JagatSembilan.com | Bojonegoro – Ketua Lembaga Falakiyah PCNU Bojonegoro, Mochammad Charis, memprediksi awal Ramadhan 1447 Hijriah bagi warga Nahdlatul Ulama akan dimulai pada Kamis, 19 Februari 2026. Prediksi tersebut didasarkan pada hasil perhitungan hisab dan ketentuan matlak yang digunakan NU. Hal itu disampaikan Mochammad Charis saat ditemui pada Jumat (06/02/2026) di Aula PCNU Bojonegoro.
Menurutnya, secara umum umat Islam diperkirakan akan melaksanakan ibadah puasa Ramadhan pada bulan yang sama. Namun, potensi perbedaan tetap ada, khususnya dalam penentuan awal dan akhir Ramadhan.
“Insyaallah Ramadhannya sama. Seluruh umat Islam akan melaksanakan puasa, hanya kemungkinan berbeda pada waktu memulai dan mengakhirinya,” ujarnya.
Charis menjelaskan, perbedaan penetapan awal Ramadhan tahun ini bukan lagi semata karena metode hisab dan rukyat, melainkan lebih pada perbedaan penggunaan matlak, yakni antara matlak global dan matlak regional.
“Kalau dulu perbedaannya karena ada yang menggunakan hisab dan ada yang rukyat. Tahun ini bisa jadi perbedaannya karena matlak, ada yang matlak global dan ada yang matlak regional,” jelasnya.
Ia menegaskan bahwa Nahdlatul Ulama tetap berpegang pada matlak regional, sebagaimana yang dijelaskan dalam hadits Kuraib.
“NU tetap menggunakan matlak regional sesuai dengan hadits Kuraib,” tegasnya.
Berdasarkan perhitungan Lembaga Falakiyah PCNU Bojonegoro, ijtima’ (konjungsi) bulan terjadi pada 17 Februari 2026, namun waktunya setelah matahari terbenam.
“Ijtima’ terjadi setelah ghurubus syamsi. Pada saat matahari terbenam, posisi hilal sudah lebih dulu terbenam, sehingga belum bisa ditetapkan sebagai bulan baru,” ungkap Charis.
Menurut Charis, dengan kondisi tersebut, bulan Sya’ban digenapkan menjadi 30 hari.
“Maka untuk NU, khususnya PCNU Bojonegoro, Sya’ban akan digenapkan hingga tanggal 18 Februari, dan awal Ramadhan dimulai tanggal 19 Februari 2026,” tambahnya.
Ia menambahkan, hasil hisab menunjukkan seluruh wilayah Indonesia masih berada pada posisi hilal di bawah ufuk saat matahari terbenam pada 17 Februari 2026.
“Menurut hitungan kami, seluruh wilayah Indonesia saat ijtima’ itu masih minus atau hilal berada di bawah ufuk,” pungkasnya.














Oke kak