Karomah yang Sebenarnya: Istiqamah dalam Ketaatan dan Meninggalkan Kemaksiatan

Ilustrasi seorang muslim berdoa dan membaca Al-Qur'an di dalam masjid sebagai simbol istiqamah dalam ketaatan kepada Allah, karomah yang sejati menurut ajaran Islam.
Ilustrasi seorang hamba yang berdoa dan mendekatkan diri kepada Allah. Dalam perspektif para ulama, karomah terbesar bukanlah kemampuan melakukan hal-hal luar biasa, melainkan istiqamah dalam ketaatan dan menjauhi kemaksiatan.(By chatgpt)

Oleh: Ahmad Rifqi Azmi, M. Ag

Di tengah masyarakat saat ini, istilah karomah sering dipahami sebagai kemampuan melakukan hal-hal yang luar biasa. Seseorang dianggap wali dan dekat dengan Allah karena mampu mengetahui perkara gaib, memiliki kemampuan di luar kebiasaan manusia, seperti terbang, berjalan di atas air, berpindah tempat dalam sekejap, atau berbagai fenomena supranatural lainnya. Semakin spektakuler kisah yang melekat padanya, semakin tinggi pula kedudukannya di mata masyarakat.

Padahal, menjadikan hal-hal semacam itu sebagai tolok ukur utama kewalian merupakan kekeliruan. Memang benar, sebagian kekasih Allah dikaruniai karamah yang bersifat lahiriah. Namun, tidak setiap orang yang memiliki kemampuan luar biasa adalah wali Allah.

Mari kita merenungi kisah Nabi Sulaiman `alaihissalam ketika meminta orang-orang di sekelilingnya memindahkan singgasana Ratu Bilqis. Al-Qur’an mengisahkan bahwa seorang Ifrit dari golongan jin menjawab permintaan Nabi Sulaiman itu dengan berkata:

قَالَ عِفۡرِيتٞ مِّنَ ٱلۡجِنِّ أَنَا۠ ءَاتِيكَ بِهِۦ قَبۡلَ أَن تَقُومَ مِن مَّقَامِكَۖ وَإِنِّي عَلَيۡهِ لَقَوِيٌّ أَمِينٞ (النمل 39)

Artinya: Ifrit dari golongan jin berkata, “Akulah yang akan membawanya kepadamu sebelum engkau berdiri dari singgasanamu. Sesungguhnya aku benar-benar kuat lagi dapat dipercaya.” (QS. An-Naml: 39)

Jika kemampuan luar biasa dijadikan ukuran utama kewalian, tentu Ifrit lebih layak disebut sebagai wali Allah. Demikian pula fenomena jasad yang tetap utuh setelah meninggal dunia. Hal itu juga tidak dapat dijadikan ukuran mutlak kewalian, sebab jasad Fir’aun -yang jelas kafir dan zalim- juga Allah jadikan utuh hingga saat ini. Semua ini menunjukkan bahwa keajaiban lahiriah bukanlah standar utama kemuliaan seorang hamba di sisi Allah.

Istiqamah adalah Karomah yang Sesungguhnya

Para ulama tasawuf memiliki sebuah ungkapan yang sangat masyhur:

الاستقامة عين الكرامة

Artinya: “Istiqamah adalah inti dari karomah.”

Ungkapan ini mengandung makna yang sangat dalam. Karomah terbesar bukanlah kemampuan melakukan sesuatu yang tidak mampu dilakukan manusia pada umumnya, melainkan kemampuan untuk terus istiqamah dalam ketaatan dan terus-menerus meninggalkan kemaksiatan, baik yang tampak (lahir) maupun yang tersembunyi (batin). Mari kita renungi firman Allah

أَلَآ إِنَّ أَوۡلِيَآءَ ٱللَّهِ لَا خَوۡفٌ عَلَيۡهِمۡ وَلَا هُمۡ يَحۡزَنُونَ ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ وَكَانُواْ يَتَّقُونَ [يونس: 62-63]

Artinya: Ketahuilah bahwa sesungguhnya (bagi) para wali Allah itu tidak ada rasa takut yang menimpa mereka dan mereka pun tidak bersedih. (Mereka adalah) orang-orang yang beriman dan selalu bertakwa.(Yunus 62-63)

Sifat wali dalam ayat tersebut diredaksikan wa kanu yattaqun. Dalam bahasa Arab fi’il mudhari’ menunjukkan arti tajaddud. Artinya wali selalu memperbaharui ketakwaannya secara terus menerus. Penambahan lafal kaanu menunjukkan taukid atau penguatan informasi apa yang mereka lakukan itu.

Hakikat karomah adalah sesuatu yang khariqul ‘adah (melampaui kebiasaan). Jika demikian, maka istiqamah justru merupakan bentuk khariqul ‘adah yang paling agung. Sebab, kebiasaan manusia adalah lalai dan tidak dapat mengingat Allah dalap setiap kedipan mata dan hembusan nafasnya, sedangkan wali Allah diberi kemampuan untuk terus mengingat Allah. Kebiasaan manusia adalah mudah mengeluh terhadap takdir dan tidak ridho terhadap keputusan Allah, sedangkan wali Allah tetap ridha dalam setiap ketetapan-Nya. Kebiasaan manusia adalah membiarkan hati dipenuhi iri, dendam, ujub, dan takabur, sedangkan wali Allah mampu menjaga kebersihan hatinya.

