JagatSembilan.com | Bojonegoro – Praktisi pencak silat asal Bojonegoro, Suyanto MYK, menerima penghargaan dari Bupati Bojonegoro Setyo Wahono atas kiprahnya memperkenalkan pencak silat Mataraman di Belanda. Penghargaan tersebut diberikan atas perannya sebagai pemateri dalam Festival Pencak Silat Belanda di Den Haag pada Oktober 2026, dan diserahkan bertepatan dengan peringatan Hari Jadi ke-349 Kabupaten Bojonegoro, Selasa (20/10/2026).
Suyanto, yang akrab disapa Yanto MYK, memperkenalkan pencak silat Jawa atau Mataraman dari Persaudaraan Setia Hati Winongo Tunas Muda (PSHWTM) dalam festival tersebut. Ia berbagi pengetahuan mengenai ragam gerak, nilai seni, serta tradisi pencak silat yang berkembang di Indonesia kepada peserta dari berbagai negara.
Festival yang berlangsung pada 8–12 Oktober 2026 itu digelar selama empat hari dengan dua rangkaian kegiatan. Dua hari pertama diisi dengan penampilan pencak silat, sedangkan dua hari berikutnya digunakan untuk lokakarya atau workshop yang melibatkan para praktisi pencak silat.
Pada sesi penampilan, terdapat 11 penyaji pencak silat dari Belanda dan negara-negara Eropa. Selain itu, Indonesia menghadirkan tiga penampilan yang mewakili tradisi perguruan berbeda, yakni Pencak Harimau Singgalang, Panglipur dari Garut, Jawa Barat, dan PSHWTM yang membawa pencak silat Mataraman.
Ketiga perwakilan Indonesia tersebut memperkenalkan karakteristik gerak dan kekayaan tradisi pencak silat dari daerah masing-masing. Kehadiran mereka menjadi kesempatan untuk bertukar pengalaman sekaligus memperluas pengenalan seni bela diri tradisional Indonesia kepada masyarakat internasional.
Suyanto menjelaskan, keterlibatannya dalam kegiatan tersebut tidak sekadar untuk mengajarkan teknik gerakan. Ia juga ingin mengenalkan nilai seni yang terkandung dalam pencak silat agar peserta memahami bahwa warisan budaya tersebut memiliki dimensi bela diri sekaligus keindahan gerak.
“Pencak silat memiliki unsur bela diri sekaligus seni. Gerak-gerak yang berkembang dalam tradisi budaya Indonesia dapat diolah menjadi rangkaian gerakan yang indah tanpa meninggalkan karakter dan nilai dasar pencak silat,” ungkapnya.
Selain memperkenalkan pencak silat Mataraman, Suyanto juga membawa udeng Samin yang diperolehnya dari Badan Riset dan Inovasi Daerah (BRIDA) untuk diserahkan sebagai cendera mata dari Bojonegoro. Udeng tersebut direncanakan untuk diserahkan dan dikenakan sebagai bagian dari pengenalan identitas budaya daerah kepada pihak yang menerima.
Upaya tersebut menjadi bagian dari pengenalan kekayaan budaya Bojonegoro di luar negeri. Selain melalui seni bela diri, budaya daerah juga dapat diperkenalkan melalui atribut tradisional yang memiliki keterkaitan dengan identitas dan warisan masyarakat setempat.
Dalam sesi berbagi pengetahuan, Suyanto turut memperkenalkan pengolahan gerak yang memiliki unsur seni tari ke dalam rangkaian pencak silat. Pendekatan tersebut memperlihatkan bagaimana unsur seni dapat dikembangkan tanpa meninggalkan karakter dasar pencak silat.
“Teruslah berlatih pencak silat. Ajaran yang kita bawa hendaknya bisa memberikan pencerahan dan pengalaman kepada orang lain, sekaligus memperkaya khazanah pencak silat,” ujar Suyanto.
Suyanto mengaku bersyukur atas kesempatan bertukar pengetahuan dengan para pegiat, master, dan pelatih dari berbagai negara. Menurutnya, pengalaman tersebut menjadi kesempatan berharga untuk memperluas wawasan sekaligus mengembangkan pencak silat.
Ke depan, ia berharap para pesilat tetap menjaga kualitas latihan dan memegang teguh sumpah serta janji perguruan. Menurutnya, ilmu pencak silat tidak semestinya berhenti pada penguasaan gerak, tetapi juga harus membawa manfaat bagi sesama dan masyarakat luas.
“Semoga kita terus berlatih agar ilmu yang dimiliki bermanfaat bagi orang lain. Berlatihlah dengan cara yang baik dan tepat, tanpa melanggar sumpah dan janji, serta tetap memberikan yang terbaik bagi masyarakat pencak silat Indonesia,” tambahnya.
Penghargaan dari Bupati Bojonegoro tersebut menjadi bentuk apresiasi atas kontribusi Suyanto MYK dalam bidang kebudayaan melalui pencak silat. Partisipasinya dalam Festival Pencak Silat Belanda, disertai upaya memperkenalkan udeng Samin, turut membuka ruang bagi pengenalan kekayaan budaya Bojonegoro kepada masyarakat internasional.(Red)













