Bekal Ketika Hendak Keluar Rumah bagi Muslim

Oleh: Ahmad Rifqi Azmi, M.Ag

Keluar rumah adalah sesuatu yang tampak sederhana, bahkan sering kita anggap hal itu sebagai rutinitas biasa. Namun bagi seorang Muslim, keluar rumah bukan hanya soal berpindah tempat. Ia adalah bagian dari ibadah, kesempatan untuk meraih pahala, dan juga upaya mendekatkan diri kepada Allah.

Dalam kaitannya tentang bepergian atau keluar rumah, Rasulullah saw. memberikan tuntunan yang mana tuntunan itu terangkum dalam doa:

بِسْمِ ‌اللَّهِ ‌تَوَكَّلْتُ عَلَى اللَّهِ، لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ

Artinya : Dengan menyebut nama Allah, aku tawakkal kepada Allah, tidak ada daya dan upaya kecuali atas bantuan dari Allah. (HR. Tirmidzi)

Dalam doa ini, setidaknya ada tiga tuntunan yang Rasulullah saw. ajarkan ketika seorang ingin keluar dari rumah.

Pertama: bismillah. Kedua: tawakkaltu ‘alallah. Ketiga: la haula wa la quwwata illa billah. Mari kita bahas satu-satu tuntunan itu.

1. Menjadikan Allah sebagai Muara Tujuan

Tuntunan menjadikan Allah sebagai muara segala tujuan ini tercermin dalam kalimat pertama dalam doa, bismillah (dengan menyebut nama Allah). Ketika keluar rumah untuk sebuah tujuan, hendaknya kita menanamkan dalam hati bahwa semua tujuan yang kita tuju ketika keluar rumah, tujuan utamanya adalah ridha Allah. Kita bekerja karena Allah, sekolah karena Allah, mengajar karena Allah, berziarah karena Allah. Apapun tujuan hal baik yang kita lakukan adalah karena Allah. Tanpa ada niatan karena Allah pekerjaan kita lakukan tidak akan ada nilainya sama sekali.

2. Pasrah kepada Allah

Tuntunan Nabi saw. yang kedua ketika hendak keluar rumah adalah tawakkaltu ‘alallah (aku memasrahkan segala urusanku kepada Allah).

Jaman dahulu, mengapa mengucapkan doa yang berisi tentang tawakkal ini penting, sebab masyarakat Arab saat itu sangat terbiasa dengan perjalanan kafilah dagang, peperangan, atau berangkat ke pasar yang penuh risiko tidak ada listrik, perampokan, hewan buas, dan sebagainya.

Secara psikologis, orang mudah diliputi rasa takut. Dengan tawakkaltu ‘alallah (aku bertawakkal kepada Allah) mereka menyadari bahwa semua kemudharatan itu tidak akan dapat menimpa tanpa ijin Allah.

Jaman sekarang ketika kita keluar rumah pun tidak kalah bahaya, ada ribuan bahaya yang menanti ketika kita keluar rumah. Kecelakaan di jalan raya, kecopetan, kemacetan, tekanan kerja dan sebagainya. Dengan tawakkaltu ‘alallah (aku bertawakkal kepada Allah) kita tanamkan kesadaran bahwa kemudharatan-kemudharatan itu tidak akan menimpa kecuali atas ijin Allah.

Dan, tentu saja ketika keluar kita mempunyai hajat yang ingin kita penuhi. Misalnya ketika kita keluar ingin berjualan kita sadar bahwa rizki kita sudah diatur oleh Allah, tidak perlu tamak dan iri dengan rizki orang lain. Ketika kita keluar ingin mengajar kita sadar bahwa yang memasukkan ilmu ada hati seorang murid adalah Allah. Kita ingin berobat, kita sadar bahwa hasil pengobatan itu juga tergantung Allah. Dengan hamba mengatakan tawakkaltu ‘alallah seorang hamba menanamkan pengakuan bahwa hasil segala usaha kita hanya ada di tangan Allah.

3. I’timad ‘Ala Allah (hanya bersandardan mengandalkan Allah)

Tuntunan Nabi saw. yang ketiga ketika hendak keluar rumah adalah la haula wa la quwwata illa billah (tiada daya untuk menjauhi keburukan dan tiada kekuatan untuk meraih kebaikan kecuali dengan pertolongan Allah). Kalimat ini adalah bentuk membebaskan diri dari kekuatan dan kemampuan diri sendiri dari seorang hamba yang membacanya. Kalimat ini menjadikan hati seorang Muslim rendah hati, tidak sombong, dan selalu memohon pertolongan kepada Allah Ta’ala dalam setiap langkah.

Ketika kita berkata La haula wa la quwwata illa billah. Hamba sadar bahwa apapun yang ia lakukan dan ia tuju sebenarnya ia tidak dapat melakukan dan menujunya kecuali dengan kekuatan dan pertolongan dari Allah. Misalnya, kita tidak bisa berdagang kecuali dengan ilmu perdagangan yang Allah berikan pada kita, kita tidak bisa berdagang kecuali dengan kesehatan yang Allah berikan pada kita, kita tidak bisa menawarkan dagangan kecuali dengan lisan yang Allah berikan pada kita, kita tidak bisa dagang kecuali dengan keamanan yang Allah berikan, dengan bumi yang Allah berikan, dengan oksigen yang Allah berikan, dengan tangan dan kaki dan segala yang Allah berikan.

Dengan la haula wa la quwwata illa billah hamba akan dapat dengan mudah mengikis kesombongan dari kesuksesan dunia yang ia gapai. Bahwa semua itu terjadi bukan karena dirinya, tapi karena bantuan dari Allah.

Para pembaca yang budiman, Mari kita amalkan tuntunan Nabi saw. ini ketika kita hendak keluar rumah. Kita baca dan resapi: bismillahi tawakkaltu ‘alallahi, la haula wala quwwata illa billah.

 

*) Penulis adalah Ahmad Rifqi Azmi Pengasuh Jamaah Sabtu Sore Masjid Agung Bojonegoro dan Pengasuh Jamaah Ngabar Banjarsari yang juga kolumnis di jagatsembilan.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *