PC ISNU Bojonegoro Gelar Diskusi Ekologi, Soroti Krisis Pangan Global dan Pentingnya Diet Berkelanjutan

Diskusi ekologi PC ISNU Bojonegoro melalui Zoom Meeting pada 11 Februari 2026 membahas krisis pangan global dan diet berkelanjutan.
PC ISNU Bojonegoro menggelar diskusi ekologi secara daring melalui Zoom Meeting, Rabu (11/02/2026).

JagatSembilan.com| Bojonegoro – Pengurus Cabang Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama (PC ISNU) Bojonegoro menggelar diskusi ekologi melalui Zoom Meeting pada Rabu (11/02/2026). Forum intelektual ini mengangkat isu krusial sistem pangan global, dampak ekologis, serta pentingnya membangun kesadaran konsumsi berkelanjutan berbasis kearifan lokal.

Diskusi tersebut membedah fenomena yang disebut sebagai Triple Burden of Global Malnutrition atau Tiga Beban Malnutrisi Global. Kondisi ini menunjukkan paradoks sistem pangan dunia: di satu sisi, sekitar 815 juta orang masih mengalami kekurangan gizi, namun di sisi lain, 1,9 miliar orang dewasa justru mengalami obesitas.

Dalam pemaparannya, Nove Zain (Sekretaris LKNU Bojonegoro & Ahli Gizi Alumni Wageningen University, Belanda) menekankan bahwa perubahan sistem pangan global harus dimulai dari kesadaran individu.

“Apa yang kita pilih untuk dimakan bukan sekadar soal selera, tetapi juga keputusan ekologis dan moral. Piring kita adalah suara kita untuk masa depan,” tegas Nove.

Ia menjelaskan bahwa industri pangan merupakan penyumbang tekanan ekologis terbesar, di mana 26% emisi gas rumah kaca global berasal dari rantai pasok pangan. Oleh karena itu, pergeseran menuju Sustainable Diets (Diet Berkelanjutan) yang melindungi keanekaragaman hayati dan terjangkau secara ekonomi menjadi sangat urgensi.

Narasumber kedua, M. Sholihin, Pengkaji Maqasid Syariah, menyampaikan perspektif menarik dari sudut pandang ilmu mantiq dan semantik bahasa. Ia mengingatkan pentingnya berpikir jernih tanpa terjebak logical fallacy dalam memahami krisis pangan. Bagi Sholihin, menanam adalah bagian dari ibadah utama setelah perkara wajib, karena tanamanlah yang menopang kehidupan.

“Mbah Hasyim Asy’ari pernah menyampaikan dalam kitabnya bahwa salah satu tanda kiamat sudah dekat adalah ketika orang berlomba-lomba memperbagus bangunan masjid. Sebaliknya, orang yang banyak menanam tidak termasuk dalam tanda cepatnya kiamat tersebut,” urai Sholihin.

Diskusi ini juga menekankan bahwa menu tradisional Bojonegoro seperti sayur bening krai, bayam, waluh, jantung pisang, hingga _cowek an_ adalah contoh konkret pola makan berkelanjutan. Bahan-bahan ini memiliki jejak karbon rendah karena diproduksi secara lokal, kaya nutrisi, dan sesuai dengan budaya masyarakat setempat.

Menutup diskusi tersebut, Ketua PC ISNU Kabupaten Bojonegoro, Dr. Yogi Prana Izza, Lc., M.A., memberikan refleksi mendalam mengenai keseimbangan alam. Beliau menyoroti bahwa masalah ekologi saat ini berakar pada sifat dasar manusia.

“CO2 adalah bagian alami dari siklus kehidupan, asal ada mekanisme penyerap (carbon sink) yang seimbang. Problemnya, jika dilihat dari sudut pandang sufistik, adalah faktor tamak atau rakus manusia. Kita sedang berhutang kepada alam. Solusinya adalah ‘kompensasi spiritual’, yaitu membayar emisi dengan menanam serta menjaga pohon dan ekosistem,” pungkas Dr. Yogi.

Diskusi ini menjadi bagian dari komitmen ISNU Bojonegoro dalam menguatkan literasi ekologi dan membangun kesadaran publik bahwa menjaga bumi bisa dimulai dari apa yang kita tanam dan apa yang kita sajikan di meja makan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *