Oleh: Ahmad Rifqi Azmi
Islam merupakan agama yang sempurna dan menyeluruh. Ajarannya tidak hanya mengatur hubungan manusia dengan Allah, tetapi juga mengatur hubungan manusia dengan sesama makhluk serta pembinaan hati dan akhlaknya. Oleh karena itu, para ulama menjelaskan bahwa agama Islam mencakup tiga aspek utama, yaitu akidah, syariah, dan akhlak (atau tasawuf).
Di antara ketiga aspek tersebut, akidah menempati posisi yang paling mendasar. Sebab, seluruh amal lahiriah maupun batiniah tidak akan bernilai di sisi Allah apabila tidak dibangun di atas keyakinan yang benar. Oleh karena itu, memahami kedudukan akidah menjadi sangat penting agar seorang muslim dapat menempatkan setiap aspek agama pada proporsinya yang tepat.
Tiga Aspek Pokok dalam Agama Islam
Pembagian agama ke dalam aspek akidah, syariah, dan akhlak berlandaskan hadis terkenal yang diriwayatkan dari Umar bin Khattab ra. Dalam hadis tersebut, Malaikat Jibril datang kepada Rasulullah saw. dalam rupa seorang laki-laki yang berambut sangat hitam dan berpakaian sangat putih. Di hadapan para sahabat, ia mengajukan tiga pertanyaan pokok, yaitu tentang iman, Islam, dan ihsan.
Iman: Aspek Akidah
Makna bahasa akidah adalah tali yang tidak dapat dilepas (tali pati), sebab ketika kepercayaan yang shahih sudah ditalikan ke dalam hati, maka tidak boleh dilepas sampai mati. Lalu, apa yang harus di imani? Dalam sebuah hadism ketika ditanya tentang iman, Rasulullah saw. menjawab:
“Engkau beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, hari akhir, dan beriman kepada qadha dan qadar, baik maupun buruknya.”
Semua obyek iman adalah ghaib, tidak bisa indra. Kita tidak dapat melihat Allah, malaikat, nubuwwah dan risalah yang ada dalam dada para nabi, wahyu, semua perkara di hari kiamat seperti surga dan neraka, dan takdir.
Iman yang shahih merupakan syarat diterimanya amal. Tanpa hal ini amal tertolak, sebagaimana firman Allah Ta’ala:
وَقَدِمْنَا إِلَى مَا عَمِلُوا مِنْ عَمَلٍ فَجَعَلْنَاهُ هَبَاءً مَنْثُورًا [الفرقان : 23]
Orang yang tidak beriman tapi gemar berbuat baik laksana anak yang sekolah atau kuliyah tapi tidak pernah daftar sama sekali. Tentu ia tidak berhak mendapatkan ijazah, karena ia tidak pernah mendaftar. Dan pihak universitas atau sekolah tidak bisa disalahkan apabila tidak memberinya ijazah tanda kelulusan.
Islam: Aspek Syariah
Ketika ditanya tentang Islam, Rasulullah saw. menjawab:
“Islam adalah engkau bersaksi bahwa tidak ada tuhan selain Allah dan Muhammad adalah utusan Allah, mendirikan shalat, menunaikan zakat, berpuasa Ramadan, dan berhaji ke Baitullah jika mampu.”
Kelima perkara tersebut merupakan amalan lahiriah yang dapat dilihat dan diukur pelaksanaannya. Syariah mengatur perbuatan manusia, baik yang berkaitan dengan ibadah maupun muamalah, sehingga kehidupan manusia berjalan sesuai dengan tuntunan Allah.
Ihsan: Aspek Akhlak dan Tasawuf
Ketika ditanya tentang ihsan, Rasulullah saw. menjawab:
“Engkau menyembah Allah seakan-akan engkau melihat-Nya. Jika engkau tidak melihat-Nya, maka sesungguhnya Dia melihatmu.”
Ihsan berkaitan dengan kondisi hati, keikhlasan, pengawasan diri, dan kualitas hubungan seorang hamba dengan Allah. Inilah yang menjadi inti pembahasan akhlak dan tasawuf.
Tujuan ihsan adalah menjadikan amal yang dilakukan tidak sekadar benar secara lahiriah, tetapi juga benar dan hidup secara batiniah.
Akidah, syariat, dan tasawuf merupakan inti sari apa yang dibawa Nabi saw. sebab Nabi saw. setelah Jibril datang menanyakal hal itu kepada Nabi saw.
هَذَا جِبْرِيلُ، جَاءَ لِيُعَلِّمَ النَّاسَ دِينَهُمْ
Artinya : “Dia adalah Jibril. Ia datang untuk mengajari manusia agama mereka.” (HR. Muslim)
Sabda Nabi Muhammad SAW. ini menunjukkan bahwa iman, Islam, dan ihsan merupakan tiga komponen utama yang membentuk agama secara keseluruhan. Dengan kata lain, akidah, syariah, dan akhlak bukanlah bagian yang terpisah-pisah, melainkan saling melengkapi dalam membangun keislaman seorang muslim.
Mengapa Akidah Menjadi Fondasi Utama?
Meskipun agama mencakup ketiga aspek tersebut, akidah memiliki kedudukan yang lebih mendasar dibandingkan syariah dan akhlak. Akidah merupakan pondasi yang menjadi tempat berdirinya seluruh amal.
Ibarat sebuah bangunan, akidah adalah fondasinya. Sebagus apa pun bentuk bangunan yang didirikan, semuanya akan runtuh apabila fondasinya rusak. Demikian pula dalam agama, amal saleh tidak akan bernilai apabila tidak dibangun di atas keimanan yang benar.
Ibarat pohon, akidah adalah akar yang menopang seluruh bagian pohon. Dari akar itulah batang, daun, bunga, dan buah memperoleh kehidupan. Jika akar rusak atau mati, maka seluruh bagian pohon akan ikut mati. Karena itu, para nabi dan rasul selalu memulai dakwah mereka dengan memperbaiki akidah umat sebelum mengajarkan rincian syariah dan akhlak.
*) Penulis adalah Ahmad Rifqi Azmi Dosen Unugiri, Ketua Satgas Aswaja PCNU Bojonegoro dan juga Mukharir LBM PCNU Bojonegoro














