Komite Ekraf Bojonegoro Dorong Mahasiswa KKN Berdayakan Desa Lewat Pendekatan Ekonomi Kreatif Berbasis Potensi Lokal

Ketua Komite Ekraf Bojonegoro Mochammad Alfianto memberikan pembekalan kepada mahasiswa KKN UNUGIRI Bojonegoro tentang pemberdayaan desa berbasis ekonomi kreatif.
Ketua Komite Ekonomi Kreatif Kabupaten Bojonegoro, Mochammad Alfianto, menyampaikan materi pembekalan KKN kepada mahasiswa UNUGIRI Bojonegoro mengenai pengembangan desa berbasis potensi lokal dan ekonomi kreatif, Jumat (10/7/2026).

JagatSembilan.com | Bojonegoro – Masa depan pembangunan desa tidak selalu dimulai dari persoalan yang harus diselesaikan, tetapi dari potensi yang telah dimiliki masyarakat. Gagasan tersebut menjadi pesan utama dalam Pembekalan Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Nahdlatul Ulama Sunan Giri (UNUGIRI) Bojonegoro yang menghadirkan Ketua Komite Ekonomi Kreatif Kabupaten Bojonegoro, Mochammad Alfianto, sebagai narasumber, Jumat (10/7/2026).

Kegiatan yang berlangsung di Aula UNUGIRI itu diikuti lebih dari 300 mahasiswa yang akan diterjunkan ke berbagai desa di Bojonegoro. Melalui pembekalan tersebut, mahasiswa didorong untuk menjadi fasilitator pemberdayaan masyarakat dengan memanfaatkan potensi lokal sebagai modal pembangunan desa.

Alfian, yang juga Ketua Bojonegoro Creative Network (BCN) serta Sekretaris Koordinator Daerah Indonesian Creative Cities Network (ICCN) Jawa Timur, menggunakan pendekatan Asset Based Community Development (ABCD) sebagai strategi yang dinilai paling relevan diterapkan selama pelaksanaan KKN.

Menurutnya, setiap desa memiliki karakteristik, aset, dan peluang yang berbeda. Oleh karena itu, mahasiswa perlu memulai proses pendampingan dengan memetakan kekuatan desa, bukan sekadar menginventarisasi persoalan.

“Mahasiswa jangan datang ke desa dengan fokus mencari masalah. Justru yang harus ditemukan adalah aset dan potensi yang dimiliki masyarakat. Dari sanalah lahir solusi yang lebih berkelanjutan karena berasal dari kekuatan desa itu sendiri,” ujar Alfian.

Ia menjelaskan bahwa aset desa tidak hanya berupa potensi wisata alam, tetapi juga meliputi budaya, tradisi, sumber daya manusia, komunitas, kelembagaan, hingga produk ekonomi kreatif yang telah tumbuh di masyarakat. Seluruh potensi tersebut dapat dikembangkan menjadi sumber kesejahteraan apabila dikelola secara kolaboratif.

Alfianto juga menekankan bahwa pemberdayaan tidak akan berhasil apabila masyarakat hanya dijadikan penerima manfaat. Seluruh unsur desa, mulai dari pemerintah desa, Badan Permusyawaratan Desa (BPD), Karang Taruna, Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis), pelaku UMKM, kelompok perempuan, hingga tokoh masyarakat harus dilibatkan sejak tahap perencanaan.

“Masyarakat bukan objek pembangunan, tetapi subjek pemberdayaan. Ketika masyarakat ikut merancang, menjalankan, dan memiliki program, maka keberlanjutannya akan jauh lebih terjamin,” katanya.

Dalam kesempatan itu, Alfian turut mengajak mahasiswa melihat ekonomi kreatif sebagai salah satu peluang pembangunan desa di masa depan. Ia menyebut sektor ekonomi kreatif telah menyumbang sekitar 7,38% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) nasional, atau setara dengan Rp1.757,87 triliun, menunjukkan bahwa kreativitas telah menjadi salah satu kekuatan ekonomi Indonesia.

Menurutnya, Bojonegoro perlu mulai mempersiapkan transformasi ekonomi sejak dini. Ketergantungan terhadap sektor minyak dan gas bumi tidak dapat berlangsung selamanya karena industri ekstraktif memiliki keterbatasan sumber daya.

“Ekonomi kreatif adalah industri yang bertumpu pada ide, kreativitas, dan inovasi. Ketika sumber daya alam suatu saat menurun, kreativitas manusialah yang akan menjadi energi baru bagi pembangunan daerah,” ujarnya.

Sementara itu, Wakil Rektor UNUGIRI Bojonegoro, Dr. Nurul Huda, menegaskan bahwa pengabdian dan pemberdayaan masyarakat merupakan bagian dari nilai-nilai yang diajarkan agama sekaligus menjadi amanah perguruan tinggi.

“Memberdayakan masyarakat sejatinya adalah tugas yang mulia dan juga perintah agama. Sebaik-baik manusia adalah mereka yang memberikan manfaat bagi orang lain. Karena itu, kami berharap mahasiswa hadir di tengah masyarakat bukan hanya menjalankan program KKN, tetapi menjadi penggerak perubahan yang membawa manfaat nyata,” tutur Nurul Huda.

Ia menambahkan, kolaborasi antara perguruan tinggi dengan berbagai pemangku kepentingan menjadi faktor penting dalam membangun desa yang mandiri dan berdaya saing.

Pembekalan tersebut menjadi bagian dari penguatan sinergi antara UNUGIRI Bojonegoro dan Komite Ekonomi Kreatif Kabupaten Bojonegoro dalam menyiapkan mahasiswa sebagai agen pemberdayaan masyarakat. Kolaborasi ini diharapkan mampu menghubungkan dunia akademik dengan kebutuhan riil di lapangan melalui pengembangan desa berbasis potensi lokal, ekonomi kreatif, serta partisipasi aktif masyarakat.

Melalui kerja sama tersebut, mahasiswa tidak hanya memperoleh bekal teoritis sebelum terjun ke desa, tetapi juga didorong menjadi katalisator lahirnya inovasi-inovasi lokal yang mampu memperkuat ekonomi desa, mengembangkan potensi wisata, serta menciptakan pembangunan yang berkelanjutan bagi Bojonegoro.(Red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *