JagatSembilan.com | Bojonegoro – Program Corporate Social Responsibility (CSR) CITA Indonesia dalam bentuk penyerahan bantuan straw dan sosialisasi vaksin Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) mendapat apresiasi dari Dinas Peternakan dan Perikanan (Disnakkan) Kabupaten Bojonegoro.
Hal itu disampaikan Sekretaris Dinas Peternakan dan Perikanan Bojonegoro, Ir. Elfia Nuraini, dalam sambutannya pada kegiatan Ceremonial Program Sponsorship CITA Indonesia yang digelar di Aston Hotel Bojonegoro, Jumat (13/02/2026).
Dalam sambutannya, ia menyampaikan apresiasi atas kolaborasi yang terjalin. “Terima kasih kami sampaikan kepada CITA Indonesia yang telah memberikan kepercayaan kepada kami untuk berkolaborasi dalam pelaksanaan program Corporate Social Responsibility (CSR) dalam mendukung program peningkatan produksi susu dan daging nasional kementerian pertanian republik indonesia,” ujar Elfia.
Ia memaparkan, populasi sapi di Kabupaten Bojonegoro tahun 2026 mencapai 195.670 ekor, dengan capaian pelayanan inseminasi buatan (IB) tahun 2025 sebanyak 50.997 dosis pada 43.961 ekor indukan akseptor. Dari jumlah tersebut, tercatat kelahiran 13.387 ekor betina dan 17.159 ekor jantan.
Menurutnya, capaian tersebut didukung oleh 66 petugas IB, yang sebagian juga merangkap sebagai petugas pemeriksa kebuntingan, asistensi reproduksi, dan embrio transfer. Dengan kekuatan tersebut, potensi peningkatan produksi dan produktivitas sapi potong di Bojonegoro dinilai masih terbuka lebar.
Dalam kesempatan itu, Elfia juga menyoroti tantangan penyakit hewan, khususnya PMK, yang berdampak tidak hanya pada aspek ekonomi tetapi juga performa reproduksi sapi.
“Pada kesempatan yang berbahagia ini, dapat kami sampaikan juga bahwa tantangan penyakit hewan terutama untuk penyakit mulut dan kuku (PMK) tidak hanya menyebabkan kerugian ekonomi akibat penurunan produksi susu, pertambahan bobot badan, dan kematian ternak, tetapi juga berdampak signifikan terhadap performa reproduksi sapi,” tambahnya.
Ia menjelaskan secara ilmiah, infeksi virus PMK dapat menyebabkan demam tinggi, stres metabolik, serta gangguan sistem hormonal yang memengaruhi siklus reproduksi. Dampaknya antara lain penurunan birahi, gangguan kebuntingan, abortus, hingga turunnya tingkat konsepsi.
Berdasarkan hasil investigasi Bidang Kesehatan Hewan dan pelaporan kasus PMK di Kabupaten Bojonegoro periode 29 Januari hingga 4 Februari 2026, tercatat 130 ekor ternak terkonfirmasi PMK. Dari jumlah tersebut, 123 ekor dinyatakan pulih (recovery) dan 7 ekor mati.
“Data ini menunjukkan bahwa upaya penanganan dan pengendalian PMK yang telah dilakukan berjalan cukup efektif, namun tetap memerlukan penguatan melalui vaksinasi, biosekuriti, dan peningkatan kewaspadaan dini di tingkat peternak dan petugas lapangan,” terangnya.
Selain tantangan penyakit, Elfia juga menyinggung menurunnya daya beli masyarakat dan berkurangnya regenerasi peternak sapi yang turut berdampak pada pengembangan usaha budidaya sapi potong.

Namun demikian, pihaknya menegaskan tetap berkomitmen meningkatkan kualitas SDM petugas dan peternak, serta memperkuat kerja sama dengan berbagai pemangku kepentingan.
“Besar harapan kami kerjasama ini akan terus berlanjut dan terus berkembang pada komoditas ternak lainnya,” harapnya.
Ia juga berpesan kepada petugas inseminasi buatan agar mengalokasikan semen beku sesuai dengan sasaran yang telah ditetapkan dan segera melaporkannya sebagai bentuk pertanggungjawaban program.
Kepada para peternak, ia mengajak untuk terus mendukung upaya bersama dalam memajukan sektor peternakan sapi di Bojonegoro.
“Dan kepada peternak sapi di bojonegoro, kami mohon dukungan dan kerjasama dalam upaya kita bersama dalam memajukan peternakan sapi agar peternak sapi di kabupaten bojonegoro menjadi peternak yang bahagia, makmur dan membanggakan.” pungkasnya.
Pada acara itu juga dihadiri oleh Direktur Kesehatan Hewan yang diwakili oleh, drh. Arif Wicaksono, Dinas Peternakan dan Perikanan Jatim diwakili oleh drh. Nuria, Perwakilan dari CITA Indonesia Dr. Ir. Virnanda Aprila Hapsara dan tamu undangan lainnya.
Melalui kolaborasi antara pemerintah daerah dan dunia usaha seperti CITA Indonesia, diharapkan sektor peternakan sapi di Bojonegoro semakin kuat, produktif, dan tangguh menghadapi tantangan penyakit maupun dinamika ekonomi.














