Oleh: drg. Sofan Solikin
Tanggal 21 April selalu menjadi momen reflektif bagi bangsa Indonesia untuk mengenang perjuangan Raden Ajeng Kartini dalam memperjuangkan hak-hak perempuan, terutama dalam bidang pendidikan dan kesetaraan gender. Namun, semangat Kartini tidak hanya hidup dalam kenangan sejarah, tetapi juga tercermin dalam kiprah perempuan-perempuan masa kini yang terus berkontribusi bagi kemajuan daerah dan bangsa. Di Bojonegoro, dua sosok perempuan, Nurul Azizah dan Cantika Wahono, menjadi contoh nyata Kartini masa kini yang membawa perubahan positif bagi masyarakat.
Nurul Azizah: Dari Birokrat ke Wakil Bupati
Dra. Hj. Nurul Azizah, M.M., lahir pada 5 April 1969 di Bojonegoro. Kariernya di birokrasi dimulai dari bawah hingga akhirnya menjabat sebagai Sekretaris Daerah Kabupaten Bojonegoro pada tahun 2019. Pengalaman panjangnya dalam pemerintahan membentuknya menjadi sosok yang memahami kebutuhan masyarakat secara mendalam. Pada 20 Februari 2025, ia resmi dilantik sebagai Wakil Bupati Bojonegoro, mendampingi Bupati Setyo Wahono.
Sebagai Wakil Bupati, Nurul Azizah menunjukkan komitmen kuat dalam memberdayakan masyarakat. Salah satu langkah nyatanya adalah mengukuhkan Komite Independen Pemantau Anggaran Negara (KIPAN) Bojonegoro sebagai mitra pemerintah dalam mewujudkan reformasi politik, hukum, dan birokrasi, serta pemberantasan korupsi dan narkoba.
Nurul Azizah juga aktif dalam berbagai kegiatan sosial dan keagamaan, menjadikannya sosok yang dekat dengan masyarakat. Kehadirannya di berbagai acara menunjukkan dedikasinya dalam membangun Bojonegoro yang lebih baik dan sejahtera.
Cantika Wahono: Menggerakkan PKK dan Dekranasda
Dr. Hj. Cantika Wahono, atau yang akrab disapa Bu Cantika, adalah istri dari Bupati Bojonegoro, Setyo Wahono. Lahir pada 14 September 1973 di Bojonegoro, ia menempuh pendidikan S-1 di STIE Malangkucecwara dan S-2 di Universitas Brawijaya Malang. Ia juga berprofesi sebagai dosen di Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Muhammadiyah Malang sejak 1999.
Pada Maret 2025, Cantika Wahono resmi dilantik sebagai Ketua Tim Penggerak PKK dan Ketua Dekranasda Kabupaten Bojonegoro. Dalam perannya, ia fokus pada pemberdayaan perempuan dan pengembangan UMKM. Cantika menekankan pentingnya peran perempuan dalam berbagai sektor untuk menanggulangi kemiskinan, khususnya di daerah yang kaya sumber daya migas seperti Bojonegoro.
Sebagai Ketua Dekranasda, ia berkomitmen untuk meningkatkan kualitas kerajinan lokal dan mempromosikan produk UMKM Bojonegoro ke pasar yang lebih luas, termasuk melalui teknologi digital dan e-commerce.
Menghidupkan Semangat Kartini di Era Modern
Kiprah Nurul Azizah dan Cantika Wahono menunjukkan bahwa semangat Kartini masih hidup dan sangat relevan hingga kini. Mereka tidak hanya berperan sebagai pemimpin, tetapi juga sebagai inspirator bagi perempuan lainnya untuk berkontribusi dalam pembangunan daerah.
Perjuangan Kartini dalam memperjuangkan hak-hak perempuan telah membuka jalan bagi generasi berikutnya. Namun, tantangan seperti kesenjangan gender, akses pendidikan, dan pemberdayaan ekonomi masih harus terus diatasi. Oleh karena itu, peran perempuan seperti Nurul Azizah dan Cantika Wahono sangat penting dalam mewujudkan masyarakat yang lebih adil dan setara.
Hari Kartini bukan sekadar seremoni tahunan, tetapi momentum untuk merayakan dan mendorong peran strategis perempuan dalam berbagai bidang kehidupan. Dengan semangat “Habis Gelap Terbitlah Terang”, kita berharap semakin banyak perempuan berani tampil, memimpin, dan menginspirasi.













