Ketika Pujian Menjadi Hijab

Ilustrasi seorang muslim bermuhasabah di tengah pujian yang menjadi hijab hati menuju Allah.
Ilustrasi tentang bahaya pujian yang dapat melahirkan ujub, riya, dan kesombongan, serta pentingnya muhasabah agar hati tetap ikhlas dalam mendekatkan diri kepada Allah.(By chatgpt)

Oleh: Ahmad Rifqi Azmi, M. Ag

Di antara penghalang terbesar seorang hamba untuk sampai kepada Allah bukanlah banyaknya dosa semata, melainkan ketidakmampuan melihat dosa dan kekurangan dirinya sendiri. Selama seseorang masih merasa dirinya baik, ia tidak akan pernah merasa perlu berubah. Selama ia merasa hatinya sudah bersih, ia tidak akan pernah berusaha membersihkannya. Dan selama ia merasa amalnya sudah cukup, ia tidak akan lagi terdorong untuk meningkatkannya.

Padahal, perjalanan menuju Allah adalah perjalanan yang tidak pernah selesai. Setiap kali seseorang naik satu tangga, ia akan menyadari bahwa masih ada tangga-tangga lain yang belum ia daki. Kesadaran inilah yang membuat seorang salik terus bermujahadah membersihkan hati. Sebaliknya, ketika seseorang merasa dirinya telah sampai, merasa dirinya sudah bersih, atau merasa dirinya telah memiliki berbagai maqam spiritual, sesungguhnya ia sedang berhenti melangkah. Perasaan telah sempurna itulah yang menjadi hijab paling berbahaya. Ia menutup pintu muhasabah, mematikan semangat memperbaiki diri, bahkan perlahan melahirkan ujub dan kesombongan yang sangat halus.

Penyakit yang Paling Berbahaya adalah Penyakit yang Tidak Disadari

Coba perhatikan seseorang yang mengidap penyakit berat. Penyakit seperti jantung, ginjal, diabetes, atau kanker hampir tidak pernah datang secara tiba-tiba. Allah menciptakan tubuh dengan sistem peringatan. Sebelum penyakit menjadi kronis, biasanya tubuh telah memberikan berbagai isyarat: badan mudah lelah, dada terasa nyeri, nafsu makan berubah, atau muncul gejala-gejala lain. Sayangnya, tidak semua orang peka terhadap tanda-tanda tersebut. Banyak orang tetap merasa dirinya sehat sehingga enggan memeriksakan diri ke dokter. Ia tidak mengubah pola hidupnya dan tidak segera berobat. Akibatnya, penyakit berkembang tanpa disadari hingga mencapai stadium yang sulit disembuhkan.

Penyakit hati pun demikian, bahkan jauh lebih berbahaya. Jika penyakit badan mengancam kehidupan dunia, penyakit hati mengancam keselamatan akhirat. Yang lebih berbahaya lagi, penyakit hati hampir selalu membuat penderitanya merasa sehat. Orang yang sombong merasa dirinya tawaduk. Orang yang riya merasa dirinya ikhlas. Orang yang ujub mengira dirinya sedang bersyukur. Orang yang sangat mencintai dunia justru merasa dirinya telah zuhud.

Inilah sebabnya para ulama mengatakan bahwa penyakit hati jauh lebih sulit disembuhkan daripada penyakit badan. Sebab orang yang sakit badan biasanya menyadari bahwa dirinya sakit, sedangkan orang yang sakit hati justru sering merasa dirinya paling sehat.

Pujian Sering Kali Menjadi Racun bagi Hati

Salah satu penyebab seseorang kehilangan kemampuan melihat penyakit hatinya adalah terlalu sering mendengar pujian manusia. Orang-orang yang berbaik sangka kepadanya berkata,

“Anda sangat alim.”

“Anda sangat tawaduk.”

“Anda seorang yang zuhud.”

Pada awalnya ia hanya mendengar pujian itu. Lalu ia menikmatinya. Kemudian ia mulai mempercayainya. Tidak berhenti di situ, ia mulai membangun citra dirinya berdasarkan pujian tersebut. Akhirnya, ia tidak lagi melihat dirinya sebagaimana kenyataan yang diketahui Allah, tetapi sebagaimana gambaran yang dibentuk oleh pujian manusia. Di titik inilah hijab mulai tumbuh. Muhasabah perlahan menghilang. Semangat memperbaiki diri memudar. Ia merasa tidak lagi membutuhkan nasihat karena menganggap dirinya memang telah memiliki sifat-sifat mulia tersebut.

