JagatSembilan.com | Bojonegoro – Pengurus Rabithah Ma’ahid Islamiyah Nahdlatul Ulama (RMI NU) Kabupaten Bojonegoro mengeluarkan pernyataan sikap terkait maraknya pemberitaan dugaan tindakan asusila, kekerasan seksual, penyalahgunaan lembaga keagamaan, hingga penyebaran hoaks dan ujaran kebencian yang belakangan ramai di ruang publik dan media sosial.
Pernyataan sikap tersebut disepakati dalam kegiatan silaturahim yang digelar pada Jumat, 22 Mei 2026, di Pondok Pesantren Al Usmaniy, Dukuh Pandean, Desa Glagahwangi, Kecamatan Sugihwaras, Kabupaten Bojonegoro, yang diasuh KH. Hikam Rofiqi.
Kegiatan tersebut dihadiri jajaran Pengurus RMI PCNU Bojonegoro bersama para pengurus pondok pesantren di bawah naungan Nahdlatul Ulama. Dalam forum itu, peserta membahas berbagai persoalan yang tengah viral di masyarakat dan berpotensi mencoreng nama baik pesantren maupun ulama.
Ketua RMI NU Bojonegoro, M. Jauharul Maknun, M.Pd, bersama Sekretaris Ibnu Khakim, M.HI, menegaskan bahwa RMI NU Bojonegoro berkomitmen menjaga marwah kiai, ulama, pondok pesantren, dan lembaga keagamaan NU sebagai pusat ilmu, dakwah, pembinaan akhlak, serta benteng moral bangsa dan negara.
Selain itu, RMI NU Bojonegoro juga menyatakan dukungan penuh kepada aparat penegak hukum untuk menindak tegas segala bentuk tindakan asusila, kekerasan seksual, kekerasan fisik, maupun penyalahgunaan agama dan lembaga pesantren oleh siapa pun tanpa pandang bulu.
“Perbuatan tercela oknum tidak boleh digeneralisasi sebagai wajah pesantren dan ulama secara keseluruhan,” demikian salah satu poin dalam pernyataan sikap tersebut.
RMI NU Bojonegoro juga meminta agar setiap pelanggaran hukum diproses secara profesional, adil, proporsional, serta tetap menjunjung tinggi asas praduga tak bersalah dan perlindungan terhadap korban.
Dalam forum itu, para peserta turut mendorong pondok pesantren dan lembaga keagamaan agar terus memperkuat tata kelola, pengawasan internal, perlindungan santri, serta pembinaan akhlakul karimah demi menciptakan lingkungan pesantren yang aman, sehat, dan bermartabat.
Tidak hanya itu, RMI NU Bojonegoro juga mengimbau masyarakat, tokoh publik, media, dan seluruh elemen bangsa untuk menggunakan media secara bijaksana sebagai sarana edukasi, silaturahim, dan penyebaran nilai-nilai kebaikan.
Silaturahim tersebut ditutup dengan doa bersama dan harapan agar pesantren tetap menjadi pusat pendidikan moral serta peradaban di tengah berbagai tantangan zaman.













