Makam Raden Citro Yudho di Balen Selamat dari Longsor, Cungkup Runtuh Terbawa Arus Bengawan Solo

Makam Raden Citro Yudho

JagatSembilan.com | Bojonegoro – Longsor akibat banjir Bengawan Solo menghantam kawasan makam sesepuh Desa Sekaran, Kecamatan Balen, Kabupaten Bojonegoro, pada akhir Mei 2025. Bangunan cungkup makam K.H. Abdul Qodir Jailani alias Raden Citro Yudho ambruk dan ikut terbawa material longsor, namun makam utama tokoh penyebar agama Islam tersebut tetap utuh dan tidak mengalami kerusakan.

Menurut Malik, tokoh masyarakat setempat pada jagatsembilan.com mengatakannya, peristiwa longsor ini terjadi pada 28 Mei 2025, setelah sebelumnya tanda-tanda abrasi sudah terlihat sejak setahun lalu. Tebing di bantaran Bengawan Solo amblas sepanjang sekitar 50 meter dengan ketinggian tebing mencapai 7 meter. Data dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Bojonegoro menyebut, penyebab longsor dipicu fluktuasi tinggi muka air (TMA) sungai terbesar di Jawa Timur itu.

“Alhamdulillah makam utamanya tetap selamat, meski cungkup yang menaungi sudah roboh. Kami bersama pemerintah desa dan masyarakat terus berkoordinasi agar ada penanganan lebih lanjut dari BBWS Bengawan Solo,” ujar Malik. Senin (08/09/2025).

Malik juga menambahkan, pihaknya berharap perhatian dari Pemerintah Kabupaten Bojonegoro untuk membantu perbaikan.

“Kami sangat berharap Pemkab bisa turun tangan memperbaiki makam ini, baik cungkup maupun bagian lain yang rusak akibat longsor, karena ini adalah warisan berharga bagi masyarakat,” ungkapnya.

Pemerintah Desa Sekaran telah melakukan langkah darurat dengan menutup akses area rawan longsor dan melaporkan kejadian ini kepada Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Bengawan Solo. Harapannya, segera ada upaya proteksi berupa bronjong atau tembok penahan agar lokasi makam lebih aman.

Makam Raden Citro Yudho memiliki nilai sejarah dan spiritual penting bagi warga. Tokoh yang wafat sekitar tahun 1833 ini dikenal sebagai penyebar agama Islam di wilayah Bojonegoro dan pendiri masjid kedua tertua di daerah tersebut pada abad ke-18. Hingga kini, masyarakat masih rutin menggelar haul tahunan untuk mengenang jasanya.

Meskipun cungkup makam telah hilang akibat longsor, masyarakat tetap menjaga keberadaan makam utama yang tetap berdiri kokoh. Bagi warga Sekaran, fenomena ini bukan hanya bencana alam, melainkan juga pengingat tentang keteguhan warisan leluhur yang harus terus dijaga.(Amin)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *