Oleh: H.M. Hasan Bisri
Kesederhanaan almarhum KH. Safarun, Wakil Rais Syuriah MWCNU Kedungadem, meninggalkan kesan mendalam bagi siapa pun yang pernah berjumpa dengannya. Salah satu kisah yang kerap dikenang warga Nahdliyin adalah pengalaman seorang santri bernama Tofa, yang tanpa sadar justru berhadapan langsung dengan sosok kiai yang dicarinya.
Kala itu, Tofa menempuh perjalanan cukup jauh dengan sepeda motor hingga tiba di Desa Megale, Kecamatan Kedungadem, Bojonegoro. Setelah bertanya ke sana kemari, ia akhirnya berhenti di depan sebuah rumah sederhana. Di halaman rumah tersebut, tampak seorang pria paruh baya bertubuh kurus kecil, mengenakan celana komprang, bertelanjang dada, tengah membelah kayu bakar. Bunyi “pruk… pruk… pruk” memecah suasana siang itu.
Dengan penuh sopan, Tofa menyapa.
“Nyuwun sewu, pundi daleme Yai Safarun?”
Pria itu menjawab singkat sambil tetap bekerja.
“Iki omahe, mlebu kunu.”
Tofa pun masuk dan menunggu di ruang tamu. Tak lama kemudian, pria paruh baya tersebut masuk ke dalam rumah. Tofa kembali bertanya, berharap segera bertemu sang kiai.
“Saget kepanggih Yai Safarun?”
“Enteni disik, tak timbalano,” jawab pria itu.
Dengan perasaan harap-harap cemas, Tofa menunggu. Beberapa saat berselang, pria yang sama keluar menuju ruang tamu, kini mengenakan baju dan sarung lusuh. Tanpa curiga, Tofa kembali bertanya.
“Nyuwun sewu, Pak Yai Safarun pundi geh?”
Jawaban itu justru membuatnya terdiam.
“Aku Safarun. Enten nopo?”
Seketika, Tofa tertunduk malu sambil menggaruk kepala. Ia tak menyangka, sosok sederhana yang sejak tadi ditemuinya adalah kiai besar yang hendak ia cari.
“Ngapunten nggih, mboten ngertos nek panjenengan Yai Safarun,” ucap Tofa lirih.
Dengan senyum tenang khasnya, KH. Safarun menjawab ringan.
“Iyo gak opo-opo. Enek opo, cung?”
Masih setengah tak percaya, Tofa menyampaikan maksud kedatangannya, memohon waktu agar KH. Safarun berkenan mengisi pengajian di Desa Jumput, Kecamatan Sukosewu.
Tanpa banyak pertimbangan, jawaban yang keluar begitu sederhana.
“Insyaallah iso.”
Kisah tersebut menjadi gambaran nyata sosok KH. Safarun: seorang kiai yang tak pernah menampakkan jarak dengan umatnya, hidup bersahaja, dan selalu membuka pintu untuk dakwah serta khidmah. Kesederhanaan itulah yang kini dikenang, seiring kepergian beliau untuk selama-lamanya.
*) Penulis adalah H.M. Hasan Bisri Ketua PP GP Ansor yang juga Sekretaris FKUB Bojonegoro.














