Khidmah NU, Ratusan Santri Tak Kenal Lelah Jaga Kebersihan di Arena Muktamar Tambakberas

Santri khidmah membersihkan arena Muktamar NU ke-35
Santri relawan membersihkan area Muktamar ke-35 NU di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang.

JagatSembilan.com | Jombang – Di tengah riuhnya pelaksanaan Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang, ratusan santri memilih mengambil peran yang mungkin tidak banyak terlihat. Mereka berjibaku menjaga kebersihan arena muktamar, dari pagi hingga malam, sebagai bagian dari ikhtiar mengabdi atau berkhidmah kepada NU.

Bagi para santri tersebut, khidmah tidak selalu harus berada di ruang persidangan atau berada di tengah forum-forum penting muktamar. Menyapu, mengumpulkan sampah, membersihkan tempat yang telah digunakan para muktamirin, hingga memastikan lingkungan tetap nyaman juga menjadi bagian dari pengabdian.

Pantauan pada Rabu (26/8/2026) malam menunjukkan sejumlah santri masih sibuk menjalankan tugasnya ketika berbagai rangkaian kegiatan muktamar berlangsung. Mereka menyusuri sejumlah titik di arena muktamar, membersihkan area yang digunakan peserta serta mengumpulkan sampah yang berserakan.

Di antara para relawan itu terdapat Rizal dan Abimanyu. Keduanya merupakan santri dari Ribath Al Mardliyah Putra yang turut menjadi bagian dari relawan kebersihan selama Muktamar ke-35 NU.

Rizal mengatakan, tugas kebersihan yang mereka jalankan pada malam hari dimulai sekitar pukul 20.00 hingga 22.00 WIB.

“Kami mulai jam delapan sampai jam sepuluh malam,” kata Rizal.

Namun, khidmah para santri tersebut tidak berhenti pada malam hari. Abimanyu menjelaskan, para relawan bekerja secara bergantian sehingga kebersihan arena muktamar tetap terjaga sepanjang kegiatan berlangsung.

“Pagi bersih-bersih, siang juga, malam juga,” ujarnya.

Tugas tersebut mencakup berbagai area yang menjadi bagian dari pelaksanaan muktamar. Tidak hanya membersihkan lokasi yang terlihat kotor, para relawan juga kembali membersihkan tempat-tempat yang telah digunakan untuk kegiatan agar dapat dipakai kembali dengan nyaman.

Rutinitas itu tentu menguras tenaga. Berjam-jam berada di arena muktamar, bergerak dari satu titik ke titik lainnya, dan terus memastikan lingkungan tetap bersih menjadi pekerjaan yang tidak ringan.

Namun, bagi Rizal, rasa lelah itu tidak mengurangi kebahagiaannya. Justru kesempatan untuk ikut membantu pelaksanaan agenda besar NU menjadi pengalaman yang ia syukuri.

“Senang bisa ikut berkhidmat,” kata Rizal.

Hal serupa dirasakan Abimanyu. Ia mengakui tugas tersebut cukup melelahkan karena dilakukan secara rutin sejak pagi hingga malam. Namun, rasa lelah itu seakan terbayar karena mereka dapat mengambil bagian dalam muktamar dan membantu para muktamirin.

“Capek, tapi senang,” ujarnya sambil tersenyum.

Bagi para santri, menjaga kebersihan arena muktamar menjadi bentuk khidmah yang sederhana, tetapi sarat makna. Mereka tidak tampil di panggung utama, tidak terlibat dalam persidangan, dan tidak menjadi pusat perhatian. Mereka justru memilih berada di belakang layar, memastikan tempat para muktamirin beraktivitas tetap bersih dan nyaman.

Semangat tersebut menunjukkan bahwa khidmah kepada NU dapat diwujudkan melalui berbagai bentuk pengabdian. Bagi para santri relawan, kesempatan untuk bekerja, menahan lelah, dan membantu kelancaran Muktamar ke-35 NU menjadi bagian dari ikhtiar mencari keberkahan melalui pengabdian.

Di tengah momentum besar organisasi Nahdlatul Ulama, mereka seolah mengingatkan bahwa setiap bentuk khidmah memiliki nilai. Bahkan pekerjaan yang tampak sederhana seperti membersihkan sampah pun dapat menjadi jalan bagi seorang santri untuk turut menjaga marwah, kenyamanan, dan kelancaran sebuah perhelatan besar NU.(Red)

Source: tambaberas.id

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *