin jauh hari sebelum debat, bahkan jauh hari sebelum paslon mendaftar ke KPU, ini disebabkan rata-rata paslon akan sowan Kyai untuk meminta saran dan arahan, bahkan meminta isyarat langit tentang pencalonan dan kemungkinan menang atau kalah, hal semacam ini merata di Indonesia, tidak terkecuali Bojonegoro, yang sebagaimana kita ketahui bersama, paslon sangat rajin sowan ke kyai-kyai di Bojonegoro bahkan Kyai luar Bojonegoro yang dipertimbangkan mempunyai akses kuat di Bojonegoro, semisal sowan ke kyai Tuban, Rembang, Lamongan, Jombang dan daerah lainnya.
Melihat ilustrasi realita di atas, debat tidak terlalu signifikan sebenarnya kalau dicermati pengaruhnya terhadap penentuan pilihan. Di Bojonegoro pengaruhnya tidak terlalu tinggi, dikarenakan pemilih rasionalnya (yaitu pemilih yang mampu menentukan pilihan dengan melihat melihat rekam jejak, visi, dan misi calonnya ) di tidak terlalu tinggi, efek debat sebenarnya tidak lebih dari 5 persen saja. Pemilih di Bojonegoro Mayoritas adalah pemilih emosional (pemilih yang memiliki hubungan emosional sangat kuat dengan identitas yang membentuk dirinya dari sejak lahir. Identitas itu bisa berbentuk dalam paham ideologis, agama, dan budaya). Kemudiaan pemilih Rasional – Emosional (yakni tipe pemilih yang cenderung akan diam ketika melihat isu yang bersifat agama, identitas, dan simbolik digaungkan karena mereka membutuhkan waktu untuk memproses informasi tersebut. Namun dalam proses penerjemahan informasi tersebut faktor emosional alam bawah sadar masih dominan, sehingga proses penerjemahan informasi terdistorsi oleh faktor-faktor yang secara tidak sadar membentuk pola pikir mereka.)
Pengaruh yang tidak seberapa signifikan tidak sebanding dengan biaya yang dikeluarkan KPU yang tidak kurang dari Rp. 230 Juta sekali debat, dan KPU merencanakan akan menggelar debat sebanyak tiga kali.
Pemilih rasional di Bojonegoro memang cenderung naik seiring dengan naiknya tingkat pendidikan yang mereka tempuh. Namun, persentase pemilih tersebut dapat mengecil apabila terdapat penggunaan politik uang dan guyuran bantuan sosial yang bisa memengaruhi pilihan pemilih. Bahkan sebuah informasi yang cukup akurat memaparkan hampir 80 persen pengaruh politik uang dan bantuan tersebut.
Pengaruh besar dari debat muncul setelahnya lewat kerja-kerja tim pemenangan. Debat kerap menyediakan banyak konten propaganda untuk serangan atau menjatuhkan lawan, dan sebaliknya promosi nilai-nilai tertentu. Namun, apapun itu, debat adalah merupakan salah satu tahapan Pilkada yang mesti di gelar dan di ikuti dengan baik.
*) Penulis Ibnu Khakim, MHI, Intelektual Muda dan Instruktur PBNU, Dosen dan Pengasuh Pesantren Salafiyah Raudlatul Muslimin yang berdomisili di Desa Sumberarum Kecamatan Ngraho Kabupaten Bojonegoro.