Padahal pujian manusia hanyalah penilaian lahiriah, sedangkan Allah mengetahui hakikat hati setiap hamba. Lebih berbahaya lagi, penyakit hati tidak pernah berhenti pada satu titik. Ia selalu berkembang apabila tidak segera diobati. Kesombongan akan melahirkan hasud. Hasud melahirkan kebencian. Kebencian melahirkan ghibah, fitnah, bahkan permusuhan. Penyakit hati ini tak ubahnya seperti kanker yang terus menyebar apabila tidak segera ditangani.

Tidak mengherankan apabila Rasulullah saw. memperingatkan keras bahaya memuji seseorang secara berlebihan. Dalam hadis riwayat Imam al-Bukhari disebutkan:

مَدَحَ رَجُلٌ رَجُلًا عِندَ النَّبِيِّ ﷺ فَقَالَ: وَيْحَكَ، قَطَعْتَ عُنُقَ صَاحِبِكَ (رواه البخاري)

Artinya: “Celaka engkau! Engkau telah memenggal leher saudaramu.”(Rowahu Bukhori)

Dalam hadis tersebut Rasulullah SAW menyamakan orang yang memuji sama dengan menyembelih leher orang yang dipuji, sebab dapat menjadi penyebab kebinasaan. Jika menyembelih menjadi penyebab kebinasaan dzahir dan dunia, maka pujian jika tidak disikapi dengan baik akan menjadi penyebab kebinasaan hati dan akhirat.

Maksud hadis ini bukanlah bahwa setiap pujian dilarang, melainkan pujian yang membuat orang yang dipuji terjerumus ke dalam ujub dan merasa dirinya telah sempurna. Sebab banyak pula riwayat Rasulullah saw. memuji para sahabat.

Bagaimana Agar Selamat dari Bahaya Pujian?

Imam Ibnu Athaillah memberikan obatnya melalui sebuah kalimat yang sangat indah:

المؤمن إذا مدح استحيا من الله تعالى أن يثنى عليه بوصف لا يشهده من نفسه

Artinya: “Seorang mukmin, apabila dipuji, ia merasa malu kepada Allah apabila dipuji dengan sifat yang belum ia saksikan ada pada dirinya.”

Perhatikan, Beliau mengatakan bahwa seorang mukmin merasa malu kepada Allah. Mengapa? Karena ia mengetahui hakikat dirinya. Ia sadar masih banyak niat yang belum lurus, ibadah yang belum sempurna, dan penyakit hati yang masih harus diperangi. Ketika seseorang berkata,

“Anda sangat zuhud.”

Hatinya justru berbisik, “Ya Allah, seandainya mereka mengetahui betapa hatiku masih sering condong kepada dunia, tentu mereka tidak akan mengatakan demikian.”

Pujian tidak membuatnya mabuk, tetapi justru memperbanyak muhasabah. Ia bertanya kepada dirinya, “Apakah aku benar-benar seperti yang mereka katakan?” Jika jawabannya tidak, ia bersyukur kepada Allah karena telah menutupi aib-aibnya sehingga manusia hanya melihat kebaikannya.

Namun apabila ia memang diberi oleh Allah sebagian sifat yang dipuji itu, ia tetap tidak membanggakan dirinya. Ia sadar bahwa semua itu hanyalah taufik dari Allah. Tanpa pertolongan-Nya yang menjauhkannya dari maksiat dan mencondongkannya kepada ketaatan, ia tidak akan mampu memiliki sedikit pun sifat terpuji tersebut. Karena itu, pujian tidak membuatnya semakin kagum kepada dirinya, tetapi justru semakin mengenal karunia Allah dan semakin merasa malu di hadapan-Nya.

Semoga kita semua senantiasa dibimbing oleh Allah dapat melihat aib-aib diri kita dan senantiasa berbenar untuk mendekatkan diri kepada-Nya. Aamiin.

 

*) Penulis adalah Ahmad Rifqi Azmi Dosen Unugiri, Ketua Satgas Aswaja PCNU Bojonegoro dan juga Mukharir LBM PCNU Bojonegoro

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *