JagatSembilan.com | Bojonegoro – Meningkatnya kasus demam berdarah dengue (DBD) di berbagai wilayah Provinsi Jawa Timur beberapa bulan terakhir, juga terjadi di wilayah Kabupaten Bojonegoro. Dari data yang berhasil dihimpun awak media jagatsembilan.com Bulan Februari sampai awal Maret 2024, kasus DBD di wilayah Bojonegoro mencapai 44 kasus.
Data juga menyebutkan, selama periode November 2023 sampai dengan Februari 2024 telah menyebabkan 2 orang meninggal dunia di Kabupaten Bojonegoro. Data itu diungkapkan oleh Paiman, S.Kep.Ns., M.Kes, penyuluh kesehatan Masyarakat Ahli Muda (Sub Koordinator Penyakit Menular, Penyakit Tidak Menular dan Kesehatan Jiwa).
Pak Paiman sapaan akrabnya juga menjelaskan, data yang masuk ke Dinas Kesehatan Kabupaten Bojonegoro, periode bulan November 2023 – Maret 2024, mengalami kenaikan penyakit DBD. Pada bulan November 2023 ada 26 Kasus DBD, desember 2023 25 Kasus, Januari 2024 44 Kasus DBD, Februari 2024 ada 41 kasus DBD dan data terakhir 6 Maret 2024 ada 4 Kasus.
“Kalau dibanding dengan periode yang sama pada bulan yang sama, juga ada kenaikan. Tahun 2023 kemarin, pada bulan yang sama bulan januari sampai dengan februari 2023 itu kita ada 65 kasus, lima orang per seratus ribu penduduk. Ini Januari sampai Februari kita ada 85 kasus atau enam orang per seratus ribu penduduk. Memang DBD Itu menaik bulan November, Desember, Januari, Februari ini naik kemudian di maret ini sudah mulai turun,” terangnya. Rabu, (06/03/2024).
Lebih lanjut dirinya menjelaskan persebaran terbanyak kasus penyakit DBD berada di Wilayah Kecamatan Kepohbaru, Dander, Gayam, dan Kalitidu.
Paiman juga menjelaskan, meningkatnya kasus DBD diakibatkan dari musim penghujan yang terus-menerus mengguyur di wilayah Kabupaten Bojonegoro yang mengakibatkan adanya genangan ataupun sarang nyamuk baru. Kemudian, faktor internal dari lingkungan, baik rumah, sekolah, tempat ibadah, dll yang tidak terawat dan kotor dapat mengakibatkan tumbuhnya sarang baru bagi nyamuk.
“Nyamuk demam berdarah itu telurnya bisa bertahan sampai 6 bulan di tempat yang kering. Misalkan menempel di bak mandi atau di dinding walau tidak terkena air, lalu begitu kena air 1-2 hari dia menetas, uniknya seperti itu, nah ini perlunya PSN (pemberantasan sarang nyamuk/red) kepada masyarakat, kalau fogging saja hanya memberantas nyamuk dewasa padahal siklus nyamuk mengalami metamorfosis sempurna ada telur, ada jentik kemudian larva kemudian nyamuk dewasa, untuk menjadi telur ke nyamuk itu kira kira butuh waktu 8-10 hari, tapi masyarakat kalau ada kasus mintanya semprot atau fogging padahal sebenernya ga menyelesaikan masalah sebenernya, harus di imbangi dengan PSN.”, lanjutnya
Adapun upaya yang dilakukan Dinkes Kabupaten Bojonegoro dalam mencegah dan mengatasi masalah kasus penyakit DBD, antara lain telah melakukan penambahan kapasitas petugas kesehatan di setiap Kecamatan. Selain itu menurutnya juga membuat Surat Edaran (SE) kepada PJ Bupati dan Sekretaris Daerah (Sekda) Kabupaten Bojonegoro tentang Kewaspadaan dan Pengendalian Kasus DBD, serta berintegrasi dengan Puskesmas, Kecamatan, dan Desa untuk terus melakukan gerakan Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN).
Dinkes Kabupaten Bojonegoro juga telah mengadakan penyelidikan epidemiologi DBD, yang mana di suatu desa atau kecamatan yang terkena kasus baru, akan dilakukan penyelidikan untuk menjadi bahan pertimbangan tindak lanjut agar mengurangi ataupun mencegah di daerah lain.(wio)














