JagatSembilan.com | bojonegoro – Majelis Pemberdayaan Masyarakat (MPM) Bojonegoro hari ini, Selasa (18/02/2025) menggelar pelatihan pembuatan biosaka dan ‘N Level 1. Acara itu dirangkai dengan Pengukuhan Jama’ah Tani Muhammadiyah (Jatam).
Acara itu dilaksanakan di komplek kantor Muhammadiyah Bojonegoro, Jl. Tengku Umar No. 48 Bojonegoro Jawa Timur.
Acara itu dihadiri oleh Zaenal Fanani Sekretaris Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Kabupaten Bojonegoro, Suwito Ketua PD Muhammadiyah Bojonegoro Muhammad Anshar Inovator Biosaka dari Malang serta puluhan peserta dari kelompok tani yang ada di Bojonegoro.

Acara itu mengambil tema “Membangun sistem pertanian yang berdampak bagi keuntungan petani dan keberlanjutan lingkungan”.
H. Suwito Ketua PD Muhammadiyah Bojonegoro dalam sambutannya mengatakan, dirinya adalah anak seorang petani. Menurutnya dari kecil dirinya sudah terbiasa dengan bertani.
“Saya itu tanaman apa saja pernah, saya lo pernah nanam kubis, gak laku, karena terlalu tipis,” terang H. Suwito disambut ketawa sama yang hadir.

H. Suwito juga menceritakan bahwa Muhammadiyah mempunyai banyak usaha yang menurutnya hari ini banyak pengurangan keuntungan. Hal itu karena adanya kebijakan pemerintah.
H. Suwito juga berpesan kepada yang hadir untuk hati-hati dalam menentukan langkah usaha, karena perkembangan sangat cepat ada hal yang harus diperhitungkan.

Sementara itu, Zaenal Fanani Sekretaris DKPP Bojonegoro dalam sambutannya mengapresiasi Muhammadiyah Bojonegoro yang selama ini terkenal bergerak dalam bidang kesehatan dan pendidikan, sekarang peduli dengan pertanian.
Menurut Zaenal Fanani, selama ini kebutuhan pupuk di Kabupaten Bojonegoro tidak pernah terpenuhi 100%. Menurutnya, rata-rata selama ini tercukupi 50%.
“Maka kita mencoba mencari jalan lain dengan pupuk organik sebagai substitusi terhadap pupuk kimia,” terang Pak Zaenal sapaan akrabnya.
Pak Zaenal menambahkan, apa yang dilaksanakan oleh MPM Bojonegoro adalah melaksanakan pelatihan Biosaka dan ‘N Level 1.
“Jika petani menggunakan Biosaka dan ‘N Level 1, maka petani tidak akan kekurangan pupuk kimia dan pestisida,” imbuhnya.
Dalam keterangannya Pak Zaenal juga mengatakan, sudah ada contohnya di Kecamatan Balen yang dikerjakan oleh Nafi.
“Dalam satu hektar bisa menghasilkan 6 sampai 9 ton dan mampu menghemat biaya sampai 6 juta. Ini merupakan bukti nyata bahwa kita sebenarnya bisa mengurangi ketergantungan terhadap pupuk subsidi,” imbuhnya.
Pak Zaenal juga menerangkan rencananya kedepan terhadap petani yang menerapkan cara bertani low cost yang ramah lingkungan.
“Nanti akan diperjuangkan untuk dibeli oleh pegawai Pemkab, ini akan mendorong petani untuk low cost dan ramah lingkungan lebih sejahtera.” pungkasnya.
Sampai berita ini ditulis, Muhammad Anshar Inovator Biosaka masih memberikan materi kepada puluhan peserta. Nampak para peserta sangat serius mengikuti pemaparan yang disampaikan oleh Muhammad Anshar.














