Oleh : Choirul Anam*
Aku pernah berdiri di antara lautan lentera merah yang bergelantungan di gang sempit kawasan Pecinan, dan beberapa minggu kemudian menyusuri bazar Ramadan yang hiruk pikuk menjelang waktu berbuka. Kedua momen itu terasa begitu berbeda, namun justru karena perbedaan itulah aku mulai menyadari satu hal sederhana: keberagaman bisa jadi benang yang menjahit kebersamaan.
Ini bukan cerita tentang siapa yang benar, tetapi tentang bagaimana budaya dan tradisi yang berasal dari latar kepercayaan yang berlainan itu ternyata saling bersinggungan, saling menghormati, bahkan saling memperkaya.
Imlek atau Tahun Baru Cina (Chinese New Year) sejak dahulu sejatinya bukan sekadar perayaan agama, tetapi lebih sebagai tradisi agraris yang lahir dari kebutuhan manusia untuk menyambut musim semi—awal kehidupan yang baru. Tradisi ini lahir ribuan tahun lalu di Tiongkok ketika masyarakat agraris menantikan berakhirnya musim dingin dan datangnya masa tanam kembali. Imlek kemudian berkembang menjadi perayaan simbolik akan harapan, keberuntungan, dan kebersamaan keluarga.
Di Indonesia sendiri, Imlek bukan hanya dirayakan oleh etnis Tionghoa semata; ia telah menjadi bagian dari kehidupan sosial yang lebih luas. Pemerintah RI menggaungkan Imlek Festival sebagai momen kebudayaan nasional yang merayakan keberagaman dan persatuan, bukan sekadar etnis tertentu. Perayaan yang digelar antara 17 Februari — 3 Maret 2026 ini justru memperlihatkan bagaimana Imlek menjadi ruang inklusif bagi lintas masyarakat.
Menariknya, momen tersebut pada tahun 2026 bertepatan dengan bulan suci Ramadan. Dua tradisi yang dalam hitungan kalender umumnya tak berkaitan tiba-tiba saling berdekatan dan “berdialog” dalam ruang publik. Dalam festival itu direncanakan kegiatan buka puasa bersama dan ibadah tarawih—sebuah penghormatan terhadap praktik Muslim Indonesia—menjadi bagian dari rangkaian acara Imlek.
Jika Imlek adalah selebrasi awal tahun menurut penanggalan Tionghoa, maka Ramadan adalah bulan penuh perenungan, puasa, dan ibadah dalam tradisi Islam. Umat Muslim di seluruh dunia, termasuk Indonesia yang mayoritas penduduknya Muslim, menyambut Ramadan sebagai bulan yang suci—dipenuhi doa, silaturahmi, serta berbagai tradisi lokal unik.
Di banyak daerah Nusantara, tradisi jelang Ramadan bukan sekadar berhenti makan siang saja. Misalnya, tradisi Belimau di Bangka Belitung atau Riau yang berupa mandi ritual dengan air jeruk limau sebagai simbol pembersihan diri sebelum memasuki bulan suci. Praktik ini berasal dari perpaduan lama antara kebiasaan pra-Islam dan ajaran Islam itu sendiri, menandai bagaimana tradisi lokal disesuaikan dengan nilai religius umat Muslim.
Selain itu, di Kota Semarang, masyarakat merayakan datangnya Ramadan dengan karnaval Dugderan, yang ditandai pemukulan bedug sebagai tanda awal Ramadan. Tradisi tradisional ini kini menjadi bagian dari perayaan publik yang mengundang seluruh warga untuk merasakan kebersamaan dalam menyambut bulan puasa.
Apa yang terjadi ketika Imlek dan Ramadan saling bersisian dalam kalender? Di Indonesia, negara dengan mozaik budaya yang sangat kaya, peristiwa ini tidak dilihat sebagai konflik tradisi, melainkan sebagai momennya akulturasi budaya—di mana perbedaan bukan alasan untuk terpisah, tetapi justru diajak hidup berdampingan.
Kementerian Kebudayaan RI menegaskan bahwa perayaan Imlek Nasional merupakan bentuk akulturasi budaya, sebagai sebuah tradisi yang sudah lama menyatu dengan karakter plural masyarakat Indonesia. Dengan begitu banyak pengaruh budaya dari berbagai penjuru dunia—China, India, Arab, Eropa—Indonesia telah lama menjadi ruang bertemunya beragam tradisi.
Dalam praktek sehari-hari, kita melihat pola ini tidak hanya di acara besar seperti festival nasional. Di banyak komunitas, pola budaya yang saling mengisi sering tampak dalam makanan, cara bertamu, cara bermaaf-maafan, atau dalam kesopanan antar-tetangga. Misalnya, hadirnya Ketupat Cap Go Meh—sebuah bentuk kuliner akulturasi antara tradisi Tionghoa saat Cap Go Meh dan menu khas lebaran Muslim Indonesia—adalah ekspresi nyata dari bagaimana tradisi yang sangat berbeda pun bisa “berbicara” satu sama lain.
Bahkan mungkin secara tak sadar, tradisi Ramadan di Indonesia seperti saling berkunjung ke rumah saudara atau tetangga, berbagi takjil, atau membuka pintu bagi yang ingin berbuka di rumah kita, bisa dipahami sebagai adat yang sejalan dengan inti Imlek: memperkuat hubungan keluarga dan komunitas.
Aku pun teringat sebuah adegan kecil: seorang bapak Tionghoa membagikan angpao kepada anak-anak tetangga di sebuah gang sempit, lalu beberapa minggu kemudian ia ikut berbagi kurma kepada para jamaah yang berbuka puasa; atau seorang ibu Muslim yang menata piring ketupat untuk cap go meh sembari mengundang tetangga untuk menikmati hidangan bersama.
Di kedua perayaan itu, terasa satu nafas yang sama: harapan akan masa depan yang lebih baik, penghormatan terhadap keluarga dan leluhur, serta semangat berbagi kepada sesama. Dua tradisi dari latar agama yang berbeda itu menampilkan wajah budaya Indonesia yang tidak hitam-putih, tetapi penuh nuansa, kaya makna, dan—di atas segalanya—penuh kemanusiaan.
Penulis adalah Ketua PAC GP Ansor Balen yang juga Ketua Badan Usaha Milik Ansor (BUMA) PC GP Ansor Bojonegoro. Selain itu juga Direktur BMTNU Balen.