Adapun kemampuan terbang, berjalan di atas air, atau melakukan berbagai hal yang menakjubkan, tidak otomatis menunjukkan kedekatan seseorang kepada Allah. Sebab, kemampuan semacam itu terkadang juga dimiliki oleh orang fasik, bahkan orang kafir. Bahkan di era sekarang, karomah seperti terbang sudah sudah dapat dilakukan orang biasa dengan naik pesawat. Justru orang yang dapat membuat pesawat lebih bermanfaat bagi orang banyak daripada kemampuan orang yang bisa terbang.

Istiqamah Berawal dari Cinta

Para ulama tasawuf menjelaskan bahwa istiqamah tidak dibangun di atas rasa terpaksa, tetapi di atas fondasi mahabbah (cinta kepada Allah). Seorang hamba tidak beribadah semata-mata karena takut akan siksa atau berharap pahala, melainkan karena mencintai Dzat yang disembahnya.

Ketika cinta telah memenuhi hati, ibadah tidak lagi terasa sebagai beban, melainkan menjadi kebutuhan. Shalat bukan lagi sekadar kewajiban yang harus ditunaikan, tetapi menjadi saat yang paling dirindukan. Dzikir bukan lagi rutinitas lisan, melainkan kebutuhan hati. Dari sinilah istiqamah akan lahir dan kokoh.

Orang yang mencintai Allah akan merasa kehilangan ketika lalai dari dzikir. Ia merasa gelisah ketika meninggalkan shalat. Sebaliknya, ia merasa bahagia setiap kali diberi kesempatan untuk mendekat kepada Rabb-nya. Inilah jalan menuju karomah yang hakiki: hati yang senantiasa rindu untuk kembali kepada Allah dalam setiap keadaan. Rasulullah saw. bersabda:

المرء مع من أحب

Artinya: “Seseorang akan bersama dengan orang yang ia cintai.”

Hadis ini mengajarkan bahwa siapa yang benar-benar mencintai Allah dan Rasul-Nya akan selalu berusaha membersamai keduanya. Di dunia, kebersamaan itu diwujudkan dengan istiqamah dalam ibadah, memperbanyak dzikir, dan berselawat kepada Rasulullah saw. Adapun di akhirat, ia berharap dikumpulkan bersama orang-orang yang dicintainya.

Meninggalkan Maksiat adalah Keajaiban Spiritual

Banyak orang kagum kepada mereka yang mampu melakukan hal-hal luar biasa. Namun, para ulama justru lebih mengagumi seseorang yang mampu meninggalkan satu dosa yang selama ini menguasai dirinya.

Meninggalkan maksiat bukanlah perkara mudah. Hawa nafsu terus mengajak kepada keburukan, sementara setan tidak pernah berhenti menghiasi jalan kemaksiatan. Karena itu, ketika seseorang mampu menjaga pandangannya, lisannya, hartanya, dan terutama hatinya dari segala yang dibenci Allah, sesungguhnya ia sedang memperoleh karomah yang jauh lebih agung daripada berbagai keajaiban lahiriah. Demikian pula ketika seseorang mampu menerima takdir Allah dengan lapang dada, terbebas dari prasangka buruk kepada-Nya, serta tetap ridha atas setiap ketentuan-Nya. Keadaan seperti ini merupakan anugerah yang tidak Allah berikan kepada setiap hamba.

Karomah yang Patut Kita Mohonkan

Keajaiban lahiriah sering kali hanya mengundang kekaguman manusia. Bahkan, dalam kondisi tertentu, ia bisa menjadi istidraj, yaitu kenikmatan yang justru membuat seseorang semakin jauh dari Allah karena merasa aman dengan dirinya. Sebaliknya, istiqamah merupakan bukti bahwa Allah terus membimbing dan menjaga seorang hamba. Setiap hari ia diberi kekuatan untuk beribadah, dijauhkan dari kemaksiatan, dan dipelihara agar tetap berada di jalan yang lurus. Itulah sebabnya para ulama salaf lebih takut kehilangan istiqamah daripada kehilangan berbagai kenikmatan dunia.

Pada akhirnya, karomah bukanlah kemampuan melampaui hukum alam, melainkan kemampuan melampaui hawa nafsu. Karomah bukanlah ketika manusia takjub kepada kita, tetapi ketika Allah menjaga kita agar tetap berada di jalan-Nya.

Maka, jika hingga hari ini Allah masih menganugerahkan kepada kita kekuatan untuk mendirikan shalat, mencintai Al-Qur’an, ringan berdzikir, mudah bertaubat setiap kali tergelincir, serta terus berjuang menjaga hati dari penyakit-penyakitnya, janganlah menganggapnya sebagai sesuatu yang biasa. Bisa jadi, itulah karomah terbesar yang Allah titipkan kepada kita. Sebab, karomah yang paling agung bukanlah kemampuan melakukan sesuatu yang luar biasa, melainkan anugerah untuk tetap istiqamah dalam ketaatan dan menjauhi kemaksiatan hingga akhir hayat.

 

*) Penulis adalah Ahmad Rifqi Azmi Dosen Unugiri, Ketua Satgas Aswaja PCNU Bojonegoro dan juga Mukharir LBM PCNU Bojonegoro

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *