JagatSembilan.com | Bojonegoro — Program Gayatri (Gerakan Beternak Ayam Petelur Mandiri) Program PPM Pertamina EP Sukowati Zona 11 menunjukkan capaian positif dalam mendorong kemandirian ekonomi masyarakat desa. Program ini bertujuan untuk memberdayakan masyarakat miskin dan rentan melalui kegiatan beternak ayam petelur secara mandiri, dengan harapan dapat meningkatkan pendapatan keluarga dan mendorong kemandirian ekonomi.
Dalam pelaksanaannya, Program Gayatri telah melalui sejumlah tahapan, mulai dari koordinasi dengan pemerintah desa dan pemangku kepentingan, penyaluran sarana prasarana, pendampingan teknis kepada KPM, hingga serah terima program yang menjadi penanda berakhirnya masa pendampingan program sekaligus awal keberlanjutan pengelolaan oleh pemerintah desa dan masyarakat penerima manfaat.
Perwakilan Dinas Peternakan dan Perikanan Kabupaten Bojonegoro, Fajar Dwi, menyampaikan bahwa Program Gayatri merupakan salah satu program prioritas daerah yang didukung melalui berbagai sumber pendanaan, seperti APBD, ADD, dan CSR. Ia menilai peran mitra, salah satunya IDFoS Indonesia, penting dalam menyampaikan perkembangan program secara berkala sebagai dasar tindak lanjut, termasuk oleh tim kesehatan hewan.
Ia juga menjelaskan bahwa setelah masa stimulan berakhir, KPM diharapkan mampu memenuhi kebutuhan pakan secara mandiri, bahkan di beberapa desa telah difasilitasi melalui BUMDes.
Sunariyo, Manajer Program IDFoS Indonesia, dalam forum pelaporan dan serah terima menjelaskan, dari hasil pendampingan tersebut diketahui bahwa tingkat produksi telur ayam petelur di sejumlah lokasi program telah mencapai kisaran 85–90 persen, menandakan usaha mulai berjalan optimal.
Meski demikian, juga terdapat sejumlah tantangan dalam pelaksanaan program, terutama terkait kualitas sumber daya manusia, pencatatan usaha, serta ketersediaan bibit ayam yang harganya cenderung meningkat. Tantangan tersebut menjadi perhatian bersama untuk memastikan keberlanjutan program ke depan.
Sementara itu, perwakilan PT Pertamina EP Sukowati Field Zona 11, Muh Thiraffi R, menyampaikan harapan agar Program Gayatri dapat terus memberikan manfaat dan berlanjut di masa mendatang sebagai upaya pemberdayaan ekonomi masyarakat.
Dari sisi kebijakan sosial, Dinas Sosial Kabupaten Bojonegoro melalui Endah R menyampaikan terkait transparansi data penerima manfaat. Ia menjelaskan bahwa penyaluran bantuan mengacu pada data Data Terpadu Kesejahteraan Sosial Nasional (DTSEN) sesuai dengan desil penerima manfaat.
Perwakilan KPM Desa Sambiroto, Ika Puspitasari, menyampaikan bahwa program ini dirasakan sangat bermanfaat. Telur hasil budidaya saat ini dijual kepada pembuat kue di sekitar desa, sehingga memberikan tambahan penghasilan bagi keluarga.
Dari tingkat desa, Kepala Desa Bondol, H. Katam, melaporkan bahwa terdapat 10 KPM penerima manfaat dengan total 536 ekor ayam, dengan angka kematian relatif rendah. Produksi telur rata-rata mencapai 47 hingga 53 butir per hari. Sekretaris Desa Sidomukti, Abdul Azis, menambahkan bahwa pemerintah desa telah menginisiasi penyediaan pakan melalui BUMDes dan menekankan perlunya intervensi pemerintah desa agar masyarakat tidak berjalan sendiri dalam mengelola usaha.
Sementara itu, Kepala Desa Sambiroto menyarankan agar KPM yang telah berjalan terus mendapatkan pendampingan dan pembinaan hingga benar-benar mandiri. Kepala Desa Campurejo, Edi, menyoroti pentingnya perhatian lebih bagi desa penghasil dan menilai strategi kerja IDFoS Indonesia memiliki efek ganda dengan merangkul UMKM. Ia juga mencatat adanya keterbatasan stimulan pakan yang berdampak pada sebagian KPM yang kesulitan memenuhi kebutuhan pakan sebelum produksi optimal.
Dari kalangan akademisi, Erwanto dari Universitas Bojonegoro (Unigoro) menyoroti potensi pengelolaan kotoran ayam yang dapat diolah menjadi pupuk. Menurutnya, jika dikelola dengan baik, limbah peternakan tidak hanya mencegah masalah lingkungan, tetapi juga berpotensi meningkatkan perekonomian masyarakat.
Dalam forum ini menjadi ruang diskusi bersama sekaligus penguatan komitmen lintas pihak agar Program Gayatri dapat terus dikembangkan secara berkelanjutan dan memberikan dampak ekonomi jangka panjang bagi masyarakat Bojonegoro.














