Kemenag Bojonegoro Gelar BRUS di SMKN 2, Bekali Remaja Cegah Perkawinan Dini

Kegiatan BRUS Kemenag Bojonegoro di SMKN 2 Bojonegoro
Kemenag Bojonegoro melalui KUA Kecamatan Bojonegoro menggelar Bimbingan Remaja Usia Sekolah (BRUS) di SMKN 2 Bojonegoro, Selasa (21/4/2026).

JagatSembilan.com | Bojonegoro – Kantor Kementerian Agama Kabupaten Bojonegoro melalui Kantor Urusan Agama (KUA) Kecamatan Bojonegoro menggelar kegiatan Bimbingan Remaja Usia Sekolah (BRUS) di SMKN 2 Bojonegoro, Selasa (21/4/2026). Kegiatan ini bertujuan membekali generasi muda dengan kesiapan mental, sosial, dan spiritual dalam menghadapi tantangan kehidupan, khususnya dalam merencanakan masa depan.

Kepala KUA Kecamatan Bojonegoro, H. Ali Musthofa, dalam sambutannya menegaskan pentingnya pembinaan keagamaan sebagai fondasi pembentukan karakter remaja. Ia mengajak para siswa untuk memanfaatkan kegiatan tersebut sebagai bekal dalam menentukan arah hidup.

“Melalui kegiatan ini, kami berharap para siswa mampu memahami pentingnya perencanaan masa depan sejak dini serta memiliki landasan moral dan spiritual yang kuat dalam mengambil keputusan hidup,” ujar H. Ali Musthofa.

Sementara itu, Kepala SMKN 2 Bojonegoro menyampaikan apresiasi atas terselenggaranya kegiatan BRUS di lingkungan sekolah. Ia menilai kegiatan tersebut sangat relevan dengan kebutuhan peserta didik saat ini.

“Kami sangat mengapresiasi kegiatan ini. Semoga para siswa mendapatkan wawasan baru yang bermanfaat dan semakin memiliki sikap tanggung jawab dalam menjalani kehidupan, baik di lingkungan sekolah maupun masyarakat,” tuturnya.

Senada, Kasi Bimas Islam Kemenag Bojonegoro, H. Sun’an, menekankan pentingnya edukasi sejak dini terkait isu strategis, khususnya pencegahan perkawinan anak.

“Remaja harus dibekali pengetahuan dan keterampilan hidup agar mampu merencanakan masa depan secara matang. Pencegahan perkawinan anak menjadi bagian penting dari upaya melindungi generasi muda dari risiko sosial, kesehatan, dan pendidikan,” tegas H. Sun’an.

Pada sesi inti, materi disampaikan oleh fasilitator M. Ulil Absor dan Hamim Thohari. Keduanya mengulas dampak negatif perkawinan usia dini dari berbagai aspek, mulai dari kesehatan, pendidikan, hingga sosial.

Selain itu, peserta juga dibekali materi pengelolaan diri, meliputi kemampuan mengenali potensi, mengendalikan emosi, serta menyusun perencanaan hidup yang lebih terarah. Kegiatan berlangsung interaktif dengan antusiasme tinggi dari para siswa yang aktif berdiskusi dan mengajukan pertanyaan.

Melalui kegiatan BRUS ini, diharapkan para remaja mampu menjadi generasi yang lebih siap menghadapi masa depan, memiliki kesadaran tinggi terhadap pentingnya pendidikan, serta mampu mengambil keputusan yang tepat dalam kehidupan mereka.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *