Oleh: Choirul Anam *)
Pagi belum benar-benar ramai ketika aroma nasi, sayur, sambal, kopi, dan teh mulai memenuhi sudut-sudut Tambakberas. Di beberapa tempat, orang-orang sibuk menata makanan. Di tempat lain, kursi ditata, tikar digelar, air minum disiapkan. Kendaraan datang dan pergi. Santri hilir mudik. Para relawan mengenakan pakaian kebanggaan masing-masing.
Rasanya seperti sedang ada hajatan besar.
Memang ini hajatan. Tetapi bukan hajatan satu keluarga.
Ini hajatan sebuah jam’iyah.
Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama tahun ini digelar di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang. Para muktamirin datang dari berbagai penjuru Indonesia. Bahkan tamu dari luar negeri turut hadir. Mereka datang membawa mandat organisasi, membawa gagasan, dan tentu saja membawa cerita dari daerah masing-masing.
Tetapi ada satu hal yang menarik: sebelum para muktamirin duduk dalam ruang sidang, masyarakat NU sudah lebih dulu menyambut mereka dengan cara yang sangat NU.
Buwuh.
Buwuh biasanya kita kenal sebagai tradisi masyarakat ketika seseorang punya hajat. Ada yang membawa uang, beras, gula, minyak, telur, makanan, atau apa saja yang dimiliki. Tidak harus banyak. Yang penting ikut.
Sebab buwuh bukan semata soal nominal.
Buwuh adalah tanda bahwa seseorang merasa, “Saya ikut punya gawe.”
Begitu pula Muktamar.
Ketika NU punya hajat besar, warga seperti tidak rela hanya menjadi penonton. Semua ingin mengambil bagian. Yang punya uang menyumbang uang. Yang punya beras membawa beras. Yang punya kendaraan menyediakan kendaraan. Yang punya usaha ikut membantu konsumsi. Yang punya tenaga turun tangan. Yang punya jaringan menggerakkan jaringan.
Dan yang menarik, semangat itu tidak berhenti pada sumbangan.
Di sepanjang kawasan Muktamar, bermunculan berbagai posko khidmah. Ada posko makan dan minum gratis. Ada tempat istirahat gratis bagi para tamu dan muktamirin. Ada fasilitas kesehatan. Ada layanan pijat untuk mereka yang kelelahan setelah perjalanan panjang atau mengikuti rangkaian kegiatan.
Serba gratis.
Bukan karena semuanya tidak membutuhkan biaya. Justru karena ada orang-orang yang bersedia menanggung biaya itu.
Di sinilah logika ekonominya seolah dibalik.
Biasanya orang datang ke sebuah tempat membawa uang untuk mendapatkan makanan, minuman, tempat istirahat atau layanan tertentu.
Di Muktamar, ada orang yang datang justru disambut dengan kalimat:
“Monggo, gratis.”
Makan gratis.
Minum gratis.
Istirahat gratis.
Berobat gratis.
Pijat gratis.
Kalau ditanya siapa yang membayar, jawabannya panjang. Ada pengurus, lembaga, badan otonom, pengusaha, aghniya, pesantren, warga, relawan, dan banyak orang yang mungkin namanya tidak pernah masuk daftar panitia.
Mereka membayar dengan cara masing-masing.
Ada yang membayar dengan uang.
Ada yang membayar dengan tenaga.
Ada yang membayar dengan waktu.
Ada pula yang membayar dengan keikhlasan.
Semua demi satu kata yang sering terdengar sederhana tetapi sesungguhnya berat: khidmah.
Di tengah hiruk-pikuk Muktamar, pemandangan seperti ini justru menjadi cerita tersendiri. Orang-orang yang datang dari jauh tidak perlu terlalu pusing mencari makan. Mereka bisa berhenti di posko, mengambil minuman, duduk sebentar, merebahkan badan, atau mendapatkan layanan kesehatan.
Seolah ada pesan tak tertulis:
“Anda datang untuk bermusyawarah membawa nama NU. Urusan lelah dan lapar, biar kami yang membantu.”
Betapa hangatnya sebuah jam’iyah ketika keramahtamahan tidak hanya menjadi slogan.
Lebih menarik lagi, lembaga dan badan otonom NU seperti berlomba-lomba membuat kegiatan pendukung. Masing-masing ingin mengambil bagian dalam kemeriahan Muktamar. Ada pengajian, diskusi, kegiatan sosial, layanan masyarakat, pameran, bazar, pertunjukan, hingga berbagai kegiatan lain yang menghidupkan suasana.
Tidak semuanya harus berada di panggung utama.
Sebab Muktamar memang bukan hanya soal siapa yang terpilih menjadi Rais Aam atau Ketua Umum. Muktamar juga tentang bagaimana warga NU menunjukkan bahwa jam’iyah ini hidup.
Ia hidup di pesantren.
Ia hidup di masjid.
Ia hidup di kampung.
Ia hidup di pasar.
Ia hidup di lembaga pendidikan.
Ia hidup di badan usaha.
Ia hidup di tangan para relawan.
Dan pada hari-hari Muktamar, kehidupan itu seperti tumpah ruah ke Tambakberas.
Mungkin ada orang yang bertanya, mengapa mereka mau repot-repot menyediakan makan gratis? Mengapa mau membuka posko kesehatan? Mengapa mau menyediakan tempat istirahat? Mengapa mau memijat orang yang bahkan tidak mereka kenal?
Jawabannya barangkali sederhana:
Karena yang datang adalah tamu jam’iyah.
Dalam tradisi pesantren, tamu adalah berkah. Apalagi tamu yang datang untuk sebuah perhelatan organisasi yang telah menjadi bagian dari perjalanan hidup mereka.
Maka para muktamirin tidak sekadar dipandang sebagai peserta konferensi.
Mereka adalah tamu dan tamu harus dimuliakan.
Tradisi semacam ini boleh jadi sudah tumbuh sejak NU berdiri. Sulit menunjuk kapan tepatnya buwuh Muktamar mulai dilakukan. Tetapi semangatnya terasa sangat tua: gotong royong, urunan, guyub, dan merasa memiliki.
NU sejak awal tidak dibangun hanya dari kantor dan rapat.
Ia tumbuh dari rumah-rumah warga, pesantren, langgar, masjid, pasar, sawah, dan warung kopi. Ketika ada kebutuhan besar, orang-orang bergerak bersama.
Yang satu membawa beras.
Yang lain membawa gula.
Yang lain lagi membawa uang.
Ada yang menyediakan kendaraan.
Ada yang memasak.
Ada yang menjaga.
Ada yang menyapu.
Ada yang menjadi relawan.
Tidak ada yang terlalu kecil ketika semuanya diarahkan untuk khidmah.
Buwuh Muktamar pada akhirnya bukan sekadar tradisi memberi sumbangan. Ia adalah cara masyarakat NU mengatakan bahwa Muktamar ini bukan hanya milik panitia. Ini hajat kita bersama.
Karena itu, jangan heran bila di tengah kemeriahan Tambakberas, kita menemukan banyak hal yang tidak tertulis dalam rundown resmi.
Ada seorang ibu yang sibuk menyiapkan makanan.
Ada bapak-bapak mengangkut kardus air mineral.
Ada santri yang membantu menunjukkan arah.
Ada relawan kesehatan yang berjaga.
Ada tukang pijat yang tangannya terus bekerja melayani tamu yang kelelahan.
Ada pengurus lembaga yang rela meninggalkan kesibukan rutinnya.
Ada aghniya yang diam-diam membiayai kebutuhan posko.
Ada warga biasa yang mungkin hanya mampu menyumbang beberapa kilogram beras.
Mereka semua sedang menulis sejarah dengan cara masing-masing.
Barangkali nama mereka tidak akan disebut dalam pidato Muktamar.
Tidak akan masuk berita.
Tidak akan terpampang di panggung.
Tetapi Muktamar bisa terasa hangat justru karena kerja orang-orang semacam itu.
Sebab Muktamar bukan hanya tentang suara yang dihitung di ruang sidang.
Muktamar juga tentang tangan yang bekerja di luar ruang sidang.
Tentang dapur yang terus mengepul.
Tentang gelas-gelas kopi yang terus diisi.
Tentang tikar yang digelar untuk tamu beristirahat.
Tentang obat yang diberikan tanpa meminta bayaran.
Tentang pijatan yang mengurangi pegal.
Tentang senyum relawan yang menyambut orang yang bahkan baru pertama kali bertemu.
Dan semuanya dilakukan tanpa kuitansi untuk mendapatkan balasan.
Inilah wajah lain Muktamar.
Wajah gotong royong.
Wajah kerelaan.
Wajah ngaji, ngabdi, dan berkhidmah.
Pada akhirnya, mungkin kita tidak perlu terlalu sibuk menghitung siapa yang paling banyak memberi. Sebab dalam tradisi buwuh, yang paling penting bukan jumlahnya.
Yang penting adalah kesediaan untuk ikut punya gawe.
Dari uang menjadi makanan.
Dari beras menjadi nasi.
Dari tenaga menjadi pelayanan.
Dari posko menjadi tempat berteduh.
Dari kelelahan menjadi pijatan.
Dari kepedulian menjadi kesehatan.
Dari gotong royong menjadi keramahan.
Dan dari semua itu lahirlah satu perasaan yang sulit dibeli dengan uang:
rasa memiliki terhadap jam’iyah.
Mungkin itulah mengapa Muktamar NU selalu memiliki cerita yang lebih panjang daripada sekadar hasil pemilihan kepemimpinan.
Di ruang sidang, orang bermusyawarah menentukan masa depan NU.
Di luar ruang sidang, masyarakat sedang menunjukkan masa depan NU dengan perbuatan.
Bahwa selama masih ada orang yang mau menyumbang, mau melayani, mau memasak, mau mengantar, mau membuka posko, dan mau bekerja tanpa pamrih, tradisi khidmah itu belum selesai.
Tambakberas tahun ini menjadi saksi.
Ketika NU punya hajat, semua ingin ikut punya gawe.
Buwuh bukan hanya tentang memberi.
Buwuh adalah cara sederhana mengatakan: “NU adalah rumah kita. Dan ketika rumah ini punya hajat, kita semua datang untuk membantu.”
*) Penulis adalah Choirul Anam Direktur BMT NU Balen, Ketua Ansor Balen yang juga Ketua BUMA PC GP Ansor Bojonegoro













