JagatSembilan.com | Bojonegoro – Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Kabupaten Bojonegoro menggelar Seminar Food Loss and Food Waste melalui kegiatan Gerakan Masyarakat Selamatkan Pangan (Gema Pangan) 2026 di Alun-alun Kota Bojonegoro, Jumat (16/10/2026) pagi.
Kegiatan yang menjadi bagian dari rangkaian Gumregah Tani Bojonegoro Festival 2026 tersebut diikuti lebih dari 200 siswa dari SMA Negeri 4 Bojonegoro dan SMK Negeri 4 Bojonegoro. Seminar ini bertujuan meningkatkan kesadaran generasi muda terhadap pentingnya mengurangi kehilangan dan pemborosan pangan.
Kepala DKPP Kabupaten Bojonegoro, Zaenal Fanani, dalam sambutannya mengajak para pelajar membiasakan diri tidak menyisakan makanan saat makan. Menurutnya, kebiasaan sederhana tersebut dapat memberikan dampak besar apabila dilakukan secara bersama-sama oleh masyarakat.
“Stop boros pangan dengan cara tidak membiasakan menyisakan makanan pada saat makan,” ujar Zaenal Fanani.
Ia kemudian memberikan ilustrasi mengenai banyaknya nasi yang berpotensi terbuang apabila setiap orang memiliki kebiasaan menyisakan makanan.
Zaenal menjelaskan, jika setiap warga Bojonegoro menyisakan satu butir nasi saja, akumulasi nasi yang terbuang diperkirakan mencapai 96 kilogram per hari. Sementara itu, apabila setiap orang menyisakan sepuluh butir nasi, jumlahnya dapat mencapai 960 kilogram per hari.
Ilustrasi tersebut disampaikan untuk menunjukkan bahwa kebiasaan kecil yang dianggap sepele dapat menimbulkan pemborosan pangan dalam jumlah besar ketika dilakukan secara kolektif.
Sisa Makanan Berdampak pada Lingkungan dan Ekonomi
Dalam paparannya, Zaenal Fanani juga menjelaskan bahwa persoalan food loss dan food waste perlu mendapat perhatian bersama karena berkaitan dengan pemanfaatan sumber daya pangan.
Food loss merupakan kehilangan pangan pada tahap produksi, panen, pascapanen, penyimpanan, hingga pengangkutan. Adapun food waste adalah pangan yang sebenarnya masih layak dikonsumsi, tetapi terbuang pada tahap pengolahan, penjualan, maupun konsumsi.
Dalam sambutan tertulisnya, Zaenal menyampaikan bahwa berdasarkan kajian Bappenas dan data Badan Pangan Nasional untuk periode 2000–2019, Indonesia kehilangan dan membuang pangan sekitar 23–48 juta ton setiap tahun. Kerugian ekonominya diperkirakan mencapai Rp551 triliun per tahun.
Sementara itu, volume sampah di Kabupaten Bojonegoro pada 2025 tercatat sekitar 134,6 ribu ton atau kurang lebih 369 ton per hari. Meski belum ada angka resmi yang memisahkan jumlah sisa makanan dari keseluruhan sampah tersebut, secara nasional sisa makanan menyumbang sekitar 40 persen dari sampah rumah tangga.
Zaenal menegaskan, setiap makanan yang tersaji di meja makan telah melalui proses panjang yang melibatkan lahan, air, benih, tenaga petani, serta energi untuk pengolahan dan pengangkutan.
“Ketika pangan terbuang, yang hilang bukan hanya makanannya, melainkan juga seluruh sumber daya tersebut,” demikian pesan yang disampaikan dalam sambutannya.
Selain berdampak pada ketersediaan pangan dan ekonomi, sisa makanan yang menumpuk di tempat pembuangan sampah juga dapat menghasilkan gas metana yang berkontribusi terhadap perubahan iklim serta menambah beban pengelolaan sampah.
Kaitkan Penghematan Pangan dengan Ajaran Al-Qur’an
Dalam kegiatan tersebut, Zaenal Fanani juga mengutip Al-Qur’an Surah Al-Isra ayat 26–27 sebagai pengingat agar masyarakat tidak berperilaku boros.
Surah Al-Isra ayat 26 memuat perintah untuk memberikan hak kepada kerabat dekat, orang miskin, dan orang yang sedang dalam perjalanan, serta larangan menghambur-hamburkan harta secara boros.
Sementara itu, Surah Al-Isra ayat 27 menjelaskan:
“Sesungguhnya orang-orang yang pemboros itu adalah saudara setan dan setan itu sangat ingkar kepada Tuhannya.”
Pesan tersebut dikaitkan dengan pentingnya menghargai makanan dan menghindari perilaku berlebihan dalam mengonsumsi pangan.
Dalam paparannya, Zaenal juga menyampaikan tagline yang menarik perhatian peserta, yakni “Ingin Masuk Surga, Stop Boros Pangan.”
Tagline tersebut menjadi ajakan agar kebiasaan menghabiskan makanan tidak hanya dipandang sebagai perilaku hemat, tetapi juga sebagai bentuk tanggung jawab moral dalam menghargai rezeki dan menghindari pemborosan.
Ajak Pelajar Memulai dari Kebiasaan Sehari-hari
Zaenal Fanani berharap para siswa tidak sekadar memahami materi seminar, tetapi juga menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari, baik di rumah maupun di sekolah.
Ia mendorong para pelajar untuk mengambil makanan secukupnya, menghabiskan makanan yang telah diambil, menyimpan bahan pangan dengan benar, serta memilah sisa makanan.
Menurutnya, kebiasaan baik paling mudah dibentuk sejak usia sekolah. Karena itu, para siswa diharapkan dapat menjadi pelopor gerakan antisipemborosan pangan dengan mengajak teman dan keluarga melakukan hal serupa.
Melalui Gema Pangan 2026 yang mengusung tema “Reduce Food Waste, Feed the Future”, DKPP Bojonegoro mengajak seluruh elemen masyarakat untuk bersama-sama menyelamatkan pangan.
Upaya tersebut diharapkan dapat dimulai dari tindakan sederhana di meja makan, sehingga pangan yang dihasilkan para petani dapat dimanfaatkan secara optimal dan tidak terbuang sia-sia.(Red)













