Kajian Adabul Alim Muta’allim: Menuntut Ilmu Wajib bagi Setiap Muslim

Kajian Adabul Alim Muta’allim Rijalul Ansor Bojonegoro
Ustadz A. Bahij Munfahiq, M.Ag. menyampaikan kajian kitab Adabul Alim wal Muta’allim pada kegiatan rutin Rijalul Ansor PC GP Ansor Bojonegoro. Selasa (01/09/2026)

Jagatsembilan.com | Bojonegoro – Kajian kitab Adabul Alim wal Muta’allim karya KH Hasyim Asy’ari, pendiri Nahdlatul Ulama (NU), menjadi bagian dari kegiatan rutin Rijalul Ansor PC GP Ansor Bojonegoro, Selasa (1/9/2026).

Kitab yang membahas adab seorang alim dan pencari ilmu tersebut dikaji oleh Ustadz A. Bahij Munfahiq, M.Ag., alumni Pondok Pesantren Lirboyo, Kediri. Dalam kajiannya, ia menguraikan keutamaan menuntut ilmu, hukum mencari ilmu, hingga besarnya kemuliaan yang diberikan Allah SWT kepada orang yang bersungguh-sungguh dalam belajar.

Menurut Ustadz Bahij, menuntut ilmu merupakan kewajiban bagi setiap muslim, baik laki-laki maupun perempuan. Kewajiban tersebut terletak pada usaha untuk mencari ilmu, bukan semata-mata pada hasil akhirnya.

“Yang wajib itu mencari ilmu, bukan hasilnya. Jadi orang mengaji tidak harus langsung pintar. Paham atau tidak paham bukan menjadi urusannya. Yang wajib adalah usaha untuk mencari ilmu,” jelasnya dalam kajian.

Ia menjelaskan, hal tersebut menjadi alasan mengapa istilah al-ilmu sering disandingkan dengan thalab atau mencari. Dengan demikian, seorang muslim tetap mendapatkan nilai ibadah dari kesungguhannya dalam menuntut ilmu meskipun belum mampu memahami seluruh materi yang dipelajarinya.

Penuntut Ilmu Didoakan Para Malaikat

Ustadz Bahij kemudian menjelaskan keistimewaan orang yang keluar rumah dengan semangat untuk menuntut ilmu.

Ia mengutip hadis Nabi Muhammad SAW yang menerangkan bahwa orang yang berangkat untuk mencari ilmu akan mendapatkan doa dari para malaikat serta keberkahan dalam kehidupannya.

Menurutnya, keberkahan tersebut tidak hanya berkaitan dengan rezeki, tetapi juga dapat berupa keberkahan dalam keluarga, kehidupan dan berbagai aspek lainnya.

“Ketika seseorang berangkat dengan semangat untuk mengaji, maka setiap perjalanannya itu akan dimintakan ampunan oleh malaikat kepada Allah SWT,” terangnya.

Ia juga mengaitkan hal tersebut dengan konsep takaful atau jaminan Allah terhadap rezeki. Menurutnya, terdapat tanggungan Allah yang bersifat umum bagi seluruh makhluk dan ada pula bentuk pertolongan khusus bagi orang-orang yang bersungguh-sungguh dalam menuntut ilmu.

Tanggungan yang bersifat umum, kata dia, berkaitan dengan kebutuhan primer makhluk selama masih hidup. Sementara takaful khas merupakan bentuk jaminan khusus yang diberikan kepada orang yang mau menuntut ilmu.

“Orang yang mau mencari ilmu mendapatkan dua jaminan tanggungan dari Allah SWT, mendapatkan yang umum dan juga yang khusus,” ujarnya.

Berangkat Mengaji Mendapat Pahala Besar

Dalam kajian tersebut, Ustadz Bahij juga menjelaskan hadis mengenai seseorang yang berangkat menuju masjid atau majelis ilmu dengan tujuan mempelajari atau mengajarkan kebaikan.

Dalam konteks kehidupan saat ini, menurutnya, makna tersebut dapat diterapkan pada orang yang bersemangat datang ke madrasah, pesantren maupun majelis pengajian untuk belajar atau mengajarkan ilmu.

Jika niatnya adalah untuk mempelajari satu kebaikan atau mengajarkan satu kebaikan, maka Allah SWT memberikan pahala yang besar.

“Orang yang bersemangat berangkat ke tempat pengajian atau majelis yang membahas keilmuan, tidak memiliki tujuan lain kecuali belajar satu kebaikan atau mengajarkan satu kebaikan, oleh Allah SWT diberikan pahala seperti pahala orang yang haji secara sempurna,” jelasnya.

Ia mengingatkan bahwa berbagai keterangan Nabi Muhammad SAW mengenai keutamaan amal tidak berarti Nabi bersikap plin-plan. Perbedaan jawaban tersebut justru menunjukkan bagaimana Rasulullah SAW melihat situasi, kondisi dan kapasitas orang yang bertanya.

Setiap Orang Memiliki Peran

Lebih jauh, Ustadz Bahij mengajak jamaah memahami bahwa perjuangan dalam menjalankan misi kebaikan membutuhkan berbagai kemampuan dan tidak dapat dilakukan oleh satu orang saja.

Ia mencontohkan para sahabat Nabi Muhammad SAW yang memiliki kapasitas berbeda-beda. Ada yang diarahkan pada bidang perdagangan, ada pula yang memiliki kemampuan dalam bidang militer.

Menurutnya, hal tersebut menunjukkan bahwa setiap orang mempunyai peran sesuai dengan kemampuan masing-masing.

“Misi yang dibawa Rasulullah sangat besar dan tidak bisa dicapai hanya melalui satu orang. Perlu beberapa komponen yang terkumpul dan saling mendorong untuk mewujudkan misi tersebut,” ungkapnya.

Ia kemudian mengingatkan hadis khairunnas anfa’uhum linnas, bahwa sebaik-baik manusia adalah mereka yang memberikan manfaat kepada manusia lainnya.

Karena itu, seseorang tidak harus memaksakan diri berkontribusi pada bidang yang tidak dikuasainya.

“Yang mampu memberikan dukungan secara ekonomi, ya ekonomi. Yang mampu memberikan dukungan secara keilmuan, ya keilmuan. Yang mampu bergerak di lapangan, ya bergerak di lapangan,” katanya.

Alim, Muta’allim, Mustami’ atau Muhib

Pada bagian akhir kajian, Ustadz Bahij menguraikan pesan penting agar setiap orang mengambil bagian dalam majelis ilmu.

Ia menyampaikan bahwa seseorang dapat mengambil posisi sebagai alim, yakni orang yang berilmu dan mengajarkan ilmu. Jika belum mampu, seseorang dapat menjadi muta’allim, yaitu orang yang belajar.

Jika belum mampu menjadi orang yang belajar secara aktif, seseorang masih dapat menjadi mustami’, yakni orang yang mendengarkan kajian. Bahkan, seseorang juga dapat menjadi muhibban, yakni orang yang mencintai atau mendukung para pencari dan pengajar ilmu.

“Kalau tidak bisa menjadi orang alim, jadilah muta’allim. Kalau tidak bisa menjadi muta’allim, jadilah mustami’, orang yang mendengarkan orang mengaji. Kalau tidak bisa mengajar, tetaplah hadir dan mencintai majelis ilmu,” tuturnya.

Pesan tersebut menjadi salah satu penekanan penting dalam kajian Adabul Alim wal Muta’allim: tidak ada alasan bagi seorang muslim untuk melepaskan diri dari ikhtiar mencari, mendengarkan, mencintai dan mendukung ilmu.

Acara itu dilaksanakan di Aula Lantai dua PCNU Bojonegoro dengan dihadiri oleh Ustadz Misbahul Munir Ketua Rijalul Ansor PC GP Ansor Bojonegoro. Acara diawali dengan sholat ashar berjamaah, pembacaan rotibul hadad, pembacaan sholawat nabi bil qiyam.

Melalui kegiatan rutin Rijalul Ansor tersebut, kajian kitab karya KH Hasyim Asy’ari diharapkan tidak hanya menjadi aktivitas keagamaan, tetapi juga menjadi sarana membangun tradisi keilmuan dan memperkuat karakter kader Ansor dalam menjalankan pengabdian di tengah masyarakat.(Red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *