JagatSembilan.com | Bojonegoro – Anggota DPR RI Fraksi Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), Ratna Juwita Sari, membuka kegiatan Bimbingan Teknis (Bimtek) Pengurangan Sampah dan Pembinaan Kelompok Masyarakat yang digelar di Hotel Aston Bojonegoro, Selasa (20/10/2026).
Kegiatan tersebut diikuti ratusan peserta dari berbagai wilayah di Kabupaten Bojonegoro. Hadir dalam kegiatan itu Sri Muwarni dari Kementerian Lingkungan Hidup Bidang Perubahan Pola Hidup, Ali Mansur dari Yayasan Mangrove Center, serta Mirza Ali selaku pembina Yayasan Mangrove Center.
Dalam sambutannya, Ratna menegaskan bahwa persoalan sampah membutuhkan keterlibatan seluruh lapisan masyarakat. Menurutnya, penanganan sampah tidak cukup hanya mengandalkan teknologi, regulasi, maupun dukungan anggaran, tetapi harus diimbangi dengan perubahan perilaku masyarakat.
“Persoalan sampah itu tidak hanya bisa diselesaikan dengan teknologi, tidak hanya bisa diselesaikan dengan regulasi, tidak hanya bisa diselesaikan dengan anggaran tanpa adanya perubahan perilaku dari seluruh lapisan warga masyarakat,” ujar Ratna.
Ia mengajak para peserta menjadikan kegiatan bimtek tersebut sebagai momentum untuk meningkatkan kesadaran dan membangun kebiasaan pengelolaan sampah yang lebih baik, dimulai dari lingkungan rumah tangga.
Ratna juga menyoroti data yang disampaikan dalam kegiatan tersebut mengenai kondisi pengelolaan sampah di Kabupaten Bojonegoro. Berdasarkan paparan yang diterimanya, produksi sampah di Bojonegoro pada 2026 mencapai 368 ton per hari, sementara sampah yang berhasil dikelola baru sekitar 32 persen.
“Yuk, kita catat bareng-bareng, karena ini tidak hanya sekadar angka, tapi bagaimana kita bisa menghitung setelah adanya sosialisasi terkait perilaku pengelolaan sampah hari ini. Ada berapa yang akan kita kurangi di tahun depan,” tuturnya.
Menurut Ratna, data tersebut perlu menjadi bahan evaluasi bersama untuk mengukur dampak kegiatan edukasi dan perubahan perilaku masyarakat terhadap pengurangan sampah pada tahun berikutnya.
Dorong Pemanfaatan Sampah Organik
Dalam kesempatan itu, Ratna juga menyoroti potensi pemanfaatan sampah organik yang berasal dari sisa makanan. Ia menyebutkan, berdasarkan paparan dalam kegiatan tersebut, sekitar 62 persen sampah yang belum terkelola di Bojonegoro berasal dari sisa makanan.
Ia menilai sampah organik masih memiliki potensi untuk diolah menjadi produk yang bermanfaat, sehingga tidak seluruhnya berakhir sebagai limbah.
“Mestinya masih ada way out, ada pemanfaatan-pemanfaatan tertentu supaya sampah ini tidak hanya sekadar menjadi sampah. Contoh, kalau organik itu bisa diolah lagi menjadi pupuk, bisa diolah lagi menjadi biomassa, bisa diolah lagi menjadi lain sebagainya,” jelasnya.
Ratna berharap materi yang diberikan oleh para narasumber dapat memperluas pengetahuan peserta mengenai strategi pengelolaan sampah, terutama pemilahan sampah dari sumbernya dan pemanfaatan sampah organik.
Ia juga menekankan pentingnya memulai perubahan dari unit terkecil dalam masyarakat, yakni rumah tangga. Dengan kebiasaan memilah dan mengolah sampah sejak dari rumah, beban sampah yang harus ditangani di tingkat daerah diharapkan dapat berkurang.
Ratna menyampaikan apresiasi kepada Kementerian Lingkungan Hidup yang telah mendukung pelaksanaan kegiatan tersebut, termasuk menghadirkan narasumber untuk memberikan pengetahuan kepada para peserta.
Ia berharap kegiatan bimtek tidak berhenti sebagai forum sosialisasi, tetapi dapat mendorong penerapan praktik pengelolaan sampah dalam kehidupan sehari-hari.
“Saya yakin, saya percaya panjenengan hadir di sini ini diniati untuk tholabul ilmi, mencari ilmu,” ungkapnya.
Melalui kegiatan ini, para peserta diharapkan dapat menjadi bagian dari upaya memperkuat kesadaran lingkungan di wilayah masing-masing. Pengetahuan yang diperoleh selama bimtek diharapkan dapat diterapkan secara berkelanjutan, sehingga pengelolaan sampah di Kabupaten Bojonegoro semakin baik.
Upaya tersebut membutuhkan kerja sama antara pemerintah, komunitas lingkungan, dan masyarakat. Perubahan kebiasaan dari tingkat rumah tangga menjadi salah satu langkah penting untuk mengurangi timbulan sampah sekaligus meningkatkan pemanfaatan sampah yang masih memiliki nilai guna.(Red)













