Oleh: Ahmad Rifqi Azmi, M. Ag
Di antara jebakan terbesar dalam perjalanan menuju Allah adalah kebiasaan berkata, “Nanti saja.” Nanti kalau sudah tua saya bertobat. Nanti kalau pekerjaan sudah selesai saya akan rajin shalat. Nanti kalau sudah pensiun saya akan belajar mengaji dan memperbaiki diri. Menunda amal seperti ini merupakan salah satu penyakit hati yang sangat berbahaya. Sebab, tidak ada seorang pun yang mengetahui apakah ia masih memiliki kesempatan untuk mengerjakan amal itu esok hari.
Kalimat sederhana “nanti saja” tampak sepele, tetapi sesungguhnya merupakan salah satu tipu daya terbesar yang digunakan setan untuk menjauhkan manusia dari Allah. Sebab, yang membinasakan seseorang sering kali bukan karena ia menolak kebaikan, melainkan karena ia terus-menerus menundanya hingga kesempatan itu benar-benar habis.
Merasa Aman dari Ancaman Allah
Salah satu penyebab seseorang gemar menunda tobat adalah karena ia merasa dirinya aman. Merasa aman dari kematian dan merasa aman dari makar Allah. Merasa bahwa Allah tidak akan menurunkan adzab seketika itu kepadanya sehingga kehilangan rasa takut kepada Allah. Akibatnya, dosa dianggap ringan, sementara kesempatan bertobat selalu diundur. Padahal Allah SWT telah memperingatkan:
“Maka apakah mereka merasa aman dari makar Allah? Tidaklah ada yang merasa aman dari makar Allah kecuali orang-orang yang merugi.” (QS. Al-A’raf: 99)
Lihatlah Rasulullah saw. betapa tidak pernah sekalipun beliau merasa aman dari makar Allah. Imam Muslim meriwayatkan:
كان رَسولُ اللهِ صلَّى اللهُ عليه وسلَّم إذا كان يَومُ الرِّيحِ والغَيمِ عُرِفَ ذلك في وجهِه، وأقبَلَ وأدبَرَ، فإذا مَطَرَت سُرَّ به، وذَهَبَ عنه ذلك، قالت عائِشةُ: فسَألتُه، فقال: إنِّي خَشيتُ أن يَكونَ عَذابًا سُلِّطَ على أُمَّتي (رواه مسلم)
Artinya: (Aisyah r.a. bercerita):”Apabila Rasulullah saw. melihat angin kencang atau awan mendung, tampak perubahan pada wajah beliau. Beliau mondar-mandir dengan penuh kekhawatiran. Ketika hujan benar-benar turun, barulah beliau merasa lega. Aku bertanya, ‘Wahai Rasulullah, mengapa demikian?’ Beliau menjawab, ‘Aku khawatir itu adalah azab yang ditimpakan kepada umatku.'” (HR. Muslim)
Panjang Angan-Angan (Thulul Amal)
Inilah penyakit yang paling sering menimpa manusia. Seseorang merasa usianya masih panjang. Orang yang terlalu panjang angan-angannya biasanya sibuk merancang masa depan dunia, tetapi lupa mempersiapkan perjalanan akhirat. Ingat, tidak ada persyaratan orang meninggal harus tua, tidak ada persyaratan orang meninggal harus sakit terlebih dahulu. Tidak seorang pun mengetahui apakah ia masih hidup sore nanti, apalagi tahun depan. Andai ia masih hidup, tidak ada yang menjamin ia akan sehat atau tidak, tidak ada juga yang menjamin ia akan luang waktunya atau tidak, bisa jadi ia akan berada dalam kesibukan. Rasulullah saw. bersabda:
“Manfaatkan lima perkara sebelum datang lima perkara: masa mudamu sebelum tuamu, sehatmu sebelum sakitmu, kayamu sebelum miskinmu, waktu luangmu sebelum sibukmu, dan hidupmu sebelum matimu.” (HR. al-Hakim)
Meremehkan Perintah Allah
Penyebab berikutnya adalah hati yang mulai kehilangan pengagungan kepada Allah (ta’zhim lillah). Ketika seseorang benar-benar menyadari bahwa yang memerintah adalah Allah, Raja segala raja (Malikul Mulk), maka tidak pantas baginya berkata, “Nanti saja.” Sebaliknya, orang yang tidak merasakan keagungan Allah, ia sulit mensegerakan pelaksanaan perintah-Nya.
Cepat atau lambatnya seseorang melaksanakan sebuah perintah sangat dipengaruhi oleh seberapa besar ia menghormati pihak yang memberi perintah. Semakin agung kedudukan pemberi perintah di dalam hatinya, semakin cepat pula ia berusaha melaksanakannya. Misalnya seperti ini:
Bayangkan seorang warga miskin datang mengadu kepada kepala desa mengenai kesulitannya. Karena merasa yang datang hanyalah rakyat biasa, sang kepala desa tidak segera menindaklanjuti laporan tersebut. Namun, ketika Bupati datang melakukan inspeksi dan memerintahkan agar masalah itu segera diselesaikan, ia langsung bergerak tanpa menunda sedikit pun. Padahal pekerjaannya sama. Yang berubah bukan berat-ringannya tugas, melainkan siapa yang memberi perintah. Semakin tinggi penghormatan kepada pemberi perintah, semakin cepat pula seseorang melaksanakannya.
Demikian pula dalam ibadah. Bila hati benar-benar mengagungkan Allah sebagai Malikul Mulk, tidak pantas lagi ada ucapan, “Nanti saja.” Semakin besar pengagungan seseorang kepada Allah, semakin ringan pula ia bersegera memenuhi setiap perintah-Nya.
Celakanya, meremehkan perintah Allah ini bukan dosa biasa, ia merupakan dosa besar, bahkan dapat menjerumuskan kepada kekufuran.
وَلَئِن سَأَلۡتَهُمۡ لَيَقُولُنَّ إِنَّمَا كُنَّا نَخُوضُ وَنَلۡعَبُۚ قُلۡ أَبِٱللَّهِ وَءَايَٰتِهِۦ وَرَسُولِهِۦ كُنتُمۡ تَسۡتَهۡزِءُونَ 65 لَا تَعۡتَذِرُواْ قَدۡ كَفَرۡتُم بَعۡدَ إِيمَٰنِكُمۡۚ (التوبة: 65-66)
Sesungguhnya jika kamu tanyakan kepada mereka, mereka pasti akan menjawab, “Sesungguhnya kami hanya bersenda gurau dan bermain-main saja.” Katakanlah, “Apakah terhadap Allah, ayat-ayat-Nya, dan Rasul-Nya kamu selalu berolok-olok?” Tidak perlu kamu membuat-buat alasan karena kamu telah kufur sesudah beriman. (QS. Attaubah 65-66)
Banyaknya Dosa dan Maksiat
Penyebab selanjutnya adalah banyaknya dosa dan maksiat. Dosa tidak hanya tercatat di sisi Allah, tetapi juga meninggalkan bekas pada hati. Semakin sering seseorang bermaksiat, semakin berat pula hatinya untuk melakukan ketaatan. Ia merasa malas membaca Al-Qur’an, enggan menghadiri majelis ilmu, bahkan terasa sangat berat bangun untuk salat Subuh.
Rasulullah SAW bersabda:
“Salat yang paling berat bagi orang-orang munafik adalah salat Isya dan salat Subuh.” (HR. al-Bukhari dan Muslim)
Mari kita renungi bersama-sama hadis di atas, bagaimana dosa nifaq menghalangi seseorang untuk shalat isya dan subuh berjamaah, dan kemudian menghalangi mereka dari kebaikan kebaikan yang lain, seperti jihad, sedekah dan yang lainnya.
Sebuah Kebaikan Akan Menarik Kebaikan Berikutnya
Kabar gembiranya, sebagaimana satu dosa dapat menarik dosa yang lain, demikian pula sebuah kebaikan akan menarik kepada kebaikan berikutnya. Banyak sekali hadis yang secara tidak langsung menjelaskan tentang hal ini, misalnya hadis yang menjelaskan penyebab seseorang dimasukkan ke surga karena amal yang terlihat remeh di mata manusia seperti menolong anjing yang kehausan. Allah menjadikan amal itu sebagai pembuka amal-amal berikutnya hingga ia mati dalam keadaan husnul khatimah.
Allah berfirman:
فَأَمَّا مَنْ أَعْطَىٰ وَاتَّقَىٰ وَصَدَّقَ بِالْحُسْنَىٰ فَسَنُيَسِّرُهُ لِلْيُسْرَىٰ
Artinya: “Adapun orang yang memberi, bertakwa, dan membenarkan adanya pahala yang terbaik, maka Kami akan memudahkannya menuju jalan kemudahan.” (QS. Al-Lail: 5–7)
Para ulama menjelaskan bahwa tafsir fasanuyassiruhu lil yusro adalah Allah akan memudahkan orang yang membiasakan amal saleh menuju itu menuju surga. Artinya, orang tersebut akan dimudahkan melakukan amal-amal saleh berikutnya hingga mati dalam keadaan husnul khatimah yang merupakan jalan menuju surga.
Karena itu, jangan pernah meremehkan satu amal kecil yang dilakukan dengan tulus. Membiasakan salat qabliyah dan ba’diyah, misalnya, sering kali menjadi pintu lahirnya kebiasaan salat Tahajud, Dhuha, membaca Al-Qur’an, hingga berbagai amal kebajikan lainnya. Sebaliknya, orang yang terus menunda satu amal biasanya akan menunda amal berikutnya. Penundaan menjadi kebiasaan, lalu kebiasaan itu berubah menjadi karakter.
Maka yang perlu dilakukan bukan menunggu semangat datang, melainkan memulai satu amal kecil hari ini. Sebab hidayah sering kali datang ketika seseorang melangkah, bukan ketika ia hanya menunggu. Semoga kita senantiasa diberi taufiq oleh Allah untuk mensegerakan amal-amal shalih. Aamiin.
*) Penulis adalah Ahmad Rifqi Azmi Dosen Unugiri, Ketua Satgas Aswaja PCNU Bojonegoro dan juga Mukharir LBM PCNU Bojonegoro














