HUT SRC ke-18 di Bojonegoro, Nurul Azizah Tawarkan Kolaborasi dengan Program Gayatri

Nurul Azizah memberikan sambutan pada perayaan HUT SRC ke-18 di Pendopo Malowopati Bojonegoro.
Wakil Bupati Bojonegoro Nurul Azizah menyampaikan sambutan dalam perayaan HUT SRC ke-18 di Pendopo Malowopati Bojonegoro, sekaligus mendorong kolaborasi antara toko SRC dan Program Gayatri untuk memperkuat ekonomi lokal.

JagatSembilan.com | Bojonegoro – Perayaan Hari Ulang Tahun (HUT) Sampoerna Retail Community (SRC) ke-18 di Pendopo Malowopati Bojonegoro menjadi momentum penguatan kolaborasi antara pelaku usaha ritel dan program pemberdayaan ekonomi masyarakat. Dalam kesempatan tersebut, Wakil Bupati Bojonegoro Nurul Azizah menawarkan peluang sinergi antara toko-toko SRC dengan Program Gayatri guna memperkuat ekonomi lokal. Kamis (04/06/2026)

Kegiatan yang mengusung tema “Bukti Nyata #JadiLebihBaik” itu dihadiri Wakil Bupati Bojonegoro Nurul Azizah, Ketua Paguyuban Mitra Sigaret Indonesia (PMSI) Sriyadi Purnomo, Anggota Komisi C DPRD Bojonegoro Suprapto, perwakilan BRI Cabang Bojonegoro, Telkomsel Indonesia, serta ratusan pemilik ritel SRC se-Kabupaten Bojonegoro.

Perayaan tersebut menjadi ajang apresiasi atas perjalanan SRC yang selama 18 tahun berkembang menjadi salah satu komunitas ritel terbesar di Indonesia.

Direktur Utama PT SRC Indonesia Sembilan, Romulus Sutanto, menyampaikan terima kasih kepada seluruh mitra yang telah berkontribusi dalam perkembangan SRC sejak berdiri pada tahun 2008.

Menurutnya, SRC terus mengalami pertumbuhan signifikan hingga kini memiliki sekitar 250 ribu toko anggota yang tersebar di seluruh Indonesia.

“Ini merupakan pencapaian yang luar biasa. Kami mengucapkan terima kasih kepada seluruh pihak yang telah turut serta membesarkan SRC hingga bisa berkembang seperti sekarang,” ujar Romulus.

Sementara itu, Wakil Bupati Bojonegoro Nurul Azizah mengawali sambutannya dengan mengaitkan warna merah putih yang dikenakannya sebagai simbol keberanian, kesucian, sekaligus identitas nasional yang juga identik dengan warna perusahaan Sampoerna.

Ia kemudian memperkenalkan batik yang dikenakannya, yakni motif khas Bojonegoro “Obor Sewu”, yang terinspirasi dari semangat perjuangan Mbah Samin Surosentiko.

Menurut Nurul, nilai-nilai perjuangan dan kearifan lokal tersebut perlu terus dihidupkan melalui berbagai sektor, termasuk dunia usaha.

“Semangat Obor Sewu ini sejalan dengan semangat yang dimiliki Sampoerna. Saya berharap ke depan ada inovasi kolaboratif antara Sampoerna, mitra binaan, dan para pengrajin batik Bojonegoro agar kebanggaan terhadap produk lokal semakin tumbuh,” katanya.

Ia menjelaskan bahwa motif Batik Obor Sewu kini telah dipatenkan sebagai salah satu identitas budaya Kabupaten Bojonegoro.

Mewakili Bupati Bojonegoro, Nurul Azizah juga memberikan apresiasi kepada komunitas SRC yang dinilainya telah memberikan kontribusi nyata terhadap pertumbuhan ekonomi masyarakat.

Saat ini tercatat terdapat sekitar 750 pedagang SRC di Bojonegoro. Sementara secara nasional, jumlah anggota SRC telah mencapai 250 ribu pedagang yang tersebar di 514 kabupaten/kota dan lebih dari 7.000 kecamatan di Indonesia.

Menurutnya, keberhasilan SRC terlihat dari perubahan wajah toko-toko tradisional yang kini lebih tertata, rapi, dan memiliki daya tarik tersendiri bagi konsumen.

“Toko-toko SRC saat ini sudah tertata dengan baik. Desainnya menarik dan memberikan kenyamanan bagi pelanggan. Tentu berbeda dengan toko yang kurang tertata,” ujarnya.

Dalam kesempatan tersebut, Nurul juga menyoroti pentingnya sinergi antara pelaku usaha ritel dengan organisasi perangkat daerah (OPD), khususnya Dinas Perdagangan dan Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP).

Menurutnya, keterlibatan pemerintah daerah dapat membantu para pelaku usaha mendapatkan informasi strategis terkait pengembangan usaha sekaligus memperkuat daya saing UMKM lokal.

Ia juga mengaitkan peluang kerja sama tersebut dengan Program Gayatri (Gerakan Ayam Petelur Mandiri), salah satu program unggulan Pemerintah Kabupaten Bojonegoro yang bertujuan meningkatkan kemandirian ekonomi masyarakat.

Melalui program tersebut, keluarga penerima manfaat memperoleh bantuan ayam petelur lengkap dengan kandangnya yang saat ini telah menghasilkan telur setiap hari.

“Kalau kebutuhan telur toko-toko SRC bisa dihubungkan dengan penerima manfaat Program Gayatri, maka akan tercipta kerja sama yang saling menguntungkan. Pedagang mendapatkan pasokan segar, sementara peternak lokal memperoleh pasar yang jelas,” jelasnya.

Harga Telur Gayatri Lebih Kompetitif

Pada sesi dialog, Wakil Bupati meminta perwakilan terkait menjelaskan kondisi harga telur hasil Program Gayatri.

Dari pemaparan yang disampaikan, harga telur yang dihasilkan program tersebut berada di kisaran Rp24.000 per kilogram, lebih murah dibandingkan harga pasokan telur yang selama ini diperoleh sebagian pedagang SRC dari Kediri yang mencapai sekitar Rp26.000 per kilogram.

Dengan selisih harga tersebut, Nurul berharap para pedagang SRC dapat mulai menyerap produk lokal hasil Program Gayatri sehingga manfaat ekonomi dapat dirasakan langsung oleh masyarakat Bojonegoro.

“Ini menjadi peluang besar untuk memperkuat ekonomi lokal. Kita ingin produk masyarakat Bojonegoro terserap oleh pasar Bojonegoro sendiri sehingga manfaatnya bisa dirasakan bersama,” pungkasnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *