JagatSembilan.com | Tuban – Suasana khidmat menyelimuti Aula Kantor Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kabupaten Tuban pada Sabtu (28/2/2026) malam hingga dini hari. Melalui agenda rapat koordinasi yang dipungkasi dengan sahur bersama, jajaran pimpinan PCNU, lembaga, hingga badan otonom (banom) melakukan konsolidasi besar untuk memperkuat tata kelola organisasi dan layanan umat.
Acara dimulai pukul 21.00 WIB dengan tradisi spiritual khotmil Quran yang diikuti oleh seluruh peserta, disusul pembacaan mahalul qiyam. Hadir dalam pertemuan maraton ini Rois Syuriyah PCNU Tuban KH Dr. Achsan Ghozali, Khatib Syuriyah, Ketua PCNU Tuban KH Ahmad Damanhuri, S.Pd.I, serta para ketua dan sekretaris organ di bawah naungan PCNU Tuban.
Konsolidasi dan Kelanjutan Turba
Ketua PCNU Tuban, KH Ahmad Damanhuri, menegaskan bahwa pertemuan ini merupakan kelanjutan strategis dari kegiatan Turun ke Bawah (Turba) yang sedang berjalan. Fokus utamanya adalah memastikan seluruh elemen NU di Tuban bergerak serentak dalam satu koordinasi yang solid.
“Gerakan NU di Tuban harus diperkuat melalui konsolidasi seluruh organ. Kita benahi tata kelola organisasi mulai dari tingkat Cabang hingga ke Ranting agar layanan NU benar-benar memberikan manfaat luas bagi umat, khususnya warga Nahdliyin,” ujar Kiai Damanhuri di tengah jalannya rapat.
Menurutnya, penguatan tata kelola bukan sekadar urusan administratif, melainkan fondasi agar program-program pemberdayaan masyarakat dapat dijalankan secara profesional dan akuntabel.
Tantangan Digital dan Arus Zaman
Sementara itu, Rois Syuriyah PCNU Tuban, KH Dr. Achsan Ghozali, memberikan catatan analitis mengenai tantangan sosiologis yang dihadapi organisasi saat ini. Ia menyoroti fenomena pergeseran aktivitas generasi muda di tengah kuatnya tradisi keagamaan masyarakat Tuban.
“Di satu sisi, antusiasme masyarakat pada kegiatan rutin seperti tahlilan dan yasinan masih sangat tinggi. Namun, tantangan besarnya adalah anak-anak muda kita yang kini lebih banyak menghabiskan waktu dengan gawai (HP) daripada memakmurkan masjid. Ini menjadi pekerjaan rumah bagi lembaga dan banom untuk menghidupkan kembali remaja masjid agar relevan dengan zaman,” tutur Kiai Achsan.
Refleksi hingga Fajar
Pemilihan waktu kegiatan yang berlangsung hingga menjelang waktu sahur ini bukan tanpa makna. Selain sebagai bentuk riyadhah (latihan spiritual) melalui khotmil Quran, momen ini dimanfaatkan untuk berdiskusi secara mendalam tanpa sekat antara pengurus harian dan pimpinan banom.
Melalui momentum sahur bersama ini, PCNU Tuban bertekad melakukan transformasi organisasi yang lebih responsif. Harapannya, NU tidak hanya hadir sebagai penjaga tradisi ritual, tetapi juga mampu menjadi solusi konkret atas persoalan sosial dan tantangan teknologi yang dihadapi generasi muda Nahdliyin di Bumi Wali.
Agenda ditutup dengan doa bersama dan makan sahur dalam suasana kekeluargaan yang erat, menandai dimulainya langkah baru penguatan organisasi di tingkat akar rumput.














