JagatSembilan.com | Bojonegoro – Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa menyalurkan Bantuan Langsung Tunai (BLT) Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau (DBHCHT) kepada ratusan karyawan industri hasil tembakau di PT Kareb Alam Sejahtera (KAS), Desa Ngumpakdalem, Kecamatan Dander, Kabupaten Bojonegoro, Senin (25/05/2026). Kegiatan tersebut juga dirangkai dengan peresmian Masjid Nur Khofifah yang berada di lingkungan PT KAS.
Hadir dalam kegiatan itu anggota DPRD Jatim Sri Wahyuni, Bupati Bojonegoro Setyo Wahono bersama Forkopimda Bojonegoro, Kepala Dinas Sosial Jatim Restu Novi Widiani, Ketua SPSI Jatim, Direktur PT KAS Sriyadi Purnomo, perwakilan Sampoerna, serta ratusan penerima BLT DBHCHT.
Direktur PT Kareb Alam Sejahtera Sriyadi Purnomo dalam sambutannya menyampaikan rasa syukur atas penyaluran bantuan tersebut. Ia menyebut para pekerja pabrik rokok dari berbagai unit usaha di bawah Koperasi Karep merasa terbantu dengan adanya BLT DBHCHT yang telah masuk ke rekening penerima.
“Syukur alhamdulillah hari ini teman-teman dan saudara-saudaraku semuanya bahagia, senyum telah mendapatkan BLT dari Dana Hasil Cukai,” ujar Sriyadi.
Ia juga menyampaikan apresiasi kepada Khofifah Indar Parawansa yang dinilai konsisten memperhatikan keberlangsungan industri hasil tembakau, khususnya sektor sigaret kretek tangan (SKT).
“Ibu Gubernur sangat perhatian kepada kita semuanya. Beliau sangat luar biasa membela industri hasil tembakau khususnya pada karya SKT ini,” katanya.
Sriyadi juga menyinggung upaya Khofifah yang disebut telah menyampaikan surat kepada Presiden terkait kebijakan cukai rokok dan regulasi kemasan rokok polos.
“Alhamdulillah kemarin beliau sudah mengirimkan surat kepada Bapak Presiden tentang tidak ada kenaikan cukai,” ucapnya.
Selain itu, Sriyadi memaparkan program peningkatan sumber daya manusia bagi para buruh rokok melalui kerja sama pendidikan dengan perguruan tinggi. Saat ini terdapat puluhan pekerja yang menjalani pendidikan strata satu hingga strata dua.
“Paginya linting rokok, sorenya kuliah,” tuturnya.
Dalam kesempatan tersebut, Sriyadi juga menjelaskan alasan penamaan Masjid Nur Khofifah yang diresmikan bersamaan dengan penyaluran BLT DBHCHT.
“Nur itu adalah cahaya. Sedangkan Khofifah adalah salah satu tokoh perempuan nasional dan pemimpin luar biasa,” jelasnya.
Sementara itu, Bupati Bojonegoro Setyo Wahono mengapresiasi kontribusi industri hasil tembakau dalam membuka lapangan pekerjaan dan menopang ekonomi masyarakat.
“Kehadiran pabrik rokok atau industri hasil tembakau memiliki peranan yang penting dalam membangun roda ekonomi masyarakat,” kata Wahono.
Ia juga mengingatkan pentingnya menjaga keberlangsungan industri rokok legal sekaligus memberantas peredaran rokok ilegal.
“Saya minta tolong kepada industri rokok untuk bareng-bareng memberantas rokok ilegal, bareng-bareng memberikan kesejahteraan yang baik kepada tenaga kerja,” ujarnya.
Dalam sambutannya, Wahono turut mengimbau para penerima bantuan agar memanfaatkan dana BLT secara produktif.
“Kulo nyuwun tulung gimana caranya nabung karena dapat dari provinsi satu juta, dari pemerintah kabupaten delapan ratus lima puluh. Jadi satu juta delapan ratus lima puluh sehingga cukup untuk beli kambing, untuk tabungan, untuk celengan ataupun emas,” katanya.
Usai acara, Khofifah Indar Parawansa menjelaskan bahwa penyaluran BLT DBHCHT merupakan bagian dari upaya pemerintah daerah mengembalikan manfaat dana cukai hasil tembakau kepada masyarakat, khususnya para pekerja sektor tembakau.
“Harapan kita bisa lebih dari itu karena Dana Bagi Hasil ini cukai dan tembakau ini banyak yang harus dikembalikan tiap tahun,” ujar Khofifah saat wawancara cegat.
Khofifah mengungkapkan bahwa tahun ini besaran dana bagi hasil yang diterima daerah mengalami penurunan dibanding tahun sebelumnya.
“Tahun lalu sesuai undang-undang mestinya tembakau itu dapat tiga persen bagi hasilnya. Tahun ini kita dikurangi hanya satu persen,” jelasnya.
Menurutnya, Pemerintah Provinsi Jawa Timur terus memperjuangkan agar dana bagi hasil cukai hasil tembakau dapat kembali dinaikkan sehingga jumlah penerima maupun nominal bantuan bisa lebih besar.
Terkait peredaran rokok ilegal, Khofifah menyebut pemerintah tengah mengupayakan pembentukan sentra-sentra industri rokok untuk menekan potensi peredaran rokok tanpa cukai.
“Kalau industri rokok bisa disentralisasikan di beberapa titik maka itu akan relatif bisa mengurangi kemungkinan rokok ilegal itu beredar,” pungkasnya.













